Sebuah Rasa

Sebuah Rasa
Bukan bramono


__ADS_3

Rico mengepalkan kedua tanganya melihat santi dan sosok yang di anggapnya bramono sedang berhadapan. Tidak mau santi terluka karna bramono rico pun segera turun dari motor gedenya dan segera melangkah cepat mendekat pada santi.


“Tante..”


Santi menoleh dan terkejut mendapati rico yang sudah berada di sampingnya.


“Kamu..”


“Jangan ganggu calon istri saya.”


Kedua mata santi terbelalak mendengar ucapan tajam rico pada pramono. Santi yakin rico pasti salah mengerti dan menganggap pramono adalah bramono.


“Rico kamu..”


“Tante nggak usah khawatir. Ada saya disini. Saya nggak akan membiarkan dia menyakiti tante.”


Santi menggelengkan kepalanya.


Ya tuhan.. Bagaimana ini..


Pramono mengeryit mendengar apa yang di katakan oleh rico. Pria berparas bule dengan poni yang menutupi keningnya. Benar benar gaya imut kekanak kanakan menurut pramono.


“Kamu calon suami santi?” Tanya pramono.


Rico menatap sosok yang di anggapnya bramono kemudian menyipitkan kedua matanya. Dari awal bramono sudah tau bahwa rico adalah kekasih santi bahkan calon suaminya.


“Santi, Apa benar apa yang dia katakan? Bocah ini calon suami kamu?”


Santi menelan ludahnya. Semuanya akan kacau jika sampai pramono ikut campur.


“Apa kamu sudah gila santi? Pemuda ini masih sangat muda bahkan sepertinya lebih muda dari keponakan kamu.”


Rico mengangkat sebelah alisnya. Pria di depanya seperti orang yang baru mengetahui tentang rico yang adalah calon suami santi.


“Tante dia..”


Santi mendelik pada rico memberi isyarat ancaman agar rico berhenti berbicara. Santi tidak mau jika sampai pramono mengatakan semuanya di depan rico tentang hubungan masa lalunya dan bramono.


“Pram.. Saya tidak mau ada salah faham di antara kita. Dan ini, dia rico. Teman saya.” Kata santi.


Rico semakin bingung. Santi mengakuinya sebagai calon suami saat itu, tapi sekarang santi mengakuinya sebagai teman. Benar benar sangat aneh.

__ADS_1


“Rico.. Ayo..”


Santi meraih tangan rico hendak mengajak rico berlalu dari hadapan pramono namun dengan sigap pramono mencegahnya.


“Pram saya...”


“Aku kesini sengaja untuk menemui kamu santi.” Selanya.


Santi menahan napasnya sejenak. Pramono akan membuat hubunganya dan rico kacau jika di biarkan.


“Saya tidak perduli.”


“Tapi aku masih punya harapan pada kamu.” Saut pramono cepat.


Rico mengepalkan kedua tanganya. Ingin sekali rico melayangkan tinjunya pada wajah memuakan pria di depanya.


“Apa maksud..”


“Rico. Sudah. Kita pulang saja.” Sela santi.


Rico menghela napas. Entah apa maksud santi menyela setiap ucapanya tapi rico yakin santi hanya tidak ingin menimbulkan masalah baru.


“Pram.. Maaf saya harus pulang.”


Santi segera melangkah cepat dan menarik tangan rico berlalu dari hadapan pramono menuju mobilnya. Santi tau bagaimana pramono. Pramono tidak jauh berbeda dengan bramono adiknya. Pramono bahkan jauh lebih parah dari bramono.


“Tante saya...”


“Rico saya mau pulang sekarang. Tolong jangan menanyakan apapun dulu. Ini kunci mobilnya.” Sela santi cepat sambil memberikan kunci mobilnya pada rico.


Rico terdiam. Rico kemudian menghela napas dan menganggukan kepalanya. Rico sebenarnya sangat penasaran. Apa lagi mendengar bahwa bramono masih mempunyai harapan pada santi.


Ada hubungan apa sebenarnya tante dan tuan bramono di masa lalu? Kenapa tante santi bahkan tidak pernah memberitahuku?


Rico menatap santi yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil dan duduk di samping kemudi. Rico sangat ingin tau semuanya tentang santi semenjak rasa indah itu tumbuh dan berkembang dengan subur di hatinya.


Harus pada siapa aku bertanya? Pak leon, dia sama aroganya dengan tante santi.


“Rico ayo..”


Rico tersentak mendengar seruan santi. Tidak mau santi berubah pikiran dan pulang sendiri rico pun segera melangkah menuju pintu mobil. Namun saat hendak masuk ke dalam mobil santi rico kembali menoleh pada sosok pramono yang rico pikir adalah bramono.

__ADS_1


Rico menghela napas kemudian masuk ke mobil santi dan langsung tancap gas tanpa memperdulikan motornya yang terparkir di tepi jalan di depan gedung perusahaan santi.


Sepanjang perjalanan menuju rumahnya santi terus saja diam. Tatapanya terus lurus ke depan dan sama sekali tidak melirik pada rico yang berada di sebelahnya.


“Tante... Tentang tuan bramono.. Saya sangat penasaran.”


Rico memberanikan diri bersuara. Rico tidak bisa menahan rasa ingin taunya tentang santi dan bramono di masa lalu.


“Saya ingin tau ada hubungan apa tante dan tuan bramono di masa lalu. Dan juga apa yang dia maksud tentang punya harapan pada tante?”


Santi memejamkan kedua matanya. Hubunganya dan bramono juga pramono memang sangat sulit untuk di mengerti oleh orang lain. Santi dulu mencintai bramono tapi diam diam pramono juga mencintai santi. Sampai tiba saatnya bramono melamarnya pramono pun mengungakapkan perasaanya. Santi sangat bingung saat itu tapi santi tetap kukuh memilih bramono yang saat itu jauh lebih baik dari pramono.


Bramono adalah pria penyayang, penuh perhatian juga baik. Tapi pramono, dia adalah playboy yang suka gonta ganti pasangan. Santi memang lebih dulu mengenal pramono karna saat itu mereka berdua tidak sengaja bertemu di universitas di amerika tempat mereka menimba ilmu. Tapi sedikitpun santi tidak pernah menyukai pramono apa lagi sampai memiliki rasa indah yang di sebut cinta. Santi hanya menganggap pramono sebagai teman.


Rico melirik santi yang memejamkan kedua matanya. Rico bingung sekarang. Rico ingin bertanya lagi tapi takut santi marah. Tidak bertanya tapi merasa sangat penasaran.


“Kita berhenti di depan ya.” Kata santi pelan.


“Ah ya tante.” Angguk rico menurut.


Rico menepikan mobilnya begitu sampai di taman yang berada di tengah kompleks tempat dimana santi tinggal. Sekali lagi rico melirik santi yang sudah kembali membuka kedua matanya.


“Apa yang akan kamu lakukan jika tau semuanya?” Tanya santi dengan tatapan terus lurus ke depan.


“Tidak ada tante. Saya hanya ingin tau semua tentang tante.” Jawab rico.


Rico memang tidak ada keniatan apapun. Rico hanya ingin tau semua tentang santi. Wanita yang sudah berhasil menarik bahkan menguasai hati juga pikiranya. Santi memang lebih tua darinya. Bahkan mungkin usia santi terpaut tidak jauh dengan usia ibunya.


“Kamu tau rico? Saya itu janda. Saya pernah menikah. Dan bramono, dia mantan suami saya.”


Santi berkata dengan senyuman mirisnya. Hubungan indahnya dengan bramono berakhir dengan sangat menyakitkan menyisakan luka mendalam yang bahkan sempat membuatnya trauma.


“Apa?” Keterkejutan terlihat jelas di wajah tampan rico.


Pria tampan berponi dengan jaket kulit coklat gelap itu benar benar tidak menyangka jika ternyata santi adalah seorang janda. Padahal rico sempat berpikir bahwa santi adalah wanita singel yang tidak laku karna terlalu kaya juga terlalu galak. Benar benar pemikiran yang sangat bodoh.


“Kami bercerai setelah hampir satu setengah tahun menikah.”


Rico terdiam. Pantas saja santi pernah memintanya menjadi seperti bramono.


“Yang kamu lihat tadi, itu bukan bramono. Dia kakak kembarnya bramono. Namanya pramono.”

__ADS_1


__ADS_2