
“Boleh om duduk?”
Alesia menghela napas. Gerah rasanya mendengar bramono yang menyebut dirinya sendiri dengan sebutan om di depanya.
“Ya, silahkan tuan.” Angguk alesia mempersilahkan.
Alesia kemudian menoleh pada mbak sari yang ada di sampingnya.
“Mbak tolong bikinin minum buat tuan bramono ya?” Senyum alesia pada mbak sari.
“Baik nyonya.” Angguk mbak sari kemudian segera berlalu dari ruang tamu menuju dapur untuk membuatkan minuman seperti apa yang di perintahkan oleh alesia padanya.
Sepeninggal mbak sari alesia menghela napas kemudian mendudukanya di sofa tepatnya di seberang sofa yang di duduki oleh bramono.
“Jadi ada apa tuan kesini mencari saya?”
Bramono tersenyum simpul. Rasanya seperti mimpi bisa bertemu dan berhadapan langsung dengan putri kandung dari kekasih masa lalunya. Bramono ingin sekali alesia memanggilnya dengan sebutan om. Bramono bahkan juga tidak keberatan jika alesia mau menganggapnya sebagai ayah.
“Oh ya al.. Ini om bawakan sesuatu untuk kamu.” Kata bramono meletakan sebuah paperbag berukuran sedang berwarna coklat tua di atas meja kaca di tengahnya dan alesia.
“Tidak usah repot repot. Terimakasih tuan. Dan maaf saya tidak bisa menerimanya.”
Senyum di bibir bramono langsung sirna mendengarnya. Alesia begitu tegas. Tidak seperti le yang begitu lemah lembut.
“Kenapa?”
“Tidak papa. Saya hanya tidak bisa menerimanya saja.” Jawab alesia tenang.
Bramono menganggukan kepalanya. Mungkin alesia memang masih merasa asing denganya.
“Kamu sudah makan nak?”
Alesia tersenyum sinis.
“Apa maksud panggilan nak sekarang? Anda pikir anda siapa tuan?”
Bramono menelan ludahnya. Mendadak aura alesia berubah begitu dingin. Ucapanya seperti orang arogan yang kejam dan tidak menghargai orang lain.
Kenapa kamu berbeda sekali dengan ibumu alesia?
“Tuan langsung saja. Ada apa tuan mencari saya?”
Bramono menghela napas. Mungkin leon tidak memberitahu tentang dirinya yang juga adalah mantan suami dari santi, tantenya.
“Om hanya ingin bertemu kamu. Om ingin memastikan kamu baik baik saja.”
Saat itu mbak sari datang dengan secangkir teh hangat di atas nampan. Mbak sari langsung meletakanya di depan bramono kemudian berdiri di samping sofa yang di duduki alesia.
“Jangan membuat lelucon tuan. Anda bukan siapa siapa saya.”
__ADS_1
Alesia tidak ingin bersikap seperti itu pada bramono sebenarnya. Tapi alesia juga tidak bisa menerima kedatangan bramono begitu saja apa lagi bramono adalah bagian dari masa lalu ibunya. Alesia meyakini bramono juga pasti ikut andil dalam menyakiti hati ibunya.
“Mungkin leon belum memberitahu kamu siapa om sebenarnya.”
Sebelah alesia terangkat merasa bingung dengan apa yang di katakan bramono.
“Apa maksud anda tuan?”
Bramono tersenyum. Pria berambut cepak itu langsung bisa mengetahui bahwa leon masih menyembunyikan tentang kesembuhanya pada alesia.
“Om adalah mantan suami dari tantenya leon.”
Kedua mata alesia langsung melebar. Bramono adalah mantan suami santi, rasanya sangat sulit untuk di percaya.
Apa ini sebabnya tante sangat tidak suka dengan bramono? Tante bahkan meminta rico untuk bersandiwara menjadi calon suaminya.
“Sekarang kamu tau bukan kenapa kamu harus panggil saya om?” Senyum bramono.
Alesia menggelengkan kepalanya. Alesia juga berusaha terlihat biasa saja untuk menutupi keterkejutanya mengetahui bramono dan santi pernah menikah.
“Tapi anda hanya mantan suami dari tante saya. Itu sudah berlalu, hubungan anda dan tante santi juga sudah selesai. Jadi saya rasa saya tidak perlu memanggil anda dengan sebutan itu. Anda orang lain bagi saya.”
Bramono bungkam. Alesia tidak seperti yang bramono bayangkan. Alesia begitu dingin juga penuh ketegasan. Alesia jauh berbeda dengan alesia le, ibu kandungnya.
Le.. Dia sangat berbeda. Dia tidak seperti kamu yang penuh dengan kelembutan.
Bramono menghela napas. Mungkin dari segi sikap alesia sangat berbeda dengan ibu le. Tapi dari rupanya alesia benar benar sangat mirip dengan ibu le. Dan bramono menyadari itu.
“Tapi bukankah akan lebih baik jika kamu memanggil om dari pada tuan?”
“Saya lebih nyaman memanggil anda dengan sebutan tuan.” Balas alesia cepat.
Bramono menganggukan pelan kepalanya. Dadanya terasa sesak. Alesia adalah salah satu bagian berharga dari masa lalunya. Tentu saja karna alesia adalah putri dari wanita yang sangat di cintainya. Bahkan sampai sekarang.
“Baiklah kalau memang mau kamu begitu.”
-----
Leon keluar dari ruang rapat dengan wajah sendu. Pria tampan itu menghela napas sembari mengendurkan dasi yang mengikat lehernya.
“Laona, apa ada jadwal setelah makan siang nanti?” Tanya leon pada sekertaris cantik yang melangkah di belakangnya.
“Ada pak. Setelah makan siang nanti kita harus menghadiri peresmian cabang alattas grup.” Jawab sekertaris leon.
Leon berdecak. Badanya terasa lemas sekali hari ini. Di tambah dengan pikiranya yang tidak bisa fokus karna memikirkan masalahnya yang menggunung.
“Apa bisa di wakilkan?”
Laona mengeryit bingung. Padahal pemilik alattas grup adalah salah satu rekan bisnis leon yang terdekat.
__ADS_1
“Saya sedikit merasa tidak enak badan. Kamu tolong wakili saya. Ajak roy saja bila perlu.”
“Baik pak.”
“Jangan lupa sampaikan salam dan perminta maafan atas ketidak hadiran saya untuk pak rendy.”
“Iya pak.”
Leon memasuki ruanganya dengan helaan napas berat. Leon benar benar ingin sekali membaringkan tubuhnya di kasur nyamanya siang ini. Punggungnya terasa pegal, kedua kelopak matanya juga terasa panas, Dan tubuhnya yang lemas.
“Bagaimana pulangnya ini..” Gumam leon.
Leon yakin dirinya tidak akan bisa fokus menyetir untuk pulang. Jika leon nekat sesuatu yang buruk pasti akan terjadi. Leon tidak mau itu terjadi. Leon ingin terus sehat juga bugar agar bisa terus melindungi istri dan tantenya.
“Pesan taxi online saja kali yah..”
Leon meraih hp nya yang berada di atas meja di samping laptopnya. Leon bermaksud memesan taxi namun tiba tiba hp nya berdering dan nomor baru yang tidak di kenalnya tertera di layar hp mahalnya.
“Nomor siapa ini?”
Leon menyipitkan kedua matanya. Kelopak matanya benar benar terasa panas karna beberapa hari ini leon tidak bisa tidur dengan nyenyak.
“Halo..”
“Halo pak leon..”
Leon mengangkat sebelah alisnya.
“Ini siapa?” Tanyanya.
Helaan napas terdengar dari seberang telpon. Dan itu semakin membuat leon penasaran dengan siapa pria yang menelponya saat itu.
“Saya.. Saya rico pak.”
Leon terdiam. Leon memang berniat menyelidiki seperti apa dan bagaimana seorang rico sebenarnya. Leon juga ingin tau apakah rico masih menyukai alesia secara diam diam.
“Ada apa kamu nelpon saya?” Tanya leon dingin.
“Begini pak.. Saya mau tanya sesuatu tentang tante santi.”
Leon mengeryit. Santi memang sedang sangat dekat dengan rico.
“Apa pak leon punya waktu untuk bertemu dengan saya?”
“Apa yang mau kamu tau tentang tante saya?” Tanya balik rico.
Rico tidak langsung menjawab. Mungkin pria itu bingung harus bagaimana mengatakanya pada leon.
“Pak maaf.. Tapi mungkin akan lebih jelas kalau kita bertemu langsung saja. Kalau lewat telpon takutnya pak leon salah paham.”
__ADS_1
“Baik kalau begitu. Datang ke keperusahaan saya sekarang.”
Leon langsung memutuskan sambungan telponya dengan rico setelah itu. Leon sendiri juga sangat penasaran dengan apa yang ingin di tanyakan rico padanya tentang santi. Di samping itu juga leon rasa mungkin rico bisa membantu mengantarnya pulang ke rumah.