
Saat makan malam tiba santi menolak untuk keluar dari kamarnya. Wanita itu merasa sangat kesal karna leon malah membela alesia bukan dirinya. Meskipun beberapa kali bi inah memanggil namun santi tetep kukuh tidak mau keluar dan terus mengunci kamarnya dari dalam.
Tok tok tok
“Tante, buka pintunya tante..”
Santi menoleh ke arah pintu saat mendengar suara leon. Santi menghela nafas kesal kemudian membaringkan tubuhnya di atas ranjang enggan membuka pintu kamarnya meskipun leon yang datang untuk memanggilnya makan malam bersama.
“Leon minta maaf tante... Leon ngaku salah.. Sekarang tante buka pintunya. Tante harus makan.”
“Dasar bocah. Dia kira aku bisa dengan gampang di rayu apa?” Gumam santi sambil memainkan hp nya.
Ketukan pintu tidak lagi terdengar, suara leon membujuknya juga sudah tidak lagi terdengar. Dan santi tersenyum sinis karna hal itu.
“Jangan merasa menang kamu alesia. Mungkin sekarang leon berpihak pada kamu. Tapi nanti setelah leon tau hubungan kamu dengan rico leon pasti akan menendangmu dari rumah ini.” Gumam santi.
Senentara di depan pintu kamar santi leon dan alesia terdiam. Santi tidak pernah seperti itu sebelumnya. Dan mungkin itu karna leon yang tidak pernah melawan santi demi alesia.
“Kak..”
“Kita pindah saja bagaimana?” Tanya leon pelan.
Alesia terkejut mendengarnya. Alesia tidak pernah sekalipun terpikirkan jika leon akan mengajaknya keluar dari rumah itu. Memang alesia sangat menginginkanya. Tapi tidak dengan keadaan yang sedang tidak bagus seperti sekarang.
“Kak tapi tante..”
“Kita tempati rumah yang dulu kata kamu aku beli buat kado pernikahan kita..” Sela leon.
Leon mengatakan itu dengan terus menatap pintu kamar santi. Seharusnya sudah dari dulu leon melakukanya. Rumah yang nyaman adalah syurga bagi seorang istri. Dan sebagai seorang suami sudah kewajiban bagi leon untuk memberikan kenyamanan pada istrinya.
“Tapi tante..”
__ADS_1
“Tante sudah bukan anak kecil.. Disini juga ada bi inah dan yang lainya. Tante pasti akan baik baik saja.” Sela leon lagi.
Alesia menelan ludahnya. Santi sedang marah padanya dan leon. Tapi bukanya membujuk leon malah mengajak alesia pindah dari rumah itu.
“Setelah makan malam, kamu bersiap ya. Kita pindah malam ini juga.”
Leon berlalu setelah berkata. Pria tampan itu berjalan pelan meninggalkan alesia dan berlalu dari depan pintu kamar santi yang terus tertutup rapat.
Apa yang kamu lakukan sudah benar leon. Jangan goyah.
Leon bukan anak kecil yang mengambek karna apa yang santi katakan pada istrinya. Leon hanya sedang berusaha menghindar dari bramono yang sewaktu waktu pasti bisa saja datang. Bramono pasti akan membuat alesia curiga pada leon.
Saat makan malam berlangsung alesia dan leon sama sama diam. Mereka berdua tidak ada yang berniat membuka pembicaraan lebih dulu. Terlebih alesia yang terus merasa bersalah. Jika saja alesia tidak menuntut santi menjawab pertanyaanya mungkin santi dan leon tidak akan berdebat. Dan leon juga pasti tidak akan tiba tiba mengajaknya pergi dari rumah itu.
Alesia apa yang kamu pikirkan? Bukankah ini yang kamu mau? Seharusnya kamu senang kak leon mengajak kamu pindah.
