
Malamnya leon merenung di ruangan kerjanya di lantai bawah. Leon sangat merindukan sosok baik tantenya. Sosok yang berhasil mengayomi dan mendidiknya dengan baik. Sosok yang sudah sangat berjasa karna berperan sebagai ayah dan ibu untuk leon.
Leon melirik hp nya kemudian menghela nafas. Menelpon pun tidak akan di angkat oleh santi. Sepertinya memang santi sangat kecewa padanya.
Apa yang aku lakukan salah? Aku hanya ingin yang terbaik untuk istri dan anakku.
“Pokonya tante nggak mau tau. Pulang nanti tante harus bawa piala hasil prestasi kamu leon. Kalau tidak uang jajan kamu tante potong.”
Leon tersenyum mengingat masa kecilnya. Saat itu dirinya masih duduk di bangku SMP. Santi begitu semangat saat akan mengambil raportnya. Padahal saat itu santi sendiri sedang ada masalah dengan bramono. Santi sedang menjalani proses perceraian dengan pria itu.
“Tante.. Leon kangen tante yang dulu.. Tante yang ceria dan penuh kasih sayang..” Gumam leon meneteskan air matanya.
Leon langsung mengusap pipinya yang basah. Leon akui dirinya memang cengeng sekarang.
Ingatan leon kembali ke masa lalunya. Tepatnya saat hari kelulusanya. Santi begitu sibuk menyiapkan semuanya. Santi bahkan sampai merayakan kelulusanya. Apa lagi saat itu juga leon mendapat peringkat pertama dari seluruh angkatanya. Santi begitu bangga padanya sampai santi mencari sendiri sekolah menengah atas terbaik di kotanya untuk leon saat itu.
“Kamu harus nurut sama tante leon. Jangan hiraukan teman teman kamu yang mau masuk ke sekolah biasa. Kamu punya prestasi dan tante tidak mau kamu menyia nyiakan itu.” Katanya saat itu.
Leon tertawa pelan. Dari situlah semuanya di mulai. Santi mengatur semuanya. Santi tidak pernah sekalipun membiarkan leon melakukan semaunya. Semuanya berada di pantauan santi.
Dulu leon tidak pernah mempermasalahkanya. Leon mengikuti semuanya. Tapi itu sudah tidak berlaku lagi sekarang. Pikiran leon sudah berubah. Leon bukan lagi seorang anak sekolahan atau anak kuliahan. Leon adalah seorang kepala keluarga. Leon seorang suami yang memang sudah seharusnya membahagiakan istri juga anaknya.
”Siapa dia leon?”
Pertanyaan santi kembali terngiang di telinga leon. Saat itu pertama kalinya leon mengenalkan pujaan hatinya pada santi. Leon yang masih mengenakan seragam putih abu abunya malu malu mengajak pacar pertamanya bertamu ke rumahnya.
__ADS_1
Namanya nina mayangsari. Bukan gadis kaya atau primadona sekolah. Nina hanya seorang gadis biasa dengan skill yang setara dengan leon saat itu. Nina juga hanya putri dari seorang penggali kubur yang tentunya sangat jauh berbeda dengan leon yang adalah putra pengusaha kaya.
Saat itu santi menyambut dengan senang kedatangan nina. Santi bahkan sangat menyukai nina. Santi juga setuju leon dan nina menjalin sebuah hubungan lebih dari teman. Mulai hari itu santi semakin akrab dengan nina. Santi bahkan sering membawakan makanan untuk nina juga adik serta kedua orang tuanya. Santi begitu baik dan perhatian pada nina. Sampai di hari kelulusanya dari SMA nina memutuskan hubunganya dengan leon karna harus mengejar cita citanya. Leon sangat sedih saat itu. Tapi leon mencoba berlapang dada. Leon tau nina memiliki cita cita sama seperti dirinya.
“Sabar ya leon.. Kalau memang jodoh kamu dan nina pasti bisa bertemu lagi.” Hibur santi saat itu.
