
Santi baru saja membersihkan dirinya saat mendengar suara ketukan di pintu kamarnya. Wanita itu menghela napas kemudian berjalan pelan menuju pintu kamar yang memang masih dia kunci.
“Kenapa inah?”
Kedua mata santi membulat setelah melihat dengan jelas siapa yang berdiri di depan pintu kamarnya. Bukan bi inah yang seperti di pemikiranya, tapi rico yang berdiri disana.
“Kamu..”
“Maaf ya tante kalau saya lancang. Tapi tadi saya sudah nunggu lama banget di bawah. Jadi saya naik deh.”
Santi memutar kedua bola matanya jengah. Santi masih merasa kesal karna rico pergi tanpa memberitahunya. Di tambah rico tidak pernah mengangkat telponya.
“Mau ngapain kamu kesini?” Tanya santi melengos enggan menatap rico.
Rico terdiam. Pria berponi itu tampak bingung juga ragu. Rico tau santi sedang marah padanya.
“Sebelumnya saya minta maaf karna pergi nggak bilang dulu sama tante. Saya juga nggak ngangkat telpon dari tante.”
“Itu nggak penting. Langsung saja jangan banyak basa basi.”
Rico menelan ludahnya. Santi menyela ucapanya.
Rico memejamkan kedua matanya. Rico tidak tau lagi harus kemana. Hanya santi yang mungkin saat ini bisa membantunya.
“Tante.. Saya kemarin pulang karna adik saya sakit dan harus di rawat di rumah sakit selama beberapa hari. Saya tidak mengangkat telpon tante karna saya..”
“Apa adik kamu baik baik saja?”
Rico menatap santi yang sudah berganti eskpresi. Wanita itu tampak khawatir menatapnya.
“Untuk saat ini sudah baik baik saja tante.. Tapi..”
“Tapi apa co?”
Rico menghela napas. Malu sebenarnya, tapi rico tidak tau harus kemana lagi. Lari pada alesia rasanya tidak mungkin. Karna alesia juga sedang marah padanya.
“Tapi saya meminjam uang pada tetangga saya untuk melunasi administrasi rumah sakit tante. Dan sekarang tetangga saya sedang membutuhkan uang itu..”
“Berapa? Berapa yang kamu pinjam sama dia? Mana nomor rekeningnya?”
Rico mengerjapkan kedua matanya terkejut dengan respon santi. Padahal rico pikir santi akan menertawakanya bahkan mungkin menghinanya.
“Kenapa diam? Mana?”
“Ah iya tante. Sebentar.”
__ADS_1
Rico merogoh saku celana jins belel yang dikenakanya meraih hp miliknya. Cepat cepat rico memberikan benda pipih itu pada santi.
“Atas nama siapa?” Tanya santi.
“Eemm Puji astuti tante.” Jawab rico.
“Ya sudah. Saya bawa hp kamu ke dalam dulu. Kamu tunggu sebentar.”
“Iya tante..” Senyum rico menganggukan kepalanya.
Saat santi masuk kembali ke dalam kamarnya rico menghela napas lega. Rico benar benar merasa sangat tertolong oleh santi sekarang.
“Tenang rico.. Kamu bisa menggantinya nanti.”
Tidak lama menunggu santi kembali keluar. Santi menyodorkan kembali hp milik rico.
“Bukti transferanya sudah saya kirim ke hp kamu.” Katanya.
Rico tersenyum. Lega sekali rasanya. Rico yakin dengan melunasi hutangnya pada tetangga ibunya di kampung ibunya pasti tidak akan lagi di datangi dan merasa terbebani.
“Sebentar ya tante. Saya telpon ibu saya dulu.”
“Ya.. Saya juga perlu ganti baju.”
Rico menatap santi dari atas sampai bawah. Pria itu tersenyum tipis melihat handuk yang masih menggulung di kepala santi juga kimono handuk yang masih membalut tubuh ramping janda cantik itu.
Pipi santi tiba tiba terasa panas. Rico sedang memintanya untuk menutup tubuhnya dengan benar.
“Memangnya kenapa? Suka suka saya mau pakai kaya gimana. Ngapain kamu ngatur ngatur saya? Memangnya kamu siapa?”
“Ya.. Kan saya cuma ngingetin tante. Itu juga kalau tante berkenan. Menurut saya tante cantik dengan baju yang lebih tertutup.” Senyum rico menjawab.
