Sebuah Rasa

Sebuah Rasa
Keputusan leon part 2


__ADS_3

Setelah santi tenang, leon mengajak santi untuk masuk ke dalam rumahnya. Sedangkan alesia leon suruh untuk sementara berdiam di dalam kamar dengan bi inah dan mbak sari yang menemaninya. Dan pingkan, wanita itu terus berada di samping santi seolah ingin tau apa yang ingin di katakan leon pada santi.


Leon menatap datar pada pingkan yang ber akting paling perduli pada santi saat ini. Pingkan terus mengusap bahu santi dan duduk di sampingnya.


“Maaf sebelumnya pingkan. Ini urusan keluarga saya, mending kamu pulang saja.”


Pingkan menelan ludahnya. Leon bersikap dingin kali ini meskipun di depan santi. Pingkan menoleh pada santi berharap santi melarang leon mengusirnya.


“Ah iyah.. Maaf leon. Tadi aku khawatir sama tante jadi aku anterin tante sampai sini..” Balas pingkan kikuk.


“Ya udah kalau begitu aku pulang yah.. Tante aku pulang dulu..”


Santi hanya diam saat pingkan berpamitan padanya. Santi bahkan sama sekali tidak mencegah saat pingkan bangkit dari sofa yang sama denganya.


Tante.. Ayo dong cegah aku...


Pingkan tidak langsung berlalu. Pingkan sangat berharap santi mencegahnya pergi dan menyuruhnya untuk tetap tinggal. Karna pingkan sangat ingin tau apa yang akan di bicarakan oleh leon juga santi.


“Pingkan..”


Bagai dayung bersambut pingkan sangat senang mendengar suara santi menyebut namanya.


“Nggak papa tante.. Aku pulang aja. Lagian mungkin ada yang akan leon bicarakan penting sama tante. Nggak baik kalau aku tau. Kan aku orang luar.” Senyum pingkan pura pura baik di depan santi juga leon.


Leon melengos mendengarnya. Leon tau pingkan hanya sedang berusaha menarik simpati santi.


Santi tersenyum tipis.


“Tante mau ngucapin terimakasih karna kamu sudah mau nganterin tante sampe sini. Dan terimakasih juga untuk pengertianya. Kamu hati hati pulangnya.”


Senyum di bibir pingkan langsung pudar mendengar apa yang di katakan santi. Padahal pingkan sudah besar kepala menganggap santi akan mencegah dan menyuruhnya tetap tinggal.


“Kamu wanita yang baik.” Lanjut santi.


“Ah ya tante.. Aku permisi pulang dulu.”

__ADS_1


Pingkan melirik leon yang membuang muka.


“Leon.. Aku pulang yah..” Senyumnya berpamitan.


“Ya.” Balas leon malas.


Pingkan berlalu setelah itu. Dengan menahan rasa kesalnya pingkan keluar dari rumah leon dan alesia.


Dasar tante tidak tau diri. Sudah di tolongin malah ngusir. Awas aja. Aku balas nanti.


“Tante..” Panggil leon lirih.


Santi melengos. Santi benar benar merasa sangat sakit juga kecewa. Leon satu satunya keluarganya yang tersisa. Leon keponakan satu satunya yang sangat santi sayangi dari kecil.


“Aku minta maaf kalau apa yang aku lakukan menyakiti tante. Tapi tante.. Keputusan aku sudah bulat. Aku hanya ingin membuat alesia bahagia. Itu saja.”


“Lalu bagaimana dengan tante? Kamu nggak perduli tante bahagia atau tidak?” Tanya santi menyela.


Leon menggelengkan kepalanya.


“Mungkin sekarang hati kamu buta leon. Karna kamu tidak bisa mengingat masa masa dulu tante berjuang untuk kamu..”


Tante salah.. Aku ingat semuanya tante.


“Ternyata hilangnya separuh ingatan kamu membuat kamu berubah yah leon. Kamu lebih memilih wanita itu dari pada tante.” Lanjut santi tersenyum miris.


“Tante.. Alesia istri aku. Sudah seharusnya bukan aku membuatnya bahagia, memberikan tempat yang nyaman untuknya.”


“Ternyata kamu egois ya leon.. Tante baru tau.”


