Sebuah Rasa

Sebuah Rasa
Masalah baru


__ADS_3

Leon benar benar tidak mengerti dengan maksud bramono yang tiba tiba datang dan memberikan 1 dus pancake untuknya dan alesia.


“Emangnya kenapa sih kak aku nggak boleh makan pancake nya. Dia kesini cuma buat kasih ini loh buat aku sama kamu. Itu artinya dia orang baik.”


Leon menoleh. Pria tampan itu juga tidak tau apa maksud bramono. Tapi yang pasti bramono pasti punya alasan tersembunyi kenapa melakukanya.


“Justru itu le.. Kita nggak tau dia itu orangnya gimana dan seperti apa. Kamu juga kan pernah bilang sama aku tante kaya nggak suka sama dia. Aku takut ada sesuatu di balik pemberianya ini.”


Alesia terdiam. Alesia benar benar ingin sekali merasakan pancake yang ada di depanya. Alesia bahkan rela mengurangi porsi makanya tadi karna tidak mau terlalu kenyang demi bisa mencicipi pancake dari bramono.


“Tapi aku pengen banget kak..” Lirih alesia.


Leon menghela napas. Istrinya sedang hamil. Leon khawatir jika keinginan istrinya untuk mencoba pancake itu tidak di turuti akan berbuntut tidak baik pada janin yang sedang di kandungnya. Misalnya ileran saat lahir nanti.


“Aku pesenin pancake yang lain yah..”


Suara leon melembut. Alesia sedang sangat sensitif. Jika leon tidak bisa mengimbangi sikap manja alesia masalah dalam rumah tangga pasti akan timbul dengan begitu mudah.


Alesia menggelengkan kepalanya.


“Aku mau yang ini kak..” Rengek alesia.


Leon berdecak. Leon tau bagaimana bramono. Bramono adalah pria jahat bahkan seperti psykopat. Bramono akan melakukan segala cara demi tujuanya tercapai. Seperti saat mencelakainya beberapa bulan lalu.


“Sayang tapi...”


“Please...” Sela alesia dengan tatapan penuh harap.


Leon melengos. Dan saat itu leon tidak sengaja melihat seekor tikus yang sedang berjalan mengendap endap di bawah meja tempat pernak pernik di rumahnya tertata rapi. Senyum leon mengembang.


Baiklah.. Mungkin kamu bisa jadi uji coba tikus..


Leon meraih satu pancake lalu melemparnya pelan ke lantai di ujung meja tempat yang sedang di tuju si tikus. Dan begitu sampai di depan pancake tersebut, tikus hitam itu segera melahap dengan rakus tanpa rasa takut ataupun malu karna sedang di perhatikan oleh leon juga alesia.


“Kamu jahat banget sih kak.. Aku mau nyobain nggak boleh tapi malah kamu kasih ke tikus itu..”


Alesia mengerucutkan bibirnya merasa kesal pada leon yang malah memberikan pancake itu pada tikus yang menyusup masuk ke dalam rumahnya.


Leon tersenyum. Setelah pancake itu tinggal separuh, tikus tersebut langsung lari keluar lewat pintu kaca yang menghubungkan ke taman samping rumah karna kedatangan mbak sari.


Oke.. Pancakenya aman.


Leon kemudian menoleh dan tersenyum manis pada istrinya yang merajuk karna ulahnya.

__ADS_1


“Sepertinya pancakenya aman. Kamu boleh cobain tapi satu aja ya.. Kan udah makan tadi..”


“Masa cuma satu sih kak.. Aku tadi makan cuma sedikit loh. Sengaja biar aku bisa makan pancake ini. Jahat banget.. Pelit kamu.”


Alesia protes. Niatnya bukan hanya untuk mencoba, tapi juga ingin memakan beberapa pancake sampai perutnya terasa kenyang.


“Kamu cobain satu dulu ale.. Nanti kalau kamu suka aku bisa pesenin buat kamu.. Dari pada nggak boleh sama sekali? Nanti baby kita ileran loh.. Mau emang?”


Alesia mendelik mendengarnya.


Apaan sih? Harusnya kan itu aku yang bilang. Kenapa jadi dia yang nakut nakutin aku?


“Kalau nggak mau ya udah. Aku kasih pancake nya sama mbak sari dan pak satpam aja.”


