Sebuah Rasa

Sebuah Rasa
Rasa bahagia


__ADS_3

Sejak mendengar sendiri leon membelanya di depan santi alesia tidak bisa untuk tidak tersenyum sampai tengah hari. Alesia bahkan tidak sama sekali memperdulikan santi yang terus mengomelinya. Bagi alesia belaan leon adalah penyemangat terbesarnya dalam menghadapi sikap santi. Alesia merasa semakin optimis karna leon berada di pihaknya.


Tin tiiin


Suara klakson mobil siang itu berhasil menarik perhatian alesia. Alesia menghela nafas kemudian berdecak pelan begitu mendapati mobil pingkan sudah terparkir rapi di halaman luas rumahnya.


“Dia lagi..” Gumam alesia merasa jengah.


Alesia menatap mobil merah pingkan hingga akhirnya pingkan turun dari kendaraan beroda 4 itu.


“Apa bagusnya sih dia. Kenapa tante sampai begitu menyukainya. Baik enggak, sinis iya.” Geleng alesia merasa heran.


Alesia memalingkan wajahnya enggan menatap ke bawah lagi dimana mobil pingkan berada. Wanita itu kemudian memutar tubuhnya dan terkejut begitu mendapati santi sudah berada tepat di belakangnya.


“Tante..” Lirih alesia.


Santi tersenyum sinis menatap alesia yang terkejut dengan kehadiranya.


“Kamu mau tau kenapa saya lebih menyukai pingkan dari pada kamu alesia?”


Alesia menelan ludahnya. Bagaimanapun baiknya alesia selama santi tidak menyukainya alesia akan tetap terlihat buruk di mata santi. Karna tidak ada seorangpun yang mau memandang baik pada orang yang tidak di sukainya. Seperti santi menilai alesia selama ini.


“Karna pingkan jelas lebih baik dari kamu.” Lanjut santi.


Alesia menghela nafas. Meladeni santi hanya akan membuatnya merasa kesal sendiri.


“Dari dulu kamu berpacaran dengan leon saya sudah sangat tidak menyukai kamu alesia. Saya bahkan tidak pernah setuju dengan pernikahan kalian. Tapi sayang leon sudah di butakan oleh cinta sehingga dia tetap menikahi kamu meskipun saya tidak memberi restu.”


Alesia tertawa pelan. Entah apa yang membuat santi merasa begitu berhak mengatur kehidupan suaminya. Santi hanya seorang tante, bukan orang tua leon.


“Tante.. Kenapa sih tante selalu mengatur kak leon untuk ini itu? Kenapa juga tante seolah tau semua yang terbaik buat kak leon? Tante bukan orang tua kak leon loh.”


Rahang santi mengetat mendengar ucapan alesia. Kedua tanganya mengepal erat merasa sangat emosi karna alesia berani menanyakan kenapa dirinya begitu merasa berhak terhadap leon.

__ADS_1


“Kamu tidak mempunyai hak untuk menanyakan itu alesia.” Tekan santi menahan emosinya.


“Kenapa tante? Aku istrinya kak leon. Aku juga berhak menuntut kebahagiaan sama kak leon.. Aku amanah dari tuhan untuk kak leon tante..” Balas alesia tidak mau kalah.


Santi tidak bisa membalas ucapan alesia. Wanita itu hanya diam berusaha menahan emosinya yang hampir memuncak.


“Kenapa tante diam? Salah aku apa sih sama tante sebenarnya? Kenapa setiap yang aku lakuin itu salah di mata tante? Dan kenapa sedikitpun tante tidak pernah mau mengakui aku sebagai orang yang baik?”


“Karna kamu seorang model alesia. Saya sangat membenci wanita yang berprofesi sebagai model. Dan kamu ingin tau kenapa? Karna hidup saya pernah hancur karna seorang model seperti kamu.”


Dengan dada kembang kempis santi menatap tajam alesia. Namun suara santi terdengar bergetar dengan air mata yang menggenangi kelopak kedua matanya. Tidak mau sampai air matanya jatuh di depan alesia santi pun segera membalikan tubuhnya dan berlalu dengan cepat dari balkon kamar alesia dan leon. Santi sangat benci mengakui kehancuran hidupnya. Dan santi sangat membenci kegagalan cintanya karna seorang model yang berhasil menarik perhatian bramono saat itu.


Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dengan profesi model? Kenapa tante bisa sangat tidak menyukainya?


Beberapa pertanyaan bersarang di otak alesia. Entah apa yang membuat santi sangat tidak menyukai profesi yang pernah alesia lakoni. Tapi tatapan santi tadi membuat alesia sadar. Santi mempunyai pengalaman pahit dengan seorang model.


“Aku harus mencari tau tentang ini..” Gumam alesia.


Alesia melangkah pelan berlalu dari balkon dan kembali masuk ke dalam kamarnya. Alesia menatap pintu kamarnya yang terbuka sedikit. Alesia melihat sendiri bagaimana tatapan santi tadi. Tatapanya memang sangat tajam dan penuh kebencian. Tapi melihat air mata yang menggenang itu alesia tau santi sedang sangat terluka dan berusaha menyembunyikanya.


Bayangan bramono langsung terlintas di mata alesia. Alesia melihat sendiri sikap dingin santi pada pria yang tidak alesia kenal. Alesia juga melihat dengan mata kepalanya sendiri santi yang membentak bramono sebelum akhirnya menyusulnya masuk ke dalam rumah sakit kemarin.


“Tapi apa hubungan tante dengan pria itu? Kenapa tante terlihat sangat membencinya?”


“Hayoo.. Nglamunin apa?”


Alesia tersentak saat tiba tiba leon menoel ujung hidung mancungnya. Entah sejak kapan suaminya berada di sampingnya alesia benar benar tidak menyadarinya.


“Kakak..” Lirih alesia seperti orang bodoh.


“Ya. Aku?”


Alesia mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Kehadiran leon yang tiba tiba benar benar membuatnya terkejut juga bingung. Alesia tidak melihat leon masuk lewat pintu kamar mereka tapi tiba tiba pria itu sudah ada di sampingnya.

__ADS_1


“Kamu kenapa sih? Ada yang salah sama aku?” Tanya leon mengeryit bingung.


Alesia tersadar.


“Aku?” Tanyanya menatap leon seperti orang bodoh.


“Iya, kamu kenapa?”


Alesia menelan ludahnya kemudian menggelengkan kepalanya pelan.


“Nggak, aku nggak papa.. Cuma bingung aja kamu tiba tiba udah ada disini. Kapan pulangnya? Kok aku nggak dengar suara mobil kamu kak?”


Leon menyipitkan kedua matanya. Leon merasa aneh juga penasaran dengan sikap alesia siang ini. Alesia bukan wanita yang telat dalam berpikir. Alesia juga bukan wanita yang selalu bingung akan sesuatu apa lagi hanya karna leon yang masuk ke dalam kamar dan alesia tidak menyadarinya.


Apa yang sedang kamu pikirkan sayang?


Leon menghela nafas pelan. Pria itu kemudian melangkah menuju pintu kamarnya dalam diam dan menutupnya dengan pelan.


Alesia yang melihatnya semakin bingung. Leon pulang sebelum waktunya bahkan sebelum waktu makan siang tiba.


“Aku mau istirahat siang ini.” Katanya sambil melangkah dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang king zise mereka.


Alesia mengangkat sebelah alisnya.


“Nggak ke kantor lagi?” Tanya alesia pelan.


“Nggak. Makanya siang ini kamu temani aku istirahat. Setelah itu kita jalan jalan yah sambil cari makan di luar.”


Alesia tersenyum mendengar jawaban leon. Hari ini adalah hari bahagianya. Pagi tadi alesia mendengar sendiri leon membelanya. Dan sekarang leon pulang lebih awal mengajak istirahat siang bersama. Bonusnya lagi leon berencana mengajaknya jalan jalan dan makan di luar. Hal yang sangat jarang bisa mereka berdua lakukan karna selalu sama sama sibuk dengan dunianya sendiri.


“Ale, sini..”


Alesia tertawa. Ale adalah panggilan istimewa dari leon semenjak mereka pertama kali menjalin hubungan. Panggilan lucu juga unik yang selalu alesia sukai.

__ADS_1


Alesia melangkah cepat menuju ranjang. Wanita itu sama sekali tidak menyadari kejanggalan dari sikap leon yang kembali memanggilnya dengan sebutan ale. Panggilan yang seharusnya tidak di ingat oleh leon sebagai pria yang sedang kehilangan separuh dari ingatanya.


__ADS_2