Sebuah Rasa

Sebuah Rasa
Tentang cinta dan rasa


__ADS_3

Leon masuk kembali ke dalam ruangan bunda yati setelah alesia benar benar terlelap. Leon benar benar sangat penasaran dengan apa yang sedang di sembunyikan oleh bunda yati dari alesia.


“Nak leon..”


Leon melangkah dengan langkah santai menghampiri bunda yati yang duduk di sofa dengan sebuah buku di tanganya.


“Saya tau bunda sedang menyembunyikan sesuatu.”


Bunda yati mengeryit mendengar pernyataan secara langsung leon.


“Apa maksud kamu nak leon?”


“Tentang tuan bramono saya juga yakin bukan dia orangnya. Tapi saya yakin bunda yati tau siapa orangnya.”


Bunda yati menggelengkan kepalanya. Leon salah jika mengganggap bunda yati tau semuanya. Karna sampai saat ini pun bunda yati masih bingung dengan identitas sebenarnya ayah kandung alesia.


“Jangan bercanda nak leon.. Saya adalah orang yang sangat menyayangi alesia. Saya yang membesarkanya. Dan saya juga adalah orang pertama yang menggendongnya setelah dia lahir..”


Leon menghela napas. Jelas saja karna bunda yati adalah pengurus panti dimana ibu le tinggal. Tidak mungkin jika orang lain yang membesarkan alesia, istrinya.


“Bunda, saya juga hidup bersama ayah dan ibu saya hanya sampai 12 tahun. Kedua orang tua saya meninggal karna kecelakaan. Bahkan oma dan opa saya juga. Mereka pergi secara bersamaan waktu itu.”


Bunda yati mengeryit. Setaunya leon sedang amnesia. Tapi anehnya leon bisa menceritakan tentang masa lalunya.


“Saya tau dan bisa merasakan sendiri bagaimana rasanya patah hati hidup tanpa kedua orang tua.”


“Saya tidak tau apa maksud kamu nak leon..”


Leon tersenyum miring.

__ADS_1


“Apa bunda pernah berpikir tentang apa yang sangat di inginkan alesia?”


Bunda yati diam. Yang bunda yati tau hanya kebahagiaan yang ingin di raih alesia. Termasuk cita citanya.


“Saya yakin bunda, alesia juga ingin merasakan kasih sayang kedua orang tuanya. Kasih sayang ibu le juga ayah kandungnya.”


“Tapi le sudah meninggal.” Sela bunda yati.


“Ya, memang ibu le sudah meninggal. Tapi ayah kandung alesia, belum tentu dia juga sudah meninggal bukan?” Saut leon.


Bunda yati menelan ludahnya. Mungkin memang ayah kandung alesia masih hidup dan sedang tertawa bahagia di luar sana tanpa memikirkan ibu le yang sudah tiada. Pria itu juga mungkin tidak pernah sedikitpun mengingat ibu le yang pernah di nodainya.


“Bisa saja mungkin ayah kandung alesia sedang berjuang mencari alesia. Mungkin sekarang dia sedang kebingungan juga merasa putus asa.”


“Itu tidak mungkin.” Balas bunda yati cepat.


Leon mengeryit. Leon semakin yakin bunda yati memang mengetahui sesuatu tentang ayah kandung alesia. Hanya saja bunda yati terus berusaha menutupinya.


Air mata bunda yati mulai menetes mengingat bagaimana sosok ibu le dulu. Ibu le begitu penurut. Ibu le juga sangat pandai dan rajin juga disiplin dalam segala hal. Itu sebabnya bunda yati sangat menyayangi ibu le layaknya anak kandung sendiri.


“Kamu hanya orang baru nak leon. Tolong jangan terlalu ikut campur.” Lanjut bunda yati sembari mengusap air mata yang membasahi pipinya.


“Saya memang orang baru bagi bunda. Tapi tidak bagi alesia bunda. Dia istri saya dan saya merasa saya berhak atas dia. Saya berhak segalanya termasuk mengungkap kebenaran tentang siapa ayah kandung istri saya.”


“Tapi alesia tidak membutuhkan itu. Alesia tidak membutuhkan ayah kandungnya.”


