
“Ale.. Kamu kenapa ngomong begitu sama rasya sih? Kamu kan tau bagaimana aku dan dia..”
Alesia tersenyum. Di sentuhnya lembut lengan kekar suaminya itu.
“Biar rasya nggak bingung kak. Kasihan dia.. Dia sudah merasa terhakimi dengan cek itu..”
Leon menghela napas kemudian berdecak. Kesal sekali rasanya. Entah apa maksud bramono melakukan itu. Dan entah bagaimana caranya bramono dan rasya bisa saling mengenal.
“Siapa bramono itu? Kenapa rasya bisa mengenalnya?” Bunda yati yang sedari tadi diam akhirnya bersuara.
Alesia menatap bunda yati. Rasya mengatakan bahwa pacar bramono juga pernah tinggal di panti itu. Dan alesia bisa menebak pacar yang bramono maksud pasti adalah ibunya.
“Bunda nggak tau siapa bramono?” Tanya alesia pelan.
Bunda yati menggelengkan kepalanya pelan membuat alesia menghela napas kemudian melirik leon yang masih memangku bela.
Apa aku harus mengatakan tentang siapa bramono pada bunda?
“Memangnya dia siapa? Dan siapa pacarnya yang pernah tinggal disini?” Bunda yati kembali bertanya dengan sangat penasaran.
Alesia menundukkan kepalanya. Alesia sendiri merasa tidak ingin mengungkit apapun tentang masa lalu ibunya. Tapi apa yang bramono lakukan membuat alesia tidak punya pilihan lain.
Leon yang berada di samping alesia diam diam memperhatikan wajah cantik istrinya yang tampak ragu juga bingung. Leon tau memang tidak mudah bagi alesia apa lagi itu menyangkut tentang ibunya.
“Jadi tuan bramono itu adalah teman dekat ibu waktu sekolah dulu bunda..” Jawab alesia pelan.
“Apa?!”
Raut keterkejutan terlihat jelas dari wajah tua bunda yati. Mendadak memori bunda yati berputar pada seorang remaja berseragam SMA yang datang dengan basah kuyup dan ngotot ingin menikahi alesia le yang sedang hamil besar malam itu. Bunda yati sendiri sampai sekarang masih bertanya tanya kenapa le tidak mau menemuinya. Padahal kalau memang remaja itu yang menghamilinya seharusnya le menuntut untuk di nikahi. Tapi sebaliknya, le malah menghindar dan enggan menemuinya.
“Ya bunda.. Apa bunda tau sesuatu? Dan apa mungkin dia ayah aku?”
__ADS_1
Kedua mata alesia berkaca kaca saat bertanya pada bunda yati. Meskipun memang alesia ingin tau, tapi alesia juga tidak berharap jawaban iya dari bunda yati. Bahkan kalau boleh meminta alesia tidak ingin bertemu dengan siapapun itu ayah kandungnya.
Bunda yati menghela napas dan memejamkan sesaat kedua matanya. Le tidak pernah mau mengakui siapa pria yang melakukan perbuatan bejat itu padanya. Tapi le pernah menangis dan ngotot bahwa bukan bramono orangnya.
Bunda yati kembali membuka kedua matanya. Dari kemiripan alesia memang sekilas mirip dengan remaja itu. Dari alis dan bentuk dagunya benar benar sama persis. Bahkan saat lahir wajah alesia benar benar sama dengan remaja bernama bramono di masa lalu. Tapi anehnya le dengan tegas terus mengatakan bahwa bramono teman yang paling baik yang pernah le kenal. Dan le pernah bersumpah demi nama tuhan bahwa bukan bramono yang melakukanya.
“Bukan nak.. Dia bukan ayah kamu. Dia memang dekat dengan ibu kamu.. Tapi bukan dia orangnya. Dia hanya seorang teman yang sangat tidak setia. Dia pergi setelah bersimpuh di kaki bunda dan memohon untuk bunda merestuinya menikahi ibu kamu..”
“Apa?”
Alesia menutup mulutnya dengan air mata yang menetes. Alesia merasa lega karna ternyata bukan bramono ayah kandungnya.
“Sudahlah.. Tidak usah di bahas. Ceknya biar bunda simpan saja. Bramono bukan siapa siapa nak. Tidak perlu di pikirkan.” Senyum bunda yati kemudian.
