
“Alesia..”
Alesia berhenti mengunyah makanan dalam mulutnya saat leon memanggilnya. Wanita cantik dengan rambut masih basah dan tergerai itu menolehkan kepalanya pada leon yang duduk di kursi paling ujung di meja makan.
“Ya kak.. Kenapa?”
Leon terdiam sejenak. Pria tampan dengan kemeja hijau toska itu menghela nafas. Leon melepaskan sendok dan garpu yang di pegangnya kemudian menyeruput sedikit segelas air putih yang berada di samping piring berisi nasi gorengnya.
“Semalam aku tanya sama pak satpam tentang motor merah itu.”
Senyum di bibir alesia berlahan memudar mendengarnya. Jantungnya langsung bekerja 2 kali lipat lebih cepat dari biasanya. Alesia yakin satpam di rumahnya pasti menjawab dengan jujur pertanyaan leon.
Alesia menundukan kepalanya tidak berani menatap suaminya. Leon sangat tidak suka di bohongi. Dan alesia sudah bisa menebak suaminya pasti akan marah padanya setelah ini.
“Pak satpam bilang motor itu milik rico dan tante yang menitipkanya langsung. Apa rico itu rico yang sama rico teman kamu yang juga mengantar kamu pulang kemarin?”
Alesia menutup rapat rapat kedua matanya. Alesia sadar apa yang di lakukanya dengan berbohong dan tidak jujur pada suaminya adalah kesalahan. Dan alesia siap jika leon marah padanya.
“Alesia..”
Pelan pelan alesia menganggukan kepalanya. Takut itu yang sedang alesia rasakan saat ini.
“Jadi benar sakit perut kamu itu karna guncangan keras saat kamu pulang di antar oleh rico bukan karna naik ojeg?” Tanya leon lagi.
Dada alesia kembang kempis. Bukan karna marah tapi karna takut.
“Ya kak..” Jawabnya terus menundukan kepalanya.
“Kenapa harus berbohong? Bukankah jujur lebih baik?”
Alesia hanya diam. Alesia tidak pernah bermaksud untuk menyembunyikan sesuatu pada suaminya.
Leon menghela nafas. Di raih dan di genggamnya tangan alesia lembut.
“Lihat aku ale..” Pintanya.
Alesia menurut. Alesia menatap wajah tampan suaminya yang tampak tenang. Tidak ada tanda tanda kemarahan dari gurat wajah suaminya. Leon begitu tenang dan penuh dengan kelembutan. Namun itu justru membuat alesia merasa semakin bersalah.
“Apa kamu juga tau tentang hubungan tante dan rico?”
Alesia mengangguk lagi.
“Bisa jelaskan sama aku?”
Alesia menelan ludahnya. Sesaat alesia memejamkan kedua matanya kemudian kembali membukanya dan menatap tepat pada kedua mata teduh suaminya.
__ADS_1
“Tante meminta rico untuk berpura pura menjadi calon suaminya di depan pria bernama bramono kak.. Dan aku keluar kemarin untuk menanyakan langsung pada rico. Maaf aku udah nggak jujur sama kamu.”
Leon tersenyum mendengarnya. Kebohongan alesia padanya tidak ada apa apanya di banding dengan kebohongan yang sedang leon lakukan saat ini.
“Lalu?”
“Hanya itu saja. Tapi..”
Leon mengangkat sebelah alisnya menatap penuh tanya pada istrinya.
“Apa kakak tau siapa bramono?”
Leon terdiam. Semuanya akan terbongkar jika sampai alesia bertemu dengan bramono. Bramono pasti akan memberitahu alesia bahwa leon sudah mengingat semuanya.
“Aku.. Mungkin bramono hanya seorang yang menyukai tante.” Jawab leon ragu.
Lagi dan lagi leon harus berbohong pada alesia.
Alesia tampak berpikir. Rasanya tidak mungkin jika bramono hanya orang yang menyukai santi. Karna buktinya santi sampai harus pura pura sudah memiliki calon suami demi menghindari bramono.
“Kak.. Aku pikir mungkin bramono adalah salah satu orang di masa lalu tante. Mungkin kamu tidak mengingatnya.” Kata alesia.
Leon menelan ludahnya. Semuanya semakin membuat leon takut.