Leon tertawa pelan mendengarnya.


“Ternyata memang bunda tidak tau semuanya tentang alesia. Bunda bahkan tidak mengerti perasaan alesia.” Geleng leon.

__ADS_1


“Cukup nak leon. Kamu tidak tau apa apa tentang anak saya dan alesia. Jangan sok tau.”


Bunda yati mulai merasa geram pada leon yang berani berkata tidak pantas padanya menurutnya.


“Bunda, saya merasakan sendiri bagaimana rasanya merindukan kedua orang tua saya. Saya sakit, saya terluka, tapi saya tahan sendiri bunda. Maka dari itu saya tidak mau alesia juga terus terusan merasakan sakit itu. Bagaimanapun juga alesia berhak tau siapa ayah kandungnya.”


Bunda yati kembali memejamkan kedua matanya. Bunda yati juga tidak tau siapa pria itu. Tapi bunda yati menduga pria itu pasti masih ada hubunganya dengan bramono.


“Alesia tidak seperti kamu nak leon. Dia wanita yang tegar.”


Leon berdecak pelan kemudian menghela napas. Bunda yati tetap kukuh tidak mau mengatakan apapun padanya tentang ayah kandung alesia.


“Bunda salah. Pada kenyataanya perasaan seorang saat kehilangan itu sama. Begitu sangat rapuh dan gampang hancur. Mungkin alesia terlihat tegar di depan bunda. Tapi saya sebagai suaminya, sebagai pria yang bertanggung jawab segalanya atas dia tau segalanya bunda.”


“Cukup leon !”


Bunda yati menatap leon tajam dengan bibir bergetar serta air mata yang menggenangi kedua kelopak matanya. Bunda yati terlihat begitu sangat marah namun sedih secara bersamaan karna tuntutan dalam setiap ucapan yang di lontarkan leon.


“Kenapa bunda?” Tanya leon membalas tatapan bunda yati sendu.


Bunda yati menarik napasnya dalam dalam. Keraguan yang di barengi dengan keyakinan tentang bramono yang bukan ayah kandung alesia sudah sejak lama bunda yati kubur dalam dalam. Tapi sekarang semua itu terkuak kembali karena rasya.


“Saya juga ragu leon.. Tapi saya juga yakin bramono bukan orangnya. Tapi.. Tapi saya tidak bisa menampik bahwa wajah alesia saat bayi bak pinang di belah 2 dengan wajah bramono. Mereka sangat mirip. Tapi le tidak pernah mengiyakan bahwa bramono orangnya. Le bahkan sampai bersumpah dengan nama tuhan. Lalu saya harus bagaimana? Wajah remaja SMA bernama bramono itu sudah berhasil membuat saya kecewa juga terluka. Karena apa? Karena putri kesayangan saya sampai meninggal tanpa mendapat keadilan.”


Leon menelan ludahnya mendengar ucapan panjang lebar bunda yati. Leon tidak pernah menyadari sedikitpun kemiripan alesia dan bramono. Tapi bunda yati berkata dengan tangisnya. Rasanya tidak mungkin jika wanita tua di depanya sedang berbohong.


“Sekarang apa lagi yang kamu mau tau hah? Apa kamu juga berniat membuka luka yang selama ini alesia kubur tentang penderitaan ibunya?”


Leon menggelengkan kepalanya. Rasa cintanya yang begitu dalam pada alesia membuat leon tidak bisa diam saja. Leon tau meskipun alesia tidak pernah memberitahunya tentang rasanya juga cinta terpendamnya pada sosok kedua orang tua yang tidak pernah di lihatnya.

__ADS_1


“Saya melakukan ini karna saya mencintainya bunda. Saya sangat mencintainya dari awal saya mengenalnya sampai sekarang dia menjadi milik saya. Saya hanya ingin kebahagiaan alesia lengkap. Saya ingin alesia mendapatkan cinta yang dari dulu dia harapkan.”


Bunda yati melengos. Ucapan leon mungkin memang benar. Alesia sangat mendambakan sosok ayah dan ibu kandungnya dari dia kecil bahkan mungkin juga sampai sekarang.


__ADS_2