“Ck. Iya iyaa.. Tapi janji abis ini langsung di pesenin. Harus yang persis seperti ini. Dan dari tempat yang sama.”


“Iyaa...”


Leon tersenyum. Leon sebenarnya tidak ingin alesia memakan pancake dari bramono. Tapi leon juga tidak mau alesia merajuk dan akhirnya marah padanya. Lebih lebih lagi leon tidak mau anaknya ileran.


Aku harus segera temui dia.


Tidak ingin membuat istri tercintanya kembali merajuk leon pun meraih hp nya dan segera memesan pancake tersebut di tempatnya. Dan tidak menunggu lama pancake tersebut sudah sampai dengan jasa ojek online yang mengantar ke alamat leon dan alesia.


Alesia menatap 2 dus pancake di depanya dengan mata berbinar.


“Ya. Jadi kamu bisa makan pancake ini sepuasnya.” Senyum leon.


Alesia mengangguk antusias.


“Makasih ya kak..”


“Ya sama sama. Udah di makan gih. Abis itu istirahat. Aku ke ruang kerja sebentar yah. Ada yang mau aku kerjain soalnya.”


“Loh kamu nggak ikut makan?” Tanya alesia dengan kedua alis hampir bertaut.


“Aku udah kenyang ale..”


Alesia berdecak.


“Ya udah.”


Leon tertawa pelan. Wajah alesia sangat menggemaskan ketika merajuk.

__ADS_1


Leon kemudian bangkit dari duduknya dan berlalu dari meja makan menuju ruang kerjanya. Leon berniat membaca berkas yang tadi di berikan oleh sekertarisnya guna memahami apa yang di bicarakan oleh koleganya sore tadi.


----


“Leon.. Ada apa sampai kamu repot repot datang menemui saya langsung kesini?”


Leon melirik penuh rasa benci pada bramono. Siang ini leon memang sengaja datang menemui bramono ke perusahaanya. Leon bahkan sampai berbohong pada alesia bahwa dirinya ada janji dengan client. Leon benar benar merasa gerah. Bramono seperti sedang menerornya.


“Apa maksud anda mengirim paket dan menitipkan pancake untuk saya dan alesia?”


Bramono mengeryit. Pria dewasa itu kemudian mendudukan dirinya di sofa seberang tempat leon duduk. Bramono merasa bingung dengan paket apa yang di maksud leon.


“Untuk pancake memang saya yang menitipkan pada mbak mbak di rumah kamu kemarin siang. Tapi paket, apa maksudnya? Paket apa?”


Rahang leon mengeras dengan kedua tangan mengepal erat melihat wajah bingung bramono. Leon yakin bramono hanya sedang berpura pura.


“Anda jangan pura pura bodoh..” Kata leon penuh penekanan.


Bramono menggelengkan kepalanya. Beruntung saat ini bramono sedang dalam suasana hati yang baik sehingga tidak mudah terbawa emosi dengan tuduhan tidak mendasar leon.


“Leon jangan ngelunjak. Saya sedang tidak ingin bertindak kasar. Jangan menuduh saya tanpa bukti.”


Leon tersenyum sinis.


“Anda pikir saya takut?”


Bramono benar benar bingung sekarang. Leon juga tidak mungkin menuduhnya tanpa alasan.


“Untuk apa anda mengirim 2 setel baju bayi? Anda berniat meneror saya dan istri saya?”


“Baju bayi? Apa kamu pikir saya bodoh? Untuk apa saya mengirim 2 setel baju bayi pada kalian sedang kamu saja bisa membeli dengan tokonya sekaligus. Saya tidak semiskin itu leon. Kalaupun saya mau memberikan sesuatu itu pasti dengan jelas dan terang terangan. Bukan seperti pengecut.”


Leon melengos. Apa yang di katakan bramono ada benarnya. Tapi 2 setel baju dalam paket itu juga tidak murah harganya.


“Mana paket itu? Kirim ke saya. Biar saya bantu kamu cari tau.”


“Tidak perlu. Saya bisa sendiri.” Balas leon dingin.


Leon kemudian bangkit dari duduknya dan berlalu keluar dari ruangan bramono tanpa permisi pada bramono yang hanya diam di tempatnya duduk.


Bramono berdecak. Entah kenapa bramono merasa sangat penasaran dengan paket yang di permasalahkan oleh leon.


“Siapa yang mengirim paket itu?”

__ADS_1


__ADS_2