
Alesia baru saja selesai membersihkan dirinya saat mendapati santi yang sedang menunggunya dengan duduk di tepi ranjang. Alesia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan suaminya yang tadi masih duduk di sofa seberang ranjang saat alesia hendak masuk ke dalam kamar mandi.
Ngapain tante disini? Dan mana kak leon?
Santi menoleh menatap alesia yang masih berdiri kebingungan di depan kamar mandi dengan rambut yang di gelung dengan handuk putih. Santi kemudian bangkit berdiri dan melipat kedua tanganya di depan dada dengan gaya angkuhnya.
Bagaimana cara aku mengatakanya?
“Ekhem. Alesia.”
Alesia mengangkat sebelah alisnya bingung. Jika santi sudah begitu pasti santi akan mengomelinya tanpa sebab dan alasan yang jelas.
Ya tuhan.. Kenapa selalu seperti ini?
“Eemm.. Begini, saya mau ngomong sama kamu. Tapi kamu jangan salah mengerti. Saya tidak ada maksud apa apa, apa lagi sampai mempunyai hubungan dengan rico.”
“Hah?”
Alesia melongo. Entah apa maksud santi sehingga tiba tiba menyinggung soal rico. Bahkan khawatir alesia akan mengira santi mempunyai hubungan dengan rico. Perkiraan yang sangat tidak mungkin singgah di pikiran alesia.
“Begini. Jadi saya tadi bertemu dengan..”
Ucapan santi menggantung. Wanita itu terdiam dengan ekspresi berpikirnya.
Apa yang ku lakukan? Untuk apa aku menjelaskanya pada alesia?
“Bertemu dengan siapa tante?” Tanya alesia yang mulai penasaran.
“Nggak, nggak papa. Bukan urusan kamu.”
Alesia memutar kedua bola matanya merasa jengah. Entah apa sebenarnya niat santi duduk di ranjangnya dan seperti sedang menunggunya.
__ADS_1
Dasar. Nyebelinya nggak pernah ilang.
Santi mengerjapkan beberapa kali kedua matanya. Santi bingung harus mengatakan apa pada alesia sekarang. Santi membutuhkan bantuan rico untuk membohongi bramono. Itu artinya santi harus bisa berkomunikasi dengan rico. Tapi jika santi meminta nomor rico secara langsung pada alesia, alesia pasti akan salah faham. Bahkan mungkin alesia akan berpikir yang tidak tidak tentangnya.
“Tante.. Tante mau ngomong apa sih sebenarnya?”
Santi menghela nafas. Demi membuat bramono tidak lagi mengganggunya santi bahkan bersikap seperti orang bodoh di depan alesia.
“Nggak. Nggak papa. Saya nggak mau ngomong apa apa.” Jawabnya dengan angkuh.
Alesia menahan nafas sejenak. Kesal sekarang alesia rasakan. Tadi santi seperti orang yang kebingungan. Tapi sekarang santi kembali bersikap angkuh padanya.
“Lalu dimana kak leon?” Tanya alesia lagi.
“Kamu nanya saya? Yang istrinya kan kamu bukan saya. Makanya punya suami itu di jaga.”
Alesia melongo. Leon bukan anak kecil yang harus di jaga. Dan lagi leon pria yang setia yang pasti bisa menjaga hati juga cintanya.
Santi langsung melenggang pergi setelah itu. Alesia yang hendak bertanya kembali pun urung dan menggantungkan ucapanya karna santi yang langsung meninggalkanya.
“Dia kenapa sih? Emang aku buat salah apa lagi hari ini?” Gumam alesia bingung.
Alesia kemudian menggelengkan kepalanya. Memikirkan santi hanya akan membuatnya pusing. Alesia menutup pintu kamarnya rapat kemudian membuka gulungan rambutnya dengan handuk. Saat alesia hendak meraih alat pengering rambut tiba tiba pintu kamarnya kembali terbuka. Alesia menoleh dan kembali mendapati santi disana.
“Kamu emm.. Saya ada urusan sedikit dengan rico. Tolong kirimkan nomor rico ke saya. Sekarang.”
BRAKK !!
Alesia menutup matanya mendengar suara pintu yang di tutup dengan sangat keras oleh santi. Alesia kemudian melongo begitu menyadari santi sedang meminta nomor rico padanya.
“Nomor rico?”
