Sebuah Rasa

Sebuah Rasa
Pulang terlambat


__ADS_3

Alesia mondar mandir di teras depan rumahnya. Jam makan malam sudah lewat 1 jam yang lalu tapi suaminya belum juga pulang. Alesia sudah beberapa kali mencoba menghubungi leon tapi nomornya tidak pernah aktif sejak siang tadi.


“Kak leon kemana sih? Bikin orang khawatir aja.”


Alesia menolehkan kepalanya ke arah gerbang berharap mobil leon muncul disana. Namun disana hanya ada pak satpam yang sedang mengobrol dengan satpam penjaga kompleks yang mereka tampati.


“Ya tuhan kak leon.. Padahal nggak biasanya jam segini belum pulang..”


Alesia benar benar tidak bisa tenang. Alesia takut sesuatu yang buruk kembali terjadi pada suaminya.


Alesia berhenti mondar mandir. Pikiranya kembali pada cerita santi tentang leon yang kerampokan. Sampai saat ini alesia belum mengetahui apa yang sebenarnya menimpa leon. Alesia tidak yakin jika yang di alami leon adalah sebuah kerampokan. Dan alesia yakin bahwa peristiwa yang di alami suaminya sudah di rencanakan.


“Tapi siapa?”


Alesia menghela napas.


“Aku harus cari tau.”


Alesia kemudian merogoh saku dressnya. Ketika itu juga hp nya berdering. Alesia segera meraihnya.


“Rico?”


Penasaran karna tiba tiba rico menghubunginya alesia pun segera mengangkatnya.


“Halo..”


“Ya al.. Halo.. Kamu apa kabar?”


Alesia menghela napas lagi. Rico menghilang beberapa hari ini tanpa kabar dan itu sukses membuat santi seperti orang bodoh.


“Kamu dimana rico? Sudah balik ke jakarta?”


Rico tertawa di seberang telpon.


“Pasti tante santi ya.”


Di seberang telpon rico menghela napas. Helaan napas yang begitu berat.


“Aku sudah di jakarta al. Aku juga sudah menelpon tante santi tadi. Maaf ya. Kamu pasti jadi sasaran tante ya gara gara aku..”


“Eemm.. Al tentang hadiahnya apa sudah kamu terima?”

__ADS_1


Alesia mengangkat sebelah alisnya.


“Hadiah? Hadiah apa?” Tanya balik alesia penasaran.


“Paket dengan nama kamu. Itu dari aku.”


Alesia terkejut mendengarnya. Benar benar di luar dugaan. Ternyata rico yang mengirim paket misterius itu padanya.


“Co, maksud kamu apa sih ngirim paket atas nama aku? Bikin orang bingung tau nggak?”


Alesia merasa sangat kesal. Rico sudah membuatnya takut. Rico juga sudah membuat leon bingung. Dan alesia yakin jika leon tau leon pasti akan sangat marah pada rico. Dan bukan tidak mungkin juga leon akan mendatangi rico untuk melampiaskan kemarahanya.


“Maaf.. Aku tidak bermaksud seperti itu.. Aku hanya ingin memberikan sesuatu untuk kamu al.. Dan kalau nama pengirimnya aku pak leon pasti akan menolak bahkan mungkin akan menyuruh kamu untuk membuangnya.”


Alesia berdecak.


“Atas dasar apa kamu mempunyai pikiran begitu buruk pada suamiku?”


Rico tidak menjawab. Rico tau apa yang di lakukanya memang salah.


“Asal kamu tau rico, suamiku tidak seperti yang kamu bayangkan. Suamiku orang yang baik.”


Tintiiiinnn


Suara klakson mobil dari arah gerbang membuat perhatian alesia teralih. Alesia menghela napas lega ketika mendapati mobil suaminya mulai memasuki pekarangan luas rumahnya begitu pak satpam membuka gerbang.


Leon menghentikan mobilnya tepat di depan taman kecil teras rumahnya. Pria tampan itu tidak langsung turun dari mobilnya. Petunjuk tentang siapa ayah kandung alesia membuat leon bingung juga terus bertanya tanya. Namun di sisi lain leon juga merasa lega karna bukan bramono yang melakukan itu pada ibu le. Itu artinya besar kemungkinan bukan bramono ayah kandung alesia.


