
“Masakan kamu enak banget sayang. Besok sarapanya itu lagi ya.. Teh manisnya juga pas banget. Nggak kemanisan nggak kepaitan juga. Aku suka..”
Alesia tertawa mendengarnya. Alesia merasa senang karna usahanya tidak sia sia. Leon menyukai hasil masakanya.
“Iya deh iyaaa.. Besok aku masakin yang lain yang lebih enak buat kamu..”
Leon tersenyum. Dengan lembut di belainya pipi chuby alesia.
“Aku berangkat yah.. Kamu hati hati di rumah. Kalau tuan bramono datang lagi kamu ngumpet aja nggak usah di temuin.”
“Ok boss..”
Alesia memberi hormat pada leon yang memberinya petuah agar menghindari bramono.
“Gituh dong nurut sama suaminya.. Ya udah aku berangkat yah..”
Leon mengecup kening alesia sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil mewahnya yang sebelumnya sudah di panasi oleh pak no.
“Hati hati..”
Alesia tersenyum manis dengan melambaikan tanganya pada leon.
Tuhan.. Lindungi suami hamba dimanapun dia berada.
Sementara di dalam mobilnya leon menghela napas. Pria tampan itu merasa lega karna akhirnya dirinya dan alesia bisa saling memaafkan sehingga kini hubunganya dan alesia sudah kembali hangat dan harmonis.
Leon menambah kecepatan laju mobilnya. Leon tidak mau terlambat dalam menghadiri rapat pentingnya pagi ini.
Sekitar 20 menit perjalanan mobil leon akhirnya sampai di parkiran depan perusahaanya. Leon langsung turun setelah memarkirkan mobilnya kemudian segera melangkah cepat memasuki gedung pencakar langit itu.
“Pagi pak...”
“Ya, pagi..”
__ADS_1
Leon membalas sapaan setiap karyawan yang berpapasan denganya dengan senyuman ramah yang menghiasi bibirnya. Ekspresi leon pagi ini adalah sebuah perwakilan dari suasana hatinya.
Leon memasuki lift untuk menuju lantai dimana ruanganya berada. Disana leon sudah di tunggu oleh sekertarisnya karna rapat pentingnya sebentar lagi akan segera di mulai.
“Semuanya sudah datang?” Tanya leon pada sekertaris yang melangkah di belakangnya dengan terburu buru.
Ya, saat ini memang mereka berdua sedang melangkah menuju ruang rapat dimana semua yang seharusnya hadir sudah menunggu leon disana.
“Sudah pak.. Mereka hanya tinggal menunggu pak leon saja.” Jawab sekertaris leon.
Leon menganggukan kepala kemudian segera mempercepat langkahnya. Leon tidak mau membuat mereka semua menunggu lama.
Bramono menatap sendu panti asuhan tempat dulu kekasihnya tinggal. Siapa lagi kalau bukan alesia le atau ibu le.
Bramono menghela napas. Pikiranya menjadi kacau setelah mengetahui siapa alesia sebenarnya. Apa lagi alesia juga adalah istri dari keponakan santi, mantan istrinya.
Bramono bertanya pada dirinya sendiri. Dari awal pertemuanya dengan ibu le hidupnya terasa sangat indah. Namun saat perpisahan mereka tiba semuanya hancur berantakan. Ke indahan itu sirna begitu saja meninggalkanya dan membuat bramono terpuruk dalam kesedihanya.
Ingatan bramono berputar pada saat dirinya masuk mengendap endap ke dalam kamar ibu le. Saat itu bramono melihat ibu le dengan perut besarnya sedang duduk di atas ranjang dengan mengusap penuh sayang janin yang sedang di kandungnya. Pernah terbesit di benak bramono apakah pria yang melakukan itu pada ibu le adalah pria yang sangat ibu le cintai sehingga ibu le bahkan tidak terlihat menyesal meski hamil di usia muda bahkan di luar nikah sampai harus di keluarkan dari sekolah. Menurut bramono kehamilan ibu le justru menghancurkan masa depan ibu le saat itu. Tapi anehnya ibu le tidak pernah berpikir seperti yang bramono pikirkan. Ibu le tetap menganggap janin dalam kandunganya adalah anugerah dan titipan dari tuhan untuknya.
