
Leon turun dari mobilnya dengan senyuman yang terukir di bibirnya. Rasa lelah, panat, juga amarah yang hinggap di hati dan pikiran leon langsung sirna seketika begitu membayangkan senyuman manis alesia saat menyambut kepulanganya saat ini.
“Tuan..”
Leon menoleh mendengar sapaan mbak sari. Leon tersenyum ramah pada asisten rumah tangganya kamudian menanyakan tentang alesia.
“Mana alesia?” Tanya leon.
“Nyonya ada di kamar tuan.” Jawab mbak sari mengangguk sopan.
Leon mengangkat sebelah alisnya. Tidak biasanya alesia berada di kamar padahal alesia tau leon akan pulang.
“Ya sudah. Terimakasih.”
Leon langsung melangkah cepat dan berlalu dari ruang tamu. Leon merasa khawatir dengan keadaan istrinya saat ini.
Setibanya di kamar leon mendapati alesia yang berbaring miring dengan posisi memunggunginya. Merasa khawatir leon pun langsung mendekat.
“Alesia..” Panggilnya sembari mendudukan diri di tepi ranjang.
Alesia menoleh. Alesia tersenyum lemah menatap suaminya.
“Kak..”
Kedua mata leon membulat melihat wajah cantik istrinya yang begitu pucat. Keringat dingin juga membasahi kening istrinya saat itu.
“Ya tuhan.. Alesia kamu kenapa?” Tanya leon panik.
Alesia meringis. Kedua tanganya memeluk perutnya yang terasa sangat sakit.
“Sakit kak.. Perut aku sakit banget..” Rintih alesia.
Leon langsung kebingungan. Pria itu mencoba menyingkirkan tangan alesia dan menyentuh lembut perut alesia.
“Kenapa bisa sakit? Memangnya kamu makan apa tadi?”
Alesia meneteskan air matanya. Alesia tidak pernah berbohong pada suaminya. Tapi sekarang alesia sedang berbohong.
Kakak.. Sakitnya bukan karna makanan.. Tapi karna guncangan saat naik motor bersama rico tadi..
“Jangan menangis sayang.. Tahan yah.. Aku telpon dokter sekarang.”
Alesia hanya bisa mengangguk. Alesia tidak mampu melontarkan langsung kebohonganya pada leon.
Kak.. Maafin aku..
Tidak lama setelah leon menelpon, dokter lena pun datang. Dokter lena langsung memeriksa keadaan alesia yang terus berbaring dan mengeluhkan sakit pada perutnya.
“Bagaimana dokter?” Tanya leon khawatir.
__ADS_1
Dokter lena menghela nafas. Dokter cantik itu menatap sekali lagi pada alesia sebelum menatap leon yang sedang khawatir.
“Rasa sakit yang di rasakan nyonya alesia itu karna guncangan yang cukup kuat tuan.”
Leon menautkan kedua alisnya.
“Maksud dokter?” Tanyanya tidak mengerti.
“Maaf sebelumnya tuan, tapi usahan untuk lebih pelan saat melakukanya. Hal itu sangat berbahaya untuk janin dalam kandungan nyonya alesia.”
Leon semakin tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh dokter lena.
“Kalau begitu saya permisi tuan. Nyonya, Semoga lekas sembuh.” Senyum dokter lena pada leon kemudian menoleh pada alesia sebelum berlalu keluar dari kamar alesia dan leon.
Sedang leon, pria itu masih bertanya tanya. Leon benar benar tidak faham dengan ucapan dokter lena.
“Kak...” Panggil alesia pelan.
Leon langsung menoleh. Leon kembali mendudukan dirinya di tepi ranjang tepatnya di samping alesia yang berbaring terlentang.
“Apa maksud dokter lena tadi?” Tanya leon polos.
Alesia tertawa pelan. Rasa sakit di perutnya sudah sedikit mereda. Alesia akan mengatakanya tentang pertemuanya dengan rico tapi nanti tidak sekarang.
“Kak tadi aku keluar sebentar. Terus pulangnya naik motor. Mungkin karna guncangan saat menaiki motor makanya perut aku sakit. Mungkin itu yang di maksud dokter lena.” Jawab alesia.
Leon mengangkat sebelah alisnya.
Alesia menelan ludahnya. Jika alesia mengatakan naik ojeg kebohonganya akan bertambah. Dan alesia akan sulit menjelaskanya nanti.
“Eemm..”
