
Sampai larut malam rico tidak kunjung bisa memejamkan kedua matanya. Padahal biasanya rico begitu gampang terlelap apa lagi setelah bekerja seharian. Di tambah rico yang harus menemani santi seperti mengantar jemputnya kamanapun santi pergi.
Rico menghela napas kemudian bangkit dan terduduk di tengah ranjang kecilnya. Pikiranya terus melayang pada apa yang di katakanya pada santi tadi. Rico sendiri terkejut begitu menyadarinya sekarang. Rico tidak menyangka dirinya berani berkata demikian pada santi. Padahal rico sendiri sadar dirinya jauh lebih muda dari santi. Rico juga bukan orang kaya seperti santi.
“Bramono berhenti meminta untuk tante santi kembali. Jadi maksudnya mereka pernah berhubungan?”
Rico mulai bertanya tanya. Selama ini rico tidak tau siapa sebenarnya bramono. Rico juga tidak tau ada hubungan apa santi dan bramono sebelumnya.
“Apa mungkin bramono itu mantan pacarnya tante?”
Rico benar benar bingung sekarang. Rico tidak munafik. Rico memang merasa tidak akan sanggup jika harus jauh dari santi. Rico juga merasa tidak rela jika harus di jauhi atau menjauhi santi. Rico sudah merasa terbiasa dengan kehadiran santi.
Rico menertawakan dirinya sendiri. Di awal rico sangat kesal pada santi yang menilai segala sesuatunya dengan uang. Tapi lambat laun seiring berjalanya waktu rico mulai merasa nyaman. Rico mulai bisa menerima santi yang super judes dan galak juga bawel. Rico justru merasa lucu dengan tingkah wanita yang jauh lebih tua darinya itu.
“Tuhan.. Jika memang ini sudah jalanya maka tolong permudahkanlah..”
-----
Tidak jauh berbeda dengan rico santi pun merasakan hal yang sama. Ucapan rico terus terngiang di telinganya. Rico secara tidak langsung menyatakan perasaanya. Santi tidak bodoh. Santi tau apa yang di maksud rico.
Berlahan seulas senyum terukir di bibir santi. Santi kemudian meraih hp yang berada di atas nakas di samping ranjangnya. Santi membuka hp nya dan mencari photo rico yang memang pernah diam diam santi ambil tanpa sepengetahuan rico. Santi bahkan juga mengambil nomor ibu rico berjaga jaga jika suatu saat rico pulang kampung lagi dan tidak memberi kabar padanya. Benar benar pemikiran yang begitu panjang.
Santi mengusap layar hp nya tepat di wajah rico dimana photo pria berponi itu berada. Santi juga merasakan kenyamanan saat bersama rico. Santi merasa terlindungi dan tidak sendiri. Dan tanpa santi sadari rico berhasil menempatkan diri di hati santi.
Rico.. Kamu baik. Kamu juga perhatian dan membuatku nyaman..
Santi terus menatap wajah tampan rico. Wajah kebule bulean yang terkadang membuat santi bertanya tanya.
Apa mungkin ibunya bukan orang indonesia?
Santi menerka nerka bagaimana sosok ibu rico sehingga paras rico bisa begitu tampan. Kulit putih bersih kemerah merahan juga tubuh tinggi tegap. Benar benar berpaduan yang sangat pas menurut santi.
__ADS_1
Santi menghela napas. Ini bukan kali pertama santi merasakan perasaan seperti itu. Dulu saat awal awal pacaran bersama bramono pun santi merasakan hal yang sama. Santi bahkan tidak menggubris larangan kedua orang tuanya dan tetap bersama dengan bramono hingga akhirnya bramono menikahinya. Namun sayang begitu kedua orang tuanya meninggal bramono mendadak berubah. Bramono menjadi sosok kasar yang tidak berperasaan. Bramono juga sering bermain dengan wanita lain. Terakhir bramono bermesraan dan melakukan hal yang tidak seharusnya dengan wanita lain tepat di depan mata kepala santi. Dan itu membuat santi yang sedang hamil muda akhirnya keguguran.
“Nggak. Kamu nggak boleh terjebak lagi santi. Kamu nggak boleh tersakiti lagi..”
Santi menggelengkan kepalanya mengenyahkan pikiranya tentang masa lalu menyakitkanya. Santi kembali menatap wajah tampan rico di layar hp nya.