“Apaan sih. Lebay banget.”
Santi langsung menutup pintu kamarnya. Pipi dan telinganya semakin terasa panas mendengar nasehat yang di imbuhi pujian dari rico.
Santi tersenyum dengan tubuh bersender pada pintu kamarnya. Ucapan sederhana rico benar benar berpengaruh besar padanya.
“Tante..” Panggil rico dari luar.
“Apa lagi?!” Seru santi dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
“Makasih yah?! Nanti kalau sudah gajian saya ganti uangnya.”
Santi tidak perduli dengan apa yang di katakan rico. Baginya setiap uang yang sudah dia keluarkan untuk kebaikan adalah sebuah kewajiban. Santi tidak mengharap apapun dari perbuatan baik yang di lakukanya. Asal santi mampu dan punya santi pasti akan berbagi pada siapapun.
__ADS_1
Santi terus mencuri curi pandang pada rico yang sedang mengemudikan mobilnya. Ya, pagi ini rico dengan suka rela menawarkan diri untuk mengantar santi ke kantor.
”Tante.. Saya benar benar terimakasih banget.. Tante sudah mau menolong saya..” Senyum rico menatap santi sekilas.
Santi melengos. Santi harus berpura pura tetap marah pada rico untuk menjaga gengsinya sendiri.
“Bisa diam tidak?”
Senyum rico langsung sirna. Rico tau santi masih marah padanya.
“Ya tante. Oh iya tante tadi sebelum saya ke rumah tante saya sempet masak. Cuma nasi goreng sih. Saya bawain buat tante. Tante mau?”
Santi tersenyum diam diam. Apa yang di lakukan rico memang sederhana tapi mampu membuatnya tersanjung.
“Saya ambilin ya tante.”
Rico menepikan mobilnya di jalan yang cukup sepi. Pria itu kemudian meraih ranselnya yang dia taruh di kursi belakang mobil santi. Rico mengeluarkan sebuah kotak makan berwarna pink kemudian menyodorkanya pada santi.
Santi terdiam sesaat. Di tatapnya kotak makan berwarna pink yang di sodorkan oleh rico. Santi merasa benar benar bahagia sekarang. Rico datang pagi pagi, mengetuk pintu kamarnya sendiri. Dan rico adalah orang pertama yang santi lihat pagi ini bahkan sebelum bi inah.
“Cuma nasi goreng sederhana sih tante.. Untuk rasanya mohon tante maklum yah.. Saya nggak pandai dalam bidang masak memasak.”
Santi menerima kotak makan tersebut kemudian membukanya. Senyumnya mengembang melihat telur mata sapi yang di bentuk seperti emoji tersenyum.
Ya tuhan.. Ini pertama kalinya ada pria yang memperlakukanku seperti ini.. Dan telur mata sapi ini membuat bibir ini tidak bisa untuk tidak tersenyum.
“Ah ya.. Sendoknya tante.”
Rico merogoh kembali ranselnya. Rico mengeluarkan sendok yang di bungkus dengan tisu. Rico membuka tisu yang menjadi pembungkus sendok tersebut kemudian memberikanya pada santi.
“Saya coba ya?”
Rico menganggukan kepalanya. Nasi goreng itu memang sengaja rico buatkan untuk santi. Dan itu sebagai tanda maafnya. Rico tidak bisa memberikan apa apa pada santi. Uangnya benar benar sudah tidak ada dan hanya tersisa untuk membeli bensin. Dan rico pikir mungkin santi mau menerima pemberian sederhananya.
“Gimana tante?”
Rico menatap santi yang mulai mengunyah nasi goreng buatanya. Rico sangat berharap santi menyukai rasa nasi goreng buatanya.
“Lumayan enak..”
Santi mengangguk sambil kembali menyendok nasi goreng itu dan menyuapkan ke dalam mulutnya. Sebenarnya santi sudah sarapan tapi merasakan nasi goreng buatan rico membuat rasa kenyang santi hilang sehingga santi ingin menghabiskan nasi goreng tersebut.
“Syukurlah..”
Santi melirik rico diam diam. Dan saat itu santi baru menyadari bahwa rico adalah pria tampan dengan wajah kebule buleanya.
__ADS_1
Ya tuhan.. Kenapa aku baru sadar kalau dia sangat tampan.