“Memangnya nggak ada taxi apa sampai harus naik ojeg?”
Alesia menghela nafas lega. Mungkin pengertian leon tentang naik motor adalah alesia menaiki ojeg.
“Kamu kok marah marah sih. Kan aku lagi sakit..”
Alesia mengerucutkan bibirnya merajuk mendengar nada bicara kesal leon.
Leon menghela nafas.
“Aku nggak marah.. Justru aku khawatir sama kamu. Jangan di ulangi lagi yah. Bahaya tau nggak.”
Alesia menganggukan kepalanya menjawab. Senyum manisnya terukir begitu manis di bibirnya. Alesia kemudian merentangkan kedua tanganya dengan tatapan manja pada leon.
“Peluk aku..” Rengeknya.
“Kita makan siang dulu yah..” Bujuk leon pada alesia.
__ADS_1
Alesia menggelengkan kepala dengan bibir mengerucut.
“Nggak mau.. Aku mau peluk..”
”Terus makan siangnya?” Tanya leon masih tetap berdiri di tempatnya.
“Makanya bisa nanti kak.. Aku kangen kamu..”
Leon tertawa pelan. Pria itu langsung menuruti keinginan istrinya dengan naik ke atas ranjang dan berbaring di samping alesia. Leon memeluk mesra tubuh istrinya. Tanganya yang bebas mengusap usap lembut perut alesia penuh kasih sayang.
“Jangan lagi lagi yah.. Aku takut kamu dan anak kita kenapa napa.” Bisiknya.
“Iyah..” Balas alesia menganggukan kepala dan tersenyum sambil menghirup aroma maskulin suaminya.
Maafin aku kak.. Aku nggak bermaksud untuk bohong sama kamu.. Tapi aku belum bisa kasih tau kamu sekarang.
Santi menatap hidangan makan siang di depanya. Sudah lebih dari sebulan santi selalu melakukan aktivitasnya seorang diri. Bosan, jenuh juga santi rasakan. Tidak ada lagi yang membuat santi marah marah. Tapi itu justru membuat santi merasa ada yang kurang juga hilang.
Santi menghela nafas. Di lepaskanya sendok dan garpu yang di pegangnya. ***** makanya hilang seketika saat rasa sepi dan sendiri itu hinggap di hatinya.
Leon...
Santi memejamkan kedua matanya. Leon berkali kali menelponya. Leon juga berkali kali datang hendak menemuinya namun santi enggan untuk menemuinya. Santi masih merasa kecewa dengan keputusan leon yang meninggalkanya sendiri di kediaman sanjaya. Leon lebih memilih alesia ketimbang dirinya.
Bagaimana kehamilanya sekarang? Bagaimana ngidamnya? Apa leon bisa menurutinya dengan baik?
Santi tidak bisa memungkiri. Santi merasa khawatir juga pada kehamilan alesia.
“Nggak santi. Kamu khawatir pada anak dalam kandunganya. Bukan pada alesia.” Gumam santi menggelengkan kepalanya.
Santi enggan mengakui keperdulianya pada alesia. Semua itu karna kebencianya pada alesia. Juga karna ketidak sukaanya dengan profesi yang pernah di lakoni alesia.
“Oke, berhenti memikirkan yang tidak penting. Belum tentu juga mereka memikirkan kamu santi. Fokus sama diri kamu sendiri.” Gumam santi menghela nafas sekali lagi.
Santi menatap semua hidangan lezat di depanya. Wanita itu merasa tidak akan mungkin bisa menghabiskan semuanya sendiri. Jangankan menghabiskanya. Mencicipinya satu persatu hidangan itu juga rasanya tidak mungkin bisa.
“Udah tau aku sendiri masih saja banyak begini masaknya.”
Santi kemudian berseru memanggil asisten rumah tangganya.
“Saya nyonya.” Angguk seorang asisten rumah tangganya yang masih terlihat muda.
“Mana bi inah?” Tanya santi pada asisten rumah tangga bernama ani tersebut.
“Bi inah lagi bersihin kamar mandi nyonya.” Jawab ani pelan.
Santi berdecak.
“Suruh dia menghadap saya kalau sudah selesai.” Katanya.
__ADS_1
“Baik nyonya.” Angguk ani lagi.
Santi kemudian bangkit dari duduknya. Perutnya sudah terasa kenyang hanya dengan melihat hidangan di atas meja. Santi benar benar malas dan tidak berselera lagi untuk menyantap makan siangnya.