“Eemm.. Sudah ya nggak usah bahas yang lain. Mending lanjutin sarapanya aja.”
Apa ada sesuatu yang aku nggak tau?
Leon melepaskan tangan alesia kemudian kembali menyantap nasi goreng di piringnya. Pria itu sesekali tersenyum menatap alesia yang masih bingung.
“Kak..”
”Ale.. Aku nggak marah kok.” Sela leon lembut.
Leon sebenarnya takut alesia bertanya lagi tentang bramono. Leon sudah terlalu banyak berbohong pada alesia.
“Oohh.. Ya kak. Aku minta maaf banget udah nggak jujur sama kamu. Tapi sumpah kak aku nggak niat bohong. Aku mau ceritain ke kamu tapi waktunya belum tepat. Tapi kamu keburu tau sendiri.” Kata alesia dengan wajah sendu.
“Iyaaa.. Udah nggak papa. Sarapan yang banyak ya. Abis itu minum vitamin sama susunya.” Senyum leon menganggukan kepala pelan menatap alesia.
Alesia tersenyum menanggapinya. Alesia merasa lega karna ternyata leon tidak marah padanya meskipun tau alesia berbohong kemarin.
Bagaimana mungkin aku marah sama kamu alesia.. Kebohongan kamu tidak ada apa apanya di banding dengan kebohongan yang setiap hari aku pupuk.
“Permisi nyonya, tuan..”
__ADS_1
Suara mbak sari berhasil mengalihkan perhatian leon dan alesia. Leon mengangkat sebelah alisnya menatap mbak sari yang membawa sebuah kotak berukuran sedang di kedua tanganya.
“Ada apa mbak..?” Tanya alesia.
“Ini nyonya, ada kurir nganterin paket atas nama nyonya.” Jawab mbak sari.
Alesia sedikit melebarkan kedua matanya. Alesia tidak merasa memesan apapun.
“Atas nama saya?” Tanya alesia bingung.
“Ya nyonya. Maaf ini saya taruh disini ya nyonya. Saya mau lanjut nyiram tanaman di depan.”
“Ah iya mbak.. Makasih yah..”
Alesia meraih kotak berukuran sedang itu kemudian melihat nama dan alamat yang ada di kotak tersebut. Dan benar saja paket itu atas nama dirinya namun tidak mencantumkan nomor telponya.
“Kak aku nggak pesan apa apa loh.. Serius.”
Leon mengeryit.
“Terus itu?” Tanya leon bingung.
Alesia menggelengkan kepalanya kemudian menyodorkan paket tersebut pada leon.
“Biar aku buka..” Kata leon.
Alesia menganggukan kepalanya setuju. Alesia terus menatap paket yang sedang di buka oleh suaminya. Paket yang mengatas namakan dirinya juga alamatnya yang sesuai dengan alamatnya.
“Baju bayi?”
Leon terkejut ketika mendapati isi dari paket itu adalah bingkisan dimana di dalamnya berisi 2 setel baju bayi dengan warna yang berbeda. Warna 2 setel baju tersebut adalah coklat susu dan hijau toska. Tidak lupa juga dengan 2 pasang sepatu kecil dengan warna senada.
Alesia yang juga melihatnya langsung menggelengkan kepalanya. Mendadak rasa takut merayapi hatinya. 2 setel baju bayi itu membuat alesia merasa was was. Alesia merasa baju baju lucu itu seperti sebuah ancaman untuknya.
“Kak itu..”
Leon menelan ludahnya. Leon yakin publik tidak mengetahui istrinya sedang hamil mengingat sebelumnya alesia adalah seorang model. Tapi mengirim paket dengan nama alesia rasanya sangat janggal.
“Kamu yakin tidak pesan apa apa?” Tanya leon pelan.
“Iya kak.. Aku nggak pesan apa apa. Lagian aku nggak mungkin pesan baju baju bayi di usia kandungan yang masih dini.”
Leon mengangguk. Kalaupun alesia ingin memesan baju untuk bayinya alesia pasti akan meminta pendapatnya lebih dulu.
Leon meletakan kembali baju itu ke dalam kotaknya. Leon kemudian menghela nafas.
__ADS_1
“Biar aku yang simpan ini.” Katanya.