“Apa mungkin pria itu pria yang kamu cintai le? Lalu bagaimana denganku? Apa kau tidak mencintaiku saat itu?”
Bramono memejamkan kedua matanya. Bramono masih bisa merasakan kerasnya tamparan ibu le saat ibu le menolak untuk menikah dengan bramono. Sejak saat itu ibu le tidak pernah lagi mau menemuinya tanpa kata putus atau perpisahan apapun.
“Lebih baik kamu pergi. Le tidak membutuhkan kamu atau siapapun. Tapi perlu kamu tau, saya tidak akan pernah bisa memaafkan kamu. Kamu sudah menghancurkan masa depan anak saya. Dan kamu sudah menghancurkan semuanya.”
Kata kata bunda yati terngiang kembali di telinga bramono. Bunda yati mengatakanya dengan tatapan penuh luka juga emosi. Bramono masih sangat mengingat bagaimana bunda yati mengatakanya. Bibir bunda yati bergetar saat itu dengan suara tersendat karna menahan tangis. Kedua matanya berkaca kaca menandakan bunda yati sangat terluka.
Mungkin sampai saat ini bunda yati mengira bramono yang menghamili ibu le. Mungkin juga bunda yati menganggap bramono memaksa ibu le melakukanya.
“Tapi kenapa? Kenapa bunda yati tidak mengizinkan aku untuk menjelaskan semuanya? Kenapa dia tidak mendukungku untuk menikahi kamu le.. Ada apa sebenarnya? Kenapa semuanya membingungkan?”
__ADS_1
Bramono menghela napas. Andai saat itu ibu le tidak hamil mungkin sampai saat ini mereka masih bisa bersama, merajut cinta yang indah dan hidup bahagia bersama anak anak mereka.
“Aku harus temui leon. Aku harus tanya sama dia.”
Bramono kembali menghidupkan mesin mobilnya kemudian melaju dengan kecepatan sedang untuk menuju perusahaan leon. Bramono tidak punya pilihan lain. Hanya leon yang mungkin bisa membantunya saat ini.
“Apa? Rasya memberikan cek sama bunda?”
Alesia menggeleng tidak percaya mendengar penuturan bunda yati lewat sambungan telpon. Rasya hanya seorang anak SMP. Rasanya sangat tidak mungkin jika rasya mengenal orang kaya yang begitu baik dengan memberinya cek bernilai tinggi secara cuma cuma.
“Ya nak, makanya bunda bingung. Tapi bunda masih menyimpan ceknya. Nanti bunda photo terus bunda kirim ke kamu yah..” Kata bunda yati.
“Iya bunda.. Tapi bunda apa bunda sudah menanyakan siapa orang yang memberi rasya cek itu?” Tanya alesia penasaran.
“Iya. Bunda sudah menanyakanya. Tapi rasya bilang dia adalah temanya. Namanya om bram.”
Alesia mengeryit. Selama alesia tinggal di panti asuhan itu hampir semua orang yang mau memberi santunan pasti datang secara langsung dan menemui bunda yati. Tidak seperti orang yang malah menitipkan cek pada rasya.
“Ya sudah.. Bunda tenang saja. Semuanya pasti akan baik baik saja kok. Mungkin orang itu memang kenal sama rasya. Dan mungkin juga dia masih sibuk jadi belum sempat datang langsung untuk menemui bunda. Bunda simpen dulu aja ceknya nanti baru bunda cairin uangnya kalau orang yang bernama bram itu datang ke panti.”
“Ya... Mungkin memang lebih baik begitu. Ya sudah kalau begitu bunda tutup ya telponya. Kamu jaga selalu kesehatan kamu nak.. Jaga juga calon cucu bunda. Salam untuk suami kamu.”
“Ya bunda. Bunda juga jaga kesehatan. Nanti kalau kak leon nggak sibuk kita pasti datang ke panti.”
“Ya sayang bunda tunggu.”
Sambungan telpon di tutup setelah itu. Alesia menghela napas. Entah kenapa tiba tiba alesia berpikir tentang bramono.
Sebuah notifikasi masuk ke hp alesia. Dengan segera alesia membukanya dan mengeryit melihat photo cek dengan nilai tinggi yang di kirim oleh bunda yati.
“Siapa om bram yang di maksud rasya sebenernya?”
__ADS_1