Leon memejamkan kedua matanya. Santi bisa sangat baik pada nina dulu. Tapi kenapa santi sangat membenci alesia. Padahal jika di bandingkan alesia dan nina sangatlah jauh berbeda. Leon tidak munafik meskipun keras kepala tapi istrinya sangat penyabar. Emosi alesia tidak mudah membludak seperti nina. Dan alesia juga mampu bertahan begitu sangat lama hidup seatap dengan santi. Memang beberapa kali alesia meminta leon untuk pindah tapi alesia selalu diam dan tidak menuntut setelah leon menolak dengan lembut.
“Alesia jelas wanita yang sangat baik tante. Tapi kenapa tante tidak pernah mau membuka hati tante untuk alesia?”
Leon menelan ludahnya. Entah apa yang harus leon lakukan supaya santi mau menerima istrinya. Alesia sudah sangat baik dengan tidak mempunyai sikap dendam pada santi. Alesia menerima semua perlakuan santi meskipun memang kadang marah karna leon tidak membelanya. Tapi alesia tidak pernah menjelekan santi pada leon. Alesia bahkan tidak pernah menceritakan apapun pada leon tentang perlakuan santi padanya.
“Kurang baik apa lagi alesia tante..?”
Tapi pada pingkan, entah dimana baiknya wanita itu leon sendiri bingung. Pingkan jelas wanita yang juga sudah pernah menikah. Pingkan pernah mengalami kegagalan sama seperti santi. Tapi santi bisa begitu sangat menyukainya. Santi juga dengan sadar mendukung pingkan untuk mendekati leon. Bukan mendukung, tapi menyuruh. Dan santi menganggap wanita yang mau mendekati pria beristri itu wanita baik. Benar benar pandangan yang sangat keliru.
“Kakak..”
Lamunan leon langsung buyar begitu mendengar suara alesia. Leon langsung mengarahkan pandanganya pada alesia yang berdiri di ambang pintu ruang kerjanya.
“Kamu kok aku tungguin lama banget sih. Pacaran mulu sama berkas berkas itu.”
Alesia menatap kesal pada leon. Alesia mengerucutkan bibirnya protes pada leon yang begitu betah melamuni masa lalunya sehingga lupa dengan alesia yang sedang menunggunya di kamar mereka.
Leon tertawa pelan. Leon mengaku berdosa karna sempat mengingat mantan pacar pertamanya. Leon seharusnya tidak perlu mengingat tentang nina.
__ADS_1
Leon bangkit dari duduknya. Namun sebelumnya leon tidak lupa menutup laptopnya lebih dulu. Leon melangkah pelan menghampiri alesia yang bersedekap menatap sebal padanya dengan bibir mengerucut. Begitu menggemaskan menurut leon.
Setelah sampai di depan alesia leon terdiam. Leon menatap dalam wajah cantik istrinya. Kecantikan yang bukan hanya dari rupa tapi juga dari hati.
“Ck, ngapain sih liatin aku begitu.” Judes alesia.
Leon tertawa lagi. Bebepa hari ini alesia memang gampang sekali merajuk. Tapi leon maklum karna dokter lena mengatakan peningkatan hormon pada wanita hamil bisa memicu beberapa hal. Salah satunya mudah emosi.
“Kamu cantik banget sih. Aku jatuh cinta.” Kata leon tersenyum.
Kedua mata alesia terbelalak mendengarnya. Apa yang di katakan leon terlalu bahkan sangat lebay menurutnya. Leon memang pria yang romantis. Tapi leon bukan tipe pria yang suka merayu dengan kata kata manis sebagai gombalan.
“Apaan sih kamu kak. Geli tau nggak.”
Alesia bergidig ngeri. Leon yang di kenalnya bukan pria bermulut manis seperti sekarang.
“Memangnya kenapa? Kan nggak papa. Jatuh cinta sama istri sendiri ini.”
Alesia memutar kedua bola matanya jengah. Alesia menghela nafas kemudian meraih tangan besar suaminya.
“Aku lagi nggak mau di gombalin kak. Aku mau di temenin tidur sekarang.” Katanya sambil menarik tangan leon dan mengajak pria itu berlalu dari ruang kerjanya.
“Oke oke...” Angguk leon mengikuti langkah istri tercintanya.
Ale.. Apa kamu akan tetap seperti ini kalau aku jujur nanti?
__ADS_1