“Rico.. Kamu masih terlalu muda. Aku yakin perasaan kamu masih gampang berubah. Dan aku yakin kamu hanya merasa nyaman sesaat bersamaku..”
Santi menelan ludahnya kemudian meletakan hp nya dengan posisi layarnya berada di bawah. Santi kembali merasa ragu. Kesakitan dan trauma yang di rasakanya karna luka yang di torehkan oleh bramono masih bersemayam di hatinya. Luka yang sampai saat ini tidak bisa santi sembuhkan. Luka yang sampai saat ini masih terasa perih.
“Aku nggak boleh terlalu banyak berharap. Rico mungkin sama seperti bramono. Dia akan merasa bosan dan akhirnya menyakitiku nantinya.” Lirih santi.
Santi memejamkan kedua matanya. Sesak santi rasakan di dadanya mengingat nasib cintanya yang begitu malang. Dan sekarang saat santi kembali bisa berdiri dengan kedua kakinya sendiri cinta lain datang dan meminta masuk ke dalam kehidupanya.
“Aku nggak boleh lemah.. Aku nggak boleh mendapat luka lagi.. Aku bisa.. Aku bisa melakukan semuanya sendiri.”
Sekali lagi santi menghela napas. Kali ini helaanya begitu skartis karna santi berusaha meredakan sesak di dadanya.
Paginya rico kembali datang menjemput santi. Kali ini rico membawa 2 helm. Rico bertujuan mengajak santi untuk menaiki motornya.
“Pagi tante..”
Rico tersenyum dan menyapa santi yang sedang menikmati sarapan paginya. Pria tampan berponi itu mengenakan pakaian serba hitam lengkap dengan ransel yang menempel di punggungnya.
Santi melirik rico sekilas. Tidak ada niatan sama sekali untuk santi menawarkan rico sarapan bersamanya. Tekad santi sudah bulat. Santi ingin menjauh dari rico dan menghapus rasa yang masih bersemayam di hatinya.
“Eemm.. Tante mau nggak pagi ini saya antar ke kantor pake motor?”
Santi berhenti mengunyah makanan dalam mulutnya kemudian menoleh menatap rico yang berdiri di belakang kursi yang ada di samping santi.
Santi meletakan garpu dan sendok yang di pegangnya kemudian tertawa.
__ADS_1
“Kamu ngajak saya naik motor jelek kamu?”
Senyum yang menghiasi bibir rico langsung pudar. Santi mengatai motor yang susah payah di belinya jelek. Motor yang memang dari kecil rico sangat impi impikan.
“Ya walaupun jelek kan yang penting masih bisa jalan tante.” Senyum rico tipis.
Santi tersenyum sinis. Santi tidak ingin kasar pada rico sebenarnya, tapi santi juga tidak bisa memberikan celah pada rico untuk lebih dalam masuk ke dalam hidupnya dan menguasai hatinya.
“Dengar ya rico, saya tidak terbiasa naik motor jelek seperti motor kamu. Yang ada nanti saya masuk angin. Saya lagi ingin sehat, nggak pengin sakit.”
Rico menghela napas kemudian tersenyum.
Sabar rico.. Jangan menyerah.. Tidak ada yang tidak mungkin.
“Tante nggak usah khawatir. Saya bawa switer kok buat tante.”
Santi menelan ludahnya kemudian melengos. Rico terlalu baik sekarang tapi santi tidak tau apakah nanti rico akan terus baik padanya atau akan berubah menyakitinya seperti bramono.
Rico melepas ranselnya kemudian mengeluarkan sebuah switer rajut berwarna moca dan memperlihatkanya pada santi.
“Tante bisa pakai ini. Ini untuk tante.” Senyum rico.
Santi tertawa melihat switer yang di tunjukan rico lalu bangkit berdiri dari duduknya. Santi kemudian mengambil switer yang rico sodorkan dan membuka lipatanya tepat di depan pria tampan itu.
“Inah !!”
Rico mengeryit karna santi justru memanggil asisten rumah tangganya. Tapi rico mencoba berpikir positif.
"Saya nyonya.” Angguk hormat bi inah yang datang dari arah dapur.
Santi melirik rico sekilas kemudian menyerahkan switer rajut pemberian rico pada bi inah.
__ADS_1
“Ini ada switer baru buat kamu.”