Sebuah Rasa

Sebuah Rasa
Arti sebuah nama


__ADS_3

Leon dan alesia mengajak semua anak panti asuhan untuk makan siang di luar termasuk bunda yati.


“Om aku mau makan ini om !!”


“Aku juga om.. Aku mau ini !!”


“Aku juga !!”


Leon meringis mendengar pekikan anak anak kecil yang menghampirinya dan menunjukan gambar makanan di buku menu.


Sedangkan bunda yati dan alesia hanya bisa tertawa. Leon memang banyak berubah semenjak lupa dengan sebagian ingatanya. Dulu leon tidak begitu akrab dengan anak anak panti. Tapi sekarang leon bisa begitu akrab dan sangat perduli pada mereka semua.


Semoga semuanya akan tetap seperti ini meskipun suatu saat ingatan kak leon kembali.


“Kalian boleh pesan apapun yang kalian mau. Om leon bebasin kalian mau makan apa aja siang ini. Asalkan benar benar di makan yah.. Jangan buang buang makanan. Oke?”


“Oke om !!!”


Setelah mengajak anak anak panti asuhan itu makan di luar, Leon dan alesia kemudian berziarah ke makam ibu alesia.


“Ibu.. Alesia datang..” Senyum alesia sambil menabur bunga mawar merah di pusara sang ibu.


Alesia duduk di samping kanan pusara itu dengan leon yang berada di sampingnya.


“Maaf ya bu.. Alesia jarang datang mengunjungi ibu.. Alesia sibuk kemarin kemarin.. Tapi sekarang udah nggak lagi kok bu.. Alesia udah nggak sibuk lagi. Alesia sudah punya banyak waktu. Jadi bisa sering sering mengunjungi ibu..”


Leon melepaskan kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Tatapanya terarah pada nisan yang terbuat dari batu granit dengan nama alesiale. Leon menyebutnya ibu le. Karna rasanya tidak mungkin menyebut ibu ale atau ibu sia.


“Ale..” Panggil leon pelan.


Alesia menolehkan kepalanya menatap leon yang duduk berjongkok di sampingnya.


“Kenapa nama kamu dan ibu sama?” Tanya leon.


Alesia terdiam. Alesia kembali mengalihkan perhatianya dari leon ke pusara ibunya. Alesia sendiri tidak tau kenapa namanya sama dengan nama ibunya. Hanya saja nama belakangnya saja yang berbeda. Alesia bernama belakang ana sedang ibunya le.


“Aku juga nggak tau.. Tapi aku bangga dengan nama ini.. Bunda yati bilang ibu yang memintanya sebelum meninggal.”


Leon mengangguk. Alesia memang pernah mengatakan tidak pernah melihat langsung wajah ibunya. Alesia hanya melihatnya lewat photo ibunya yang masih berseragam SMP di panti asuhan. Leon juga pernah melihatnya. Dan dari sekian banyaknya photo ibu le, leon sama sekali tidak menemukan satupun photo dewasa ibu mertuanya itu.


“Kak..” Panggil alesia pelan.


“Ya sayang..” Saut leon lembut.


“Kamu nggak ke kantor lagi?” Tanya alesia dengan tatapan terus tertuju pada pusara ibunya.


“Aku mau temenin kamu aja siang ini..” Senyum leon menjawab.

__ADS_1


Alesia ikut tersenyum mendengarnya. Leon lebih banyak meluangkan waktu untuknya selama tidak mengingat apapun tentangnya.


“Terimakasih.” Katanya.


Hening


Alesia tidak lagi mengatakan apapun. Wanita dengan dres hijau toska itu hanya diam menatap gundukan tanah berselimut rumput hijau yang terawat tempat peristirahatan terakhir ibunya. Alesia bingung sekarang. Ingin mengatakan rindu tapi alesia tidak pernah merasakan belaian lembut sang ibu.


Leon menghela nafas. Pria itu juga ikut bingung. Istrinya terus diam.


Setelah berziarah ke makam ibu le, alesia meminta pada leon untuk kembali ke panti asuhan. Awalnya leon menolak karna alesia harus istirahat siang. Tapi karna alesia yang terus merengek akhirnya leon tidak bisa lagi menolak dan menuruti keinginan istri tercintanya.


Di panti asuhan alesia larut dengan anak anak kecil disana. Wanita itu tampak sangat bahagia dan ceria bermain dan mendengar cerita anak anak asuh bunda yati di taman dengan karpet sebagai tempat duduk lesehanya.


