Sebuah Rasa

Sebuah Rasa
Aku berbohong lagi


__ADS_3

“Kamu kenapa sih ale? Makananya tidak enak? Atau kamu mau makan yang lain?”


Alesia menggerakan matanya menatap pada leon yang ada di kursi paling ujung di meja makan. Alesia benar benar tidak bisa melupakan apa yang di katakan santi siang tadi.


Tante santi benar.. Kak leon pasti akan mengakui apapun jika memang kak leon benar benar mencintaiku..


Leon mengeryit. Bukanya menjawab, alesia malah menatapnya dengan tatapan yang sama sekali tidak bisa leon artikan.


“Ale..”


“Kak...”


Panggilan alesia menyela apa yang ingin di ucapkan leon.


“Ya..”


“Kemarin bunda datang kesini dan mengatakan sesuatu tentang kamu. Bunda bilang kamu sempat mengatakan sesuatu tentang masa lalu kamu.. Dan aku pikir masa lalu kamu pasti berhubungan dengan tante santi.”


Jeda sejenak. Alesia bingung harus bagaimana mengatakanya. Alesia juga takut leon merasa kecewa karna menganggap alesia meragukanya.


“Jujur kak.. Aku sedikit merasa ragu sama kamu yang sekarang. Aku merasa kamu penuh rahasia juga teka teki.” Lanjut alesia.


Leon terdiam. Dengan pelan leon menelan makanan yang berada di dalam mulutnya. Leon tidak menyangka alesia bisa begitu jeli membaca setiap gerakan juga ucapanya. Dan lagi bunda yati, wanita itu bahkan juga bisa merasakan kebohongan leon.


Ya tuhan.. Apa semuanya akan berakhir begitu saja..


“Kak.. Aku sebisa mungkin meyakinkan hati aku untuk tidak berpikiran buruk sama kamu. Aku juga sebisa mungkin mengenyahkan setiap keraguan yang bersarang di hati aku.. Tapi semua itu tetap saja ada kak.. Keraguan itu ada bahkan kian hari kian besar. Aku bingung.. Sementara kamu.. Kamu terus mengatakan tidak mengingat apapun..”


Buliran bening mulai lolos dari kedua mata alesia dan menetes membentuk anak sungai di pipi chuby wanita hamil itu.


“Aku percaya kak sama kamu.. Aku juga sangat mencintai kamu.. Tapi aku merasa semuanya janggal. Mungkin cinta kamu nyata. Tapi tingkah kamu, itu benar benar seperti bayangan. Terlihat jelas tapi sebenarnya hanya tiruan semu.”

__ADS_1


Leon benar benar tidak bisa berkutik. Melihat alesia menangis membuat leon ikut merasakan sakit di hatinya.


Apa alesia akan sangat marah kalau aku jujur sekarang? Tapi demi tuhan.. Waktunya belum tepat..


Leon menarik napasnya dalam dalam kemudian menghembuskanya berlahan lewat mulut.


“Kamu apaan sih sayang.. Jangan melow gitu deh.. Aku nggak keberatan kok kalau kamu memang merasa ragu. Yang penting aku tau kamu adalah wanita yang sangat mencintai aku.. Dan juga tentang bunda yati.. Aku hanya menyamakan tentang masa kecil kita. Yah.. Hanya sebagian yang aku ingat..”


Leon mengatakanya dengan sangat lancar. Ekspresinya pun begitu santai dengan senyum manis yang menghiasi bibirnya. Sandiwara yang benar benar patut di acungi jempol.


Aku berbohong lagi..


Leon sendiri sebenarnya tidak tau dengan jalan pikiranya. Dan leon merasa sepertinya dirinya sudah ketagihan berbohong. Leon bahkan bisa begitu lancar mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak sesuai dengan kenyataan. Mungkin juga jika leon seorang penipu sudah banyak korban korban yang termakan oleh omonganya.


Alesia mengeryit. Leon masih bisa begitu santai dan tersenyum manis meskipun tau alesia meragukanya. Padahal dulu leon selalu marah dan diam jika sedikit saja alesia jujur dengan keraguanya pada rasa cinta leon.


“Kak kamu..”


