
“Kamu harus makan yang banyak kak biar cepet sembuh.. Kamu kan nggak mau aku kecapek an jadi kamu nggak boleh sakit..” Kata alesia sembari menyuapi Leon yang hanya diam dan duduk bersender di atas ranjang.
“Aku bukan nggak mau repot ngurusin kamu kak. Aku cuma nggak mau kamu sakit.. Kamu kan kuat.” Tambah alesia lagi.
Leon tersenyum tipis mendengarnya. Alesia begitu sangat telