
Sebulan sudah leon dan alesia menempati rumahnya. Dan selama itu juga leon terus bisa menutupi kebohonganya. Tentunya dengan di imbuhi kebohongan lain yang membuat bibir tipisnya harus banyak melontarkan apa yang tidak sebenarnya.
“Nanti tunggu aku yah.. Nggak usah pergi sama pak supir.” Kata leon saat alesia mengikatkan dasi di kerah kemeja hijau toskanya.
“Iya kak..” Senyum alesia menjawab.
Leon tersenyum.
Ya tuhan.. Ternyata tinggal hanya berdua dengan alesia sangat menyenangkan.
“Udah..”
“Makasih ale..” Senyum leon sambil mencubit pelan ujung hidung istrinya.
Senyum alesia memudar. Alesia bingung sebenarnya. Leon selalu memanggilnya dengan panggilan unik itu. Panggilan yang rasanya tidak mungkin leon ingat.
“Kak... Kenapa kamu suka sekali memanggilku ale?” Tanya alesia pelan.
Leon terdiam. Selama ini leon memang tidak menyadari dengan panggilanya itu.
“Itu panggilan sayang kamu ke aku dari kita pacaran dulu. Kamu ingat panggilan itu?”
Leon menelan ludahnya.
“Jujur, aku bingung dan selalu bertanya tanya sebulan ini kak.. Aku bahkan berpikir mungkin kamu memang mulai mengingat aku sedikit demi sedikit.”
Leon tidak tau harus menjawab apa. Rasanya tidak mungkin jika leon jujur sekarang. Hubunganya dan santi sedang sangat tidak baik. Sebulan selama leon menempati rumahnya santi bahkan tidak pernah sekalipun menghubunginya. Kalaupun leon menghubunginya santi tidak pernah menjawab. Santi juga selalu menghindar saat leon dan alesia datang ke kediaman sanjaya.
“Eemm.. Itu.. Aku hanya mengikuti apa kata hati aku saja alesia..” Jawab leon pelan.
Alesia tersenyum. Alesia kemudian menghela nafas dan menganggukan kepalanya.
“Yah.. Mungkin karna hati kamu memang hanya untuk aku kak.. Jadi hati kamu selalu menuntun kamu untuk melakukan apa yang memang seharusnya kamu lakukan.”
Leon tersenyum tipis. Leon tidak ingin terus terusan berbohong sebenarnya. Tapi apa daya kebohonganya sudah terpupuk dengan kebohongan lainya sehingga leon merasa tidak akan mudah untuk jujur dengan semua kebohonganya.
“Ya. Mungkin memang begitu.” Setuju leon.
“Ya udah yuk kita sarapan..” Ajak alesia.
“Ya..”
Alesia meraih tangan besar leon kemudian menariknya mengajak pria tampan itu keluar dari kamarnya untuk sarapan.
“Kamu mau sarapan apa kak?” Tanya alesia saat mereka melangkah menuruni anak tangga.
“Eemm.. Apa aja asal sarapanya sama kamu aku nggak keberatan.” Jawab leon.
Alesia tertawa pelan merasa lucu mendengar gombalan suaminya. Alesia benar benar lega sekarang. Rumah yang selama 2 tahun mereka kosongkan akhirnya bisa mereka tempati. Dan juga alesia merasa nyaman, tenang, juga tidak merasa tertekan tinggal di rumahnya sendiri.
__ADS_1
Selesai sarapan alesia mengantar leon sampai depan rumahnya. Dan seperti biasa kecupan lembut leon di kening dan perut alesia menjadi penjaga utama untuk alesia.
“Jaga diri baik baik yah..”
Alesia tertawa. Leon sangat berlebihan karna hampir setiap pagi leon selalu berpesan untuk alesia menjaga diri. Padahal leon tidak lama dalam bekerja. Leon bahkan selalu pulang saat makan siang tiba.
“Iya kakak.. Jangan lebay deh. Orang aku di rumah juga nggak kemana mana.”
Leon hanya tertawa pelan menanggapinya. Setelah itu leon masuk ke dalam mobilnya dan berlalu dengan kecepatan sedang keluar dari pekarangan luas rumahnya.
Alesia tersenyum. Rasa bersalah itu masih bersarang di dadanya. Apa lagi alesia belum pernah bisa secara langsung meminta maaf pada santi.
Sudahlah.. Mau bagaimana lagi.
Setelah mobil leon tidak lagi terlihat, alesia pun masuk ke dalam rumahnya.
“Nyonya..”
Alesia menoleh mendengar suara mbak sari.
“Ya mbak. Kenapa?” Tanya alesia.
Mbak sari melangkah mendekat pada alesia. Wanita dengan rambut di cepol itu menundukan kepala dengan menautkan kedua tanganya di bagian depan saat sampai di depan alesia.
“Maaf nyonya, semua stok bulanan sudah habis. Kayaknya kita perlu belanja.” Katanya memberitahu.
“Begitu ya? Ya udah mbak besok saja ya kita belanjanya. Saya mau ke dokter dulu soalnya nanti siang.”
“Iya..”
Mbak sari berlalu dari hadapan alesia. Mbak sari berjalan cepat menuju meja makan untuk kembali membereskan piring piring kotor bekas sarapan alesia dan leon.
Sedang alesia, wanita itu berjalan menuju taman untuk menghirup udara segar sembari menikmati pemandangan indah bunga bunga bermekaran pagi itu.
Saat alesia baru mendudukan dirinya di kursi panjang bercat putih di taman tiba tiba hp dalam saku dress pendeknya berdering. Alesia langsung merogoh sakunya dan meraih benda pipih tersebut.
“Rico?” Gumam alesia bingung.
Alesia menatap nama rico yang terpampang di layar benda pipih itu. Sejak alesia memberikan nomor rico pada santi, rico tidak pernah sekalipun menghubunginya. Tapi sekarang rico menelponya lagi.
“Apa aku tanya langsung aja sama rico tentang tante yang meminta nomornya rico dulu?”
Alesia tampak berpikir namun akhirnya alesia mengangkat telpon dari rico.
“Halo..”
“Al.. Halo.. Apa kabar?”
“Kabar baik rico.. Kamu sendiri bagaimana kabarnya?”
__ADS_1
”Aku baik al..”
“Syukurlah..” Senyum alesia.
“Ah iya al.. Kamu kok sekarang nggak tinggal di rumah tante santi?”
Alesia mengeryit. Rico bertanya seakan pria itu biasa atau sering datang ke kediaman sanjaya.
“Bagaimana kamu bisa tau co?” Tanya alesia penasaran.
“Eemm.. Itu.. Aku.. Aku pernah datang al buat jemput tante santi tapi kata bi inah kamu sudah pindah sama pak leon..” Jawab rico.
“Jemput tante? Maksud kamu?” Tanya alesia semakin tidak mengerti.
Rico menghela nafas di seberang telpon. Pria itu kebingungan harus bagaimana memberitahu alesia tentang sandiwaranya dengan santi.
“Ceritanya panjang al. Makanya aku nelpon kamu buat ngajak kamu ketemu. Bisa?”
“Oke.. Minggu depan kita ketemu di caffe biasa.” Setuju alesia tanpa pikir panjang.
Di sisi lain santi baru saja bertemu dengan teman teman arisanya. Wanita itu melangkah dengan gaya eleganya keluar dari restourant tempatnya bertemu dengan teman temanya. Namun saat hendak masuk ke dalam mobilnya santi melihat pingkan yang sedang berjalan dengan bergandengan tangan dengan seorang pria berpakaian formal.
“Itu kan pingkan..” Gumam santi sembari melepas kaca mata hitam yang bertengger di pangkal hidung mancungnya.
Santi menggelengkan kepalanya kemudian mendekat pada pingkan dan pria berbaju formal tersebut.
“Pingkan.” Panggil santi.
Pingkan yang merasa di panggil pun berhenti melangkah dan menoleh begitu juga dengan pria yang bergandengan tangan dengan pingkan.
“Eh tante..” Senyum pingkan menatap santi.
Santi menatap pingkan kemudian beralih pada tangan pingkan yang terus bergandengan tangan dengan pria di sampingnya.
“Ini siapa?” Tanya santi tanpa basa basi.
Pingkan menoleh sekilas pada pria di sampingnya kemudian kembali menatap santi dan tersenyum.
“Oh iya tante kenalin ini calon suami aku. Namanya aldo.”
Pria bernama aldo itu langsung mengulurkan tanganya pada santi.
“Saya aldo..” Katanya memperkenalkan diri.
Santi menggelengkan kepalanya tidak menyangka. Pingkan memang sudah tidak lagi datang ke rumahnya sejak saat itu. Tapi santi tidak menyangka jika ternyata pingkan sudah mempunyai calon suami.
Santi tersenyum sinis.
“Ternyata kamu tidak sebaik yang saya kira ya pingkan.” Katanya bersedekap dengan gaya angkuhnya.
__ADS_1
“Loh memangnya kenapa? Ada yang salah?” Tanya pingkan santai.
Santi menghela nafas. Tanpa berkata apapun lagi santi berlalu dari hadapan pingkan dan calon suaminya. Santi tidak menyangka jika hari ini dirinya harus kembali menerima satu kenyataan pahit yang membuatnya kecewa.