__ADS_1
Saat makan malam berlangsung santi sama sekali tidak mengeluarkan kata kata apapun. Santi terus diam dan fokus dengan makanan di depanya. Santi juga tidak menanyakan apapun pada leon seperti biasanya. Dan santi juga tidak mencari cari kesalahan alesia.
Leon yang merasa aneh dengan tingkah santi sesekali menatap wanita itu. Santi tidak terbiasa diam. Wanita itu selalu mempunyai alasan untuk membicarakan sesuatu bahkan jika menyalahkan alesia.
“Saya sudah selesai.” Kata santi kemudian bangkit dan berlalu dengan cepat meninggalkan alesia dan leon di meja makan.
Berbeda dengan leon alesia justru bersikap tidak perduli. Bagi alesia yang terpenting santi tidak menyinggungnya itu sudah cukup. Tapi alesia masih penasaran untuk apa santi meminta nomor rico. Bertanya pada rico rasanya tidak mungkin. Rico pasti akan mengartikan lain jika alesia menghubunginya hanya untuk menanyakan kenapa santi tiba tiba meminta nomornya.
“Ale..”
Alesia menoleh mendengar leon memanggilnya. Dan sampai sekarang alesia belum juga menyadari panggilan leon padanya.
“Ya kak.. Kenapa?”
Leon tersenyum menatap wajah cantik tanpa make up istrinya.
“Setelah ini kamu langsung istirahat yah. Aku masih ada pekerjaan yang harus aku kerjakan nanti. Kamu nggak usah nunggu aku.” Katanya.
Alesia tersenyum tipis kemudian menganggukan kepalanya. Padahal dulu biasanya leon selalu meminta alesia untuk menemaninya saat sedang bekerja. Mereka berdua bahkan selalu mengobrol dan bercanda ringan jika sedang bersama di ruang kerja leon.
Selesai makan malam leon lebih dulu mengantar alesia ke kamarnya. Setelah itu leon kemudian kembali turun ke lantai 1 berniat mengerjakan kembali pekerjaanya yang leon bilang masih ada pada alesia.
“Kenapa rasanya ada yang aneh dengan kak leon?” Gumam alesia bertanya tanya.
Alesia menghela nafas. Semenjak kepulanganya dari bali banyak sekali yang berubah. Bahkan hampir semuanya berubah. Leon yang tidak lagi bersikap romantis padanya. Leon yang juga tidak selalu bisa memperhatikanya. Dan yang paling menyakitkan adalah leon yang tidak lagi mengingat apapun tentangnya. Tanpa di sadari air mata alesia menetes begitu saja. Namun alesia dengan cepat menghapusnya. Alesia meyakini bahwa terlalu larut dalam kesedihan tidak akan menyelesai apapun. Kesedihanya juga tidak akan bisa membuat leon dengan cepat mengingatnya lagi.
“Nggak, aku nggak boleh terlalu larut dalam kesedihan. Aku harus tetap kuat. Aku harus tetap bertahan. Kak leon pasti akan kembali mengingatku suatu saat nanti.” Gumam alesia yakin.
Alesia menundukan kepalanya. Senyumnya mengembang saat menatap perutnya yang belum terlihat membuncit. Janin dalam kandunganya berkembang dan tumbuh dengan baik. Dan selama 3 bulan tumbuh dalam perut alesia, janin itu juga tidak menghambat aktivitas apapun yang di lakukan alesia. Meskipun memang kadang rasa lelah di rasakan alesia tanpa sebab tapi alesia tidak merasa terbebani. Karna dengan tumbuhnya buah cintanya dengan leon pasti akan membawa kebaikan untuknya juga leon. Terlebih santi juga sedikit mulai memperhatikanya. Suatu hal yang bahkan tidak pernah sedikitpun terlintas di pikiran alesia.
Alesia tertawa pelan. Wanita itu mengingat cerita minah yang tidak lain adalah pekerja di rumah santi. Minah mengatakan santi berlari sampai nafasnya seperti akan berhenti hanya untuk memintanya membelikan susu hamil untuk alesia.
__ADS_1
“Sayang.. Tumbuh sehat di dalam sana yah.. Banyak yang menyayangi dan menunggu kehadiran kamu di dunia ini. Mamah sama papah juga oma santi yang super galak bahkan bisa luluh karna kamu sayang.” Kata alesia sambil mengusap penuh cinta perutnya.