Leon menghela napas.


Aku harus bisa menyembunyikan semua ini. Aku tidak mau alesia sedih. Semuanya harus benar benar jelas agar begitu alesia tau dia bisa dengan mudah memahaminya.


Leon turun dari mobilnya. Senyumnya mengembang menatap alesia yang berdiri di depan teras rumahnya.


“Kakak..”


Alesia langsung berlari dan berhambur memeluk leon yang terkejut dengan tingkah tidak biasa alesia.


“Ale..Kamu..”


“Kamu kemana aja sih? Di telpon nggak bisa dari tadi siang?”

__ADS_1


Leon tersenyum mendengar pertanyaan istrinya. Leon memang sengaja mematikan hp nya agar leon tidak lagi mengucap kebohongan dari mulutnya. Leon sudah banyak berbohong pada istrinya. Dan leon merasa sangat berdosa.


“Kamu bikin aku khawatir tau nggak?”


Leon membalas lembut pelukan alesia. Di usapnya lembut punggung alesia. Leon juga mengecup lembut bahu terbuka alesia penuh sayang.


“Maaf.. Aku sedikit sibuk hari ini..” Senyumnya.


Leon tidak bohong kali ini. Dirinya memang sangat sibuk. Meskipun bukan sibuk dalam pekerjaan tapi sibuk mencari tau sendiri informasi tentang masa lalu ibu le yang menyeret nama bramono. Mantan suami santi.


Alesia melepaskan pelukanya. Di tatapnya sendu wajah tampan leon yang terus tersenyum menatapnya.


“Kamu makan apa tadi siang?” Tanyanya.


Leon terdiam. Leon benar benar mengabaikan semua rasanya termasuk rasa laparnya siang tadi. Dan semua itu karna rasa tidak sabar leon yang ingin tau dan mendengar sendiri apa yang terjadi pada ibu le dan bramono di masa lalu.


“Aku nggak sempet makan siang tadi. Makanya sekarang aku laper banget..” Jawab leon.


“Ya ampun kak.. Sampai segitunya kamu kerja. Aku udah bersyukur banget dengan semua ini. Jangan terlalu memaksakan diri demi uang..”


Leon hanya bisa tertawa. Leon sudah memiliki banyak uang. Dan leon bukan orang bodoh yang mau di perbudak oleh uang sampai mengabaikan makan siangnya.


“Ya udah.. Aku udah laper banget nih.. Yuk makan? Mbak masak apa?”


Leon mengalihkan pembicaraan dengan mengajak alesia untuk segera makan. Dan semua itu leon lakukan agar bibirnya tidak lagi melontarkan kebohongan pada istrinya.


“Aku yang masak malam ini. Masih di bantuin mbak sih.”


“Wah.. Pasti enak banget nih masakan istri aku. Aku jadi pengen makan banyak malam ini.”


Alesia melingkarkan kedua tanganya di lengan kekar leon sembari mengajak suami tampanya itu untuk masuk ke dalam rumahnya.


----


Sementara itu rico tampak sendu menatap hp nya. Rico tau apa yang di katakanya tentang leon memang salah. Tapi rico punya alasan kuat. Leon memang tidak pernah menyukainya. Leon juga pasti akan menolak pemberianya dan menganggap rico mempunyai niat tersembunyi dengan hadiah itu.


Rico menghela napas kemudian meletakan hp nya. Demi bisa memberikan hadiah untuk alesia dan leon rico sampai menghabiskan uang tabunganya. Rico bahkan sampai mengurangi uang jatah bulanan untuk adik dan ibunya.


“Tuhan.. Hamba sudah sangat berdosa karna mementingkan perasaan hamba sendiri sampai mengabaikan tanggung jawab hamba sebagai seorang anak..”


Rico memejamkan kedua matanya. Air matanya menetes tanpa sadar. Adiknya sakit parah dan harus di rawat di rumah sakit selama beberapa hari karna kesalahanya. Andai rico tidak mengurangi uang transferan untuk ibunya di kampung mungkin demam adiknya tidak menjadi begitu parah. Mungkin ibunya bisa langsung membawa adiknya ke rumah sakit saat itu dan tidak perlu menunggu rico pulang.

__ADS_1


__ADS_2