Leon menelan ludahnya. Selama ini leon memang merasa egois. Dan leon selalu bersikap egois pada alesia. Leon selalu ingin alesia mengerti. Tapi leon sendiri tidak pernah bisa mengerti alesia. Leon selalu menuntut alesia untuk terus bertahan di kediaman sanjaya dengan segala tekanan dari santi.


“Tante mau bilang aku egois itu terserah tante. Tapi keputusan aku tidak bisa di ganggu gugat. Aku seorang suami tante. Aku harus tegas demi kebahagiaan istri aku.”


Santi tertawa mendengarnya.

__ADS_1


“Jadi maksud kamu alesia nggak pernah bahagia hidup di dalam rumah kita?” Tanya santi menatap leon.


“Kamu bisa berpikir sampai situ leon. Tapi kenapa kamu tidak pernah bisa memikirkan tante? Kamu menikah dengan wanita seperti alesia itu sudah membuat tante merasa khawatir. Dan kamu tau? Karna ke khawatiran itu tante nggak bisa merasakan bahagia. Alesia bukan wanita baik baik. Asal kamu tau.” Lanjut santi dengan nada marah.


Leon tersenyum merasa lucu dengan apa yang di katakan santi. Santi selalu mempunyai alasan untuk membenci istrinya.


“Lalu bagaimana wanita yang baik menurut tante? Apa seperti pingkan? Apa wanita yang mendekati seorang pria ber istri itu wanita baik baik?”


Santi menelan ludahnya. Kedua matanya terasa panas kembali. Rasa perih juga santi rasakan di sekitar kelopak matanya karna terlalu kasar mengusap air matanya tadi saat menangis.


“Tante.. Kenapa tante nggak pernah sedikitpun mau membuka mata dan melihat kebaikan alesia? Tante marah saat aku tidak mengakui anak dalam kandungan alesia. Tante juga mengajak alesia keluar dari rumah. Tante bahkan mengajak alesia tinggal di rumah tante. Tapi kenapa tante nggak bisa menerima alesia sebagai istri aku sekarang?”


Susah payah santi menahan tangisnya. Saat itu santi memang merasa sakit juga tidak tega pada alesia. Dan santi mengakui itu. Di samping itu santi juga mengingat bagaimana sakitnya saat anak dalam kandunganya tidak di akui bramono hingga akhirnya santi keguguran.


“Kamu memang bukan lagi leon keponakanku.” Kata santi kemudian bangkit dari sofa dan berlari keluar dengan menangis dari rumah leon dan alesia.


Leon berdecak. Leon mengusap kasar wajah tampanya merasa sangat frustasi. Meyakinkan santi memang tidak mudah. Santi bahkan tidak bisa luluh meskipun leon masih pura pura lupa ingatan.


Maaf tante.. Leon sayang sama tante..


Alesia mengerjapkan beberapa kali kedua matanya. Wanita itu melenguh kemudian membuka lebar kedua matanya. Sedetik kemudian kedua mata alesia melebar. Alesia teringat pada santi yang datang dengan marah marah dan berteriak memanggil leon.


Tante.. Ya tuhan...


Saat hendak bangkit alesia merasakan sesuatu yang berat di bawah dada dan atas perutnya. Alesia mengangkat kepalanya dan menemukan lengan kekar suaminya disana.


“Kakak..” Lirih alesia.


“Tetap seperti ini sayang.. 10 menit lagi. Beri aku waktu 10 menit untuk melanjutkan tidurku..” Kata leon dengan suara serak serta kedua mata terus terturup.


Alesia menurut. Alesia tau mungkin semalam leon kembali bertengkar dengan santi. Dan lagi lagi itu karnanya.


Alesia menghela nafas. Alesia sangat ingin keluar dari kamar semalam. Alesia ingin menjelaskan semuanya pada santi. Tapi kemudian alesia berpikir kembali. Alesia hanya akan memperkeruh keadaan jika keluar dan ikut menemui santi bersama leon. Alesia menunggu cukup lama hingga akhirnya alesia melihat pingkan yang keluar dengan mobilnya dari pekarangan luas rumahnya. Namun setelah itu alesia tidak lagi mengingat apa apa. Alesia kalap oleh rasa kantuknya.


Tante.. Sampai kapan tante akan terus membenciku..?

__ADS_1


__ADS_2