Alesia memejamkan kedua matanya sesaat. Tinggal terpisah dengan santi adalah keinginan terbesarnya. Selain karna dirinya tidak akan tertekan, alesia juga tidak akan terus merasa di campuri urusan rumah tangganya dengan leon oleh santi.
“Udah siap?”
Lamunan alesia buyar saat mendengar pertanyaan leon. Ya, alesia memang langsung naik ke lantai 2 dan masuk ke kamarnya begitu selesai makan malam.
“Kak tapi...”
Suara alesia bergetar dengan pipi chuby nya yang sudah basah oleh air mata. Entah kenapa alesia merasa sedih. Padahal seharusnya alesia senang karna akhirnya leon mau menuruti kemauanya selama ini.
Leon menghela nafas. Leon tau bagaimana istrinya. Meskipun memang alesia selalu terlihat tegar tetapi alesia tetap saja wanita yang mempunyai perasaan yang begitu lembut.
“Jangan menangis.. Bukanya kamu sendiri yang bilang aku tidak pernah mau pindah? Sekarang aku mau ale..” Lirih leon sambil menangkup kedua pipi chuby basah alesia.
Air mata alesia semakin deras menetes. Alesia memang sangat menginginkan hal itu. Tapi entah kenapa saat ini dirinya sangat tidak tega meninggalkan santi sendiri.
__ADS_1
“Kak aku...”
Alesia tidak bisa mengutarakan apa yang ada di hatinya saat ini. Hatinya terasa sangat sesak seakarang.
“Ayo..” Ajak leon tersenyum lembut.
“Bagaimana dengan tante kak?” Tanya alesia lirih.
Leon menahan nafasnya sejenak. Pria itu kemudian menatap penuh perhatian pada istri tercintanya.
“Ale.. Untuk saat ini tolong pikirkan dirimu sendiri. Pikirkan juga anak kita.. Jangan memikirkan hal lain.” Katanya.
Alesia diam. Jika mereka keluar dari rumah itu dengan kondisi hubungan leon dan santi baik baik saja mungkin alesia bisa tenang. Tapi sekarang hubungan leon dan santi sedang tidak baik baik saja. Dan itu terjadi karna leon yang membelanya tadi sore.
“Kak..”
“Aku lakukan ini demi kamu dan anak kita..” Sela leon pelan.
Alesia tau dan alesia mengerti leon sedang membelanya juga memberikan yang terbaik untuknya. Tapi jika alesia dan leon pergi sekarang santi pasti akan bertambah marah dan menganggap alesia mempengaruhi leon untuk meninggalkan santi sendiri.
“Kak.. Kalau kita pergi dalam keadaan seperti ini tante pasti akan semakin membenci aku.. Tante akan ngira aku mempengaruhi kamu..” Tangis alesia lagi.
Tidak tega melihat istrinya yang begitu sedih, leon pun segera mendekap lembut tubuh bergetar istrinya. Beberapa kali leon mengecup puncak kepala alesia. Alesia sudah cukup menderita karna terus terusan di musuhi oleh santi. Sebenarnya leon juga tidak ingin meninggalkan santi sendiri. Tapi hanya itu cara satu satunya agar alesia tenang juga kebohonganya tidak akan terbongkar.
“Aku bukan anak kecil yang bisa di pengaruhi. Entah itu oleh kamu atau siapapun. Dan tante tau itu. Jadi kamu nggak perlu mengkhawatirkan apapun. Kita pergi sekarang yah..”
Alesia memejamkan kedua matanya. Mungkin untuk saat ini memang yang paling baik baginya adalah mengikuti kemanapun leon membawanya pergi. Toh, apapun yang alesia lakukan tidak akan di pandang baik oleh santi.
“Bagaimana dengan baju baju kita?” Tanya alesia dalam dekapan hangat leon.
“Untuk itu besok aku yang urus. Sekarang kita pergi dulu. Kita tempatin rumah impian kita.” Jawab leon tersenyum sambil mengusap usap lembut punggung alesia.
__ADS_1
Rumah impian kita?