Alesia menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskanya berlahan.
“Ya bunda..” Angguknya kemudian.
Leon yang berada di samping alesia mengeryit. Leon merasa aneh dengan ekspresi bunda yati. Dan leon yakin bunda yati pasti menyembunyikan sesuatu.
Bunda yati menyudahi diskusinya tentang cek yang ternyata adalah pemberian dari bramono. Dan sikap bunda yati semakin membuat leon merasa curiga dan ingin mengetahui sesuatu yang belum dia ketahui tentang hubungan bramono dan ibu le.
Leon dan alesia membagikan berbagai mainan yang berada di bagasi mobilnya. Mereka berdua berbagi dengan penuh rasa gembira dan melupakan sejenak permasalahan tentang bramono dan cek itu.
“Hoam hmm...” Alesia menguap saat sedang mendengarkan salah satu anak dari panti itu bercerita tentang cita cita yang ingin di raihnya.
Ya, leon memang sengaja menanyakan satu persatu dari anak anak yatim piatu itu tentang cita cita dan keinginanya. Entahlah, saat berada di tengah tengah mereka leon merasa damai. Mungkin karna leon juga pernah merasakan hal yang sama dengan mereka yaitu hidup tanpa ayah dan ibu. Meskipun ada santi yang selalu ada untuknya. Leon juga merasa dirinya yang dulu sama dengan anak anak itu. Hanya bedanya leon hidup dengan sangat berkecukupan sedang anak anak itu tidak.
“Ngantuk yah?” Tanya leon menoleh pada alesia yang duduk di sampingnya.
Posisi alesia dan leon memang berada di tengah kerumunan anak yang tidak sabar ingin mengatakan keinginan juga cita citanya.
__ADS_1
“Iya nih kak... Badan aku juga rasanya sedikit pegal..” Jawab alesia.
“Ya udah.. Mending sekarang kamu istirahat aja. Atau mau pulang aja?”
Alesia menggelengkan kepalanya.
“Enggak usah kak.. Aku tidur disini aja ya, tapi temenin..”
“Ya udah yuk..” Senyum leon menganggukan kepalanya menuruti keinginan istrinya.
“Eemm.. Ranty kalau bunda nanyain kakak sama kak leon bilang aja kakak lagi istirahat siang. Sama kakak pake ranjang kamu sebentar yah..” Senyum alesia berkata pada seorang gadis remaja yang seumuran dengan rasya.
“Iya kak..” Angguk ranty.
Leon kemudian membantu alesia bangkit dari duduk lesehanya. Tidak lupa leon juga mengatakan pada anak anak itu mau menemani alesia istirahat.
“Kak... Bagaimana kalau ternyata tuan bramono adalah ayah kandungku?”
Leon berhenti melangkah mendengar pertanyaan alesia. Leon sangat yakin bukan bramono ayah kandung istrinya. Leon meyakininya bukan tanpa alasan. Leon meyakininya karna tau semuanya dari kepala sekolah SMP nusa bangsa yang ternyata adalah teman dekat bahkan teman sebangku ibu le saat masih sekolah dulu.
“Nggak usah mikir yang aneh aneh yah.. Tuan bramono bukan siapa siapa kamu.. Dia orang lain. Dia hanya orang yang pernah dekat dengan ibu di masa lalu..”
“Tapi kak..”
“Ssstt.. Percaya sama aku. Tuan bramono bukan ayah kandung kamu.” Sela leon lembut.
Alesia menghela napas kemudian menganggukan kepalanya. Meskipun sebenarnya alesia juga yakin bramono bukan ayahnya tapi rasa ragu itu juga terus menghampirinya. Bagaimanapun juga bramono adalah pria yang pernah dekat dengan ibunya dulu.
“Ya udah yuk istirahat. Aku temenin dan aku akan tetap di samping kamu sampai nanti kamu bangun dan membuka mata kamu..”
“Memangnya kamu nggak ke kantor lagi?” Tanya alesia menatap wajah tampan leon bingung.
__ADS_1
“Kerja mulu capek sayang. Mending tidur siang sama kamu..” Senyum leon menoel ujung hidung mancung alesia.
Alesia tertawa geli. Senang rasanya karna leon meskipun sibuk tapi tetap mau meluangkan waktu untuk menemaninya.