Ucapan alesia menggantung saat tiba tiba leon menyentuh dan menggenggam lembut tanganya.


Alesia menelan ludahnya. Di tatapnya leon tepat pada kedua mata teduhnya. Alesia tidak menemukan apapun dari sorot mata suaminya selain kejujuran juga ketakutan. Entah ketakutan apa yang sedang di rasakan leon alesia sendiri tidak tau.


“Sudah yah.. Kamu nggak usah mikir macem macem.. Aku takut apa yang kamu pikirkan akan mengganggu kesehatan kamu..” Lanjut leon tetap tersenyum menatap wajah penuh air mata istrinya.


Leon mengangkat tanganya dan dengan lembut mengusap air mata yang membasahi pipi chuby istrinya. Leon sadar dirinya memang salah, bahkan salah besar. Tapi leon juga tidak mau sandiwaranya berakhir sia sia. Leon bukan tidak mau jujur pada istrinya. Leon hanya sedang mencari waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya.


“Kak.. Aku minta maaf.. Aku sudah meragukan kamu..” Lirih alesia.


Leon menggelengkan kepalanya. Perasaan ragu alesia padanya tidak salah. Leon memang berbohong dan menyembunyikan kesembuhanya dari alesia. Karna itu leon bisa maklum dengan apa yang alesia rasakan. Perasaan wanita memang sangat lembut juga peka. Leon menyadari itu.


“Aku yang minta maaf ale.. Aku minta maaf karna sudah membuat kamu ragu juga tidak tenang...”

__ADS_1


Alesia tersenyum kemudian menganggukan kepalanya.


“Oya sayang besok bukanya jadwal kamu cek ke dokter yah? Bagaimana kalau kita lakukan USG lagi.”


Leon mengalihkan pembicaraan karna tidak mau alesia semakin merasa curiga yang tentu saja akan berdampak buruk pada pikiran juga kesehatan ibu hamil itu.


“USG lagi?” Tanya alesia mengeryit.


“Ya.. Aku ingin tau anak kita itu cowok atau cewek..” Senyum leon menjawab.


Alesia terdiam sesaat namun akhirnya menganggukan kepalanya setuju dengan apa yang di katakan suaminya.


“Oke..” Senyum alesia.


“Ya udah lanjutin makanya. Abis ini jangan lupa minum vitamin terus istirahat.”


“Terus kakak mau ngapain setelah ini?” tanya alesia cepat.


“Aku?”


Leon menunjuk dirinya sendiri. Leon sudah menyelesaikan semua pekerjaanya sore tadi. Tapi leon merasa membutuhkan waktu untuk sendiri setelah ini, tentu saja untuk memikirkan semuanya. Memikirkan bagaimana dan kapan waktu yang di rasa tepat untuk mengatakan semuanya pada alesia.


“Aku masih ada sedikit pekerjaan ale.. Kamu istirahat saja dulu. Nanti aku nyusul..” Senyum leon mengusap lembut pipi chuby alesia.


Alesia menghela napas. Berada di rumah setiap hari tanpa melakukan aktivitas apapun membuat alesia merasa suaminya sangatlah sibuk. Padahal dulu saat alesia masih menjadi model alesia merasa leon selalu ada untuknya. Kapanpun dan dimanapun. Namun setelah dirinya menetap di rumah alesia baru sadar jika ternyata suaminya adalah pria yang super sibuk dengan segudang pekerjaan yang selalu berhasil menyita waktunya.


“Ya sudah kalau begitu.”


Alesia mengatakanya dengan helaan napas yang keluar dari mulutnya.


Selesai makan malam leon mengantar alesia ke kamar tentunya setelah memberikan vitamin pada istri tercintanya itu.

__ADS_1


“Temani aku sebentar ya kak.. Setidaknya sampai aku memejamkan mata..” Pinta alesia.


Leon tersenyum dan menganggukan kepalanya. Leon kemudian ikut membaringkan tubuhnya di samping alesia. Di rengkuhnya tubuh alesia penuh kasih sayang juga cinta. Leon tidak tau apa yang akan terjadi nanti. Tapi yang pasti leon akan terus mengusakan yang terbaik untuk semuanya. Terutama untuk alesia juga anak mereka.


__ADS_2