
Alesia menatap orang orang yang sedang menurunkan koper koper miliknya dan leon. Tidak hanya koper saja, leon bahkan membawa semua peralatan kerjanya.
“Kak.. Kamu angkut semua barang barang kita kesini?”
Leon menoleh mendengar pertanyaan alesia. Leon sebenarnya bingung dengan istrinya. Dulu alesia sangat menginginkan keluar dari kediaman sanjaya untuk bisa menempati rumahnya sendiri. Namun setelah semuanya terlaksana alesia justru terlihat murung dan tidak senang.
“Memangnya kenapa? Kan kita mau tinggal disini..” Leon mengangkat sebelah alisnya menatap wajah sendu istrinya dari samping.
Alesia menghela nafas. Meninggalkan kediaman sanjaya adalah keinginanya sejak dulu bahkan sejak mereka berdua masih pengantin baru. Penantian alesia untuk bisa menghuni rumah impianya dengan leon juga tidaklah sebentar. 2 tahun adalah waktu yang lama di tambah dengan tekanan santi yang membuat hari hari alesia terasa begitu panjang dan seperti di neraka.
Alesia menoleh menatap wajah bingung suaminya.
“Kamu kenapa sih? Kamu nggak suka kita tinggal disini?” Tanya leon.
Alesia buru buru menggelengkan kepalanya. Alesia senang karna leon akhirnya mengikuti kemauanya. Tapi alesia merasa tidak tenang karna sebab mereka pindah adalah masalahnya dengan santi.
”Bukan begitu maksud aku kak.. Aku hanya merasa tidak enak.. Aku terus kepikiran sama tante.. Aku takut dia semakin membenci aku..”
Leon berdecak pelan. Istrinya sangat plin plan sekarang.
“Jadi kamu mau kita balik ke rumah? Kamu mau kita pulang?” Tanya leon dengan nada kesalnya.
Alesia menggeleng lagi. Alesia tidak ingin lagi kembali tinggal seatap dengan santi.
”Ck.. Ya tuhan.. Kamu jangan buat aku bingung dong alesia.. Kamu tau tidak sebenarnya aku juga merasa berat meninggalkan tante. Tapi aku juga nggak bisa mengabaikan kamu. Kenyamanan kamu nomor satu saat ini buat aku.”
Alesia menelan ludahnya.
“Apa hanya saat ini kak? Lalu bagaimana selanjutnya?”
Leon menggelengkan kepalanya. Entah kemana arah pembicaraan istrinya. Alesia bukan wanita bodoh. Alesia bahkan bisa mengartikan tindakan seseorang hanya dengan melihat gerak geriknya saja. Tapi sekarang berkali kali leon menjelaskan tapi alesia menanggapinya lain.
Leon menghirup dalam dalam oksigen di sekitarnya. Hanya itu yang bisa membuat leon bisa sabar menghadapi tingkah aneh istrinya sejak semalam.
“Sudah yah.. Mending sekarang kamu istirahat..” Katanya.
“Kak tapi tante...”
“Alesia percaya sama aku. Tante nggak akan menuduh apa apa sama kamu.” Sela leon lembut.
__ADS_1
Alesia diam. Pikiran pikiran buruk terus menguasai otak sampai turun ke hatinya. Alesia bahkan sampai membayangkan santi yang datang dan langsung marah bahkan berteriak di depanya.
“Please.. Jangan memikirkan yang tidak tidak. Kasihan anak kita..” Lirih leon melanjutkan.
Alesia menganggukan kepalanya. Memang tidak seharusnya alesia memikirkan yang tidak seharusnya. Alesia harusnya bahagia karna akhirnya bisa tinggal di rumahnya sendiri dengan leon dan keluar dari rumah tempat suaminya dari kecil tinggal.
“Istirahat yah..” Pinta leon.
“Tapi sama kamu..” Rengek alesia manja.
“Ale tapikan sekarang aku lagi liatin orang orang yang sedang menata semua barang kita..”
Alesia berdecak sebal. Alesia mengerucutkan bibirnya karna leon menolak untuk menemaninya istirahat siang ini.
“Kan bi inah disini.. Bi inah bisa kok ngawasin mereka.”
Leon tertawa pelan.
“Bagaimana kalau kamu istirahatnya di temani bi inah saja?”
Alesia terbelalak mendengarnya. Leon bukanya menemaninya malah menanyakan bagaimana jika bi inah yang menggantikanya menemani alesia istirahat siang.
“Iiihh.. Kamu nggak peka banget sih kak. Aku tuh maunya sama kamu bukan sama bi inah..”
Leon mengajak alesia untuk sementara istirahat di kamar tamu karna kamarnya yang berada di lantai 2 rumah itu sedang di tata kembali oleh orang orang suruhanya.
“Udah.. Kamu istirahat yah..” Bisik leon lembut.
Alesia menganggukan kepalanya. Saat ini keduanya sudah berbaring di atas ranjang berukuran besar itu dengan leon yang terus mengusap lembut perut istrinya yang mulai sedikit terlihat.
Leon menatap wajah cantik istrinya. Leon tau alesia belum terlelap. Alesia hanya memejamkan kedua matanya sembari menikmati usapan lembut tangan besar leon di perutnya.
“Tentang kamu dan tante, boleh aku tau apa penyebab kalian bertengkar?” Tanya leon pelan.
Alesia membuka kedua matanya berlahan. Alesia memang belum menjelaskan sebab dirinya sampai di katai sampah oleh santi.
Alesia menelan ludahnya. Mungkin setelah tau penyebabnya leon akan marah padanya. Tapi apapun itu alesia harus tetap jujur. Leon sangat tidak suka di bohongi.
“Sebenarnya itu karna salah aku kak..” Jawab alesia menoleh menatap wajah tampan suaminya.
__ADS_1
“Maksud kamu?” Tanya leon bingung. Leon akan merasa sangat bersalah jika memang santi tidak bersalah.
“Kemarin aku hanya bertanya sama tante tentang rico.”
Leon menatap penuh perhatian pada istrinya. Leon berusaha menjadi pendengar yang baik. Karna selama ini alesia tidak pernah sekalipun menceritakan apapun jika bertengkar dengan santi. Entah apa sebabnya leon sendiri tidak tau, tapi alesia selalu menyimpan semuanya sendiri.
“Tante pernah meminta aku untuk mengirimkan nomor rico. Dan aku tanpa pikir panjang langsung mengirimkanya kak..”
Jeda sejenak. Alesia kemudian memalingkan wajahnya enggan membalas tatapan penuh perhatian suaminya. Alesia yakin leon pasti akan berubah pikiran setelah tau. Leon juga pasti akan mengajaknya kembali ke kediaman sanjaya.
“Aku hanya bertanya untuk apa tante meminta nomor rico. Aku akui aku memang menuntut tante untuk menjawab pertanyaan aku kak. Tapi aku punya alasan. Aku takut tante mengatakan yang tidak tidak pada rico tentang aku..”
“Kamu takut rico menilai kamu buruk?” Sela leon pelan.
Leon tau rico mengagumi istrinya. Bahkan mungkin rico juga mencintai alesia dan mempunyai keniatan merebut alesia darinya. Dan mendengar penjelasan istrinya leon juga takut jika tantenya memang mempunyai niat tidak baik dengan bersekongkol dengan rico.
“Untuk apa aku takut? Rico bukan siapa siapa buat aku kak.. Tapi jujur aku takut tante merencanakan sesuatu. Seperti tante yang berusaha mendekatkan kamu dengan pingkan.”
Leon menghela nafas pelan. Wajar jika alesia mempunyai pikiran buruk pada tantenya. Dan leon bisa memaklumi itu.
“Hey..”
Leon meraih dagu alesia dan menuntunya lembut agar mau menatapnya lagi.
“Tidak baik berbicara dengan suami membuang muka begitu.” Senyum leon setelah alesia kembali menatapnya.
“Kamu nggak marah sama aku kak?” Tanya alesia sedih.
Apa aku sejahat itu dimatanya?
“Untuk apa?” Tanya leon balik dengan tangan mengusap lembut pipi chuby alesia.
“Beneran? Kamu serius nggak marah sama aku?” Tanya alesia lagi tidak percaya.
“Tentu saja. Aku serius. Dan aku bisa mengerti apa yang kamu pikirkan.” Jawab leon.
Leon kemudian meraih tangan kiri alesia dan mencium punggung tanganya tepat di jari manis alesia dimana cincin pernikahan mereka melingkar manis di jari alesia.
“Maaf kalau selama hidup denganku kamu tidak pernah bahagia. Tapi mulai sekarang aku janji aku akan berusaha membuat kamu bahagia. Bagaimanapun caranya.” Lirih leon.
__ADS_1
Alesia tersenyum merasa lega karna ternyata leon bisa benar benar memahaminya.
“Asalkan tidak ada kebohongan di antara kita aku pasti akan sangat bahagia kak.” Balas alesia.