Leon yang terus memperhatikan istrinya hanya bisa tersenyum merasa senang melihat istrinya begitu ceria dan bahagia bersama anak anak itu.


“Nak leon..”


Leon menoleh mendengar suara bunda yati.


“Ah ya bunda..” Saut leon tersenyum.


“Bunda mau bilang terimakasih banyak karna hari ini kamu sudah membuat anak anak disini bahagia.. Kamu juga sudah memberi mereka hadiah dan makanan yang enak..”


Leon tertawa pelan.


Bunda yati menganggukan kepala dengan senyuman manis di bibirnya.


“Kamu memang pria dan suami yang baik.”


Leon hanya bisa mengangguk mendengar pujian bunda yati. Leon merasa tersindir dengan kata baik sebenarnya. Karna leon merasa tidak sebaik yang bunda yati kira.


“Bunda boleh saya bertanya sesuatu?”


“Tentu saja..”


Leon menoleh pada alesia yang sedang bermain bersama anak anak di panti asuhan itu kemudian menatap kembali bunda yati yang berdiri di depanya.


“Tapi tidak disini bunda.” Katanya


Bunda yati mengeryit namun tetap menganggukan kepalanya.


“Baiklah, kita ke ruangan bunda saja.”


Leon mengangguk setuju. Leon kemudian berlalu mengikuti bunda yati menuju ruangan pengasuh anak yatim piatu itu.


“Duduk..”

__ADS_1


“Terimakasih bunda.”


Leon dan bunda yati duduk di sofa panjang dengan posisi saling berhadapan dan terhalang oleh meja kaca berkuran 1 meter di tengahnya.


“Apa yang mau nak leon tanyakan?” Tanya bunda yati menatap penasaran pada leon.


Leon menghela nafas. Dari dulu sampai sekarang leon tidak pernah menanyakan tentang alesia pada bunda yati. Tapi sepulang dari makam ibu le tiba tiba leon sangat penasaran dengan nama alesia dan nama ibu le yang sama namun dengan nama belakang yang berbeda.


“Tentang ibu le... Boleh aku tau seperti apa orangnya?”


Bunda yati mengeryit.


“Bukankah kamu bisa melihatnya di setiap photo yang terpajang di rumah ini nak leon?”


“Eemm... Maksud saya bukan ibu le yang masih kecil bunda.. Tapi yang sudah dewasa.”


Bunda yati menghela nafas. Selama ini bunda yati selalu menutupi semuanya dengan rapat. Dan selama ini juga tidak pernah ada yang menanyakanya. Bahkan alesia sekalipun.


“Tidak ada le dewasa nak leon.. Le hanya berusia sampai 15 tahun. Usia yang begitu belia juga singkat.”


Leon mengangkat sebelah alisnya.


“Maksud bunda?” Tanya leon penasaran.


“Le hamil saat masih duduk di bangku SMP dan le juga meninggal setelah melahirkan alesia. Itu sebabnya tidak ada photo le dewasa.”


Leon terkejut. Apa yang di dengarnya benar benar di luar pemikiranya selama ini tentang alesia dan ibu le.


“Siapa yang melakukanya bunda?” Tanya leon lirih.


Bunda yati menggelengkan kepalanya.


“Bunda tidak tau nak leon.. Le tidak pernah mengatakanya pada bunda.”


“Kamu tau bukan nama alesia sama dengan nama le, itu adalah permintaan terakhir le sebelum meninggal.. Bunda juga tidak tau apa alasanya. Tapi le bilang itu nama yang akan mempertemukan alesia dengan ayahnya yang sampai saat ini bunda bahkan tidak tau siapa.”


“Apa alesia tau bunda?”


Lagi, bunda yati menggelengkan kepalanya.


“Nggak, alesia tidak tau karna bunda tidak memberitahunya.”


“Bunda pikir alesia sudah cukup bahagia dengan kehidupanya. Alesia tidak perlu mengenal ayahnya.”


“Bunda tapi..”


“Ayahnya pria yang tidak bertanggung jawab. Dia meninggalkan le dan tidak pernah sekalipun datang selama le di keluarkan dari sekolah. Saat le melahirkan pun dia tidak ada. Dan terakhir yang bunda tau, Dia pergi ke luar negeri setelah tau le hamil.”

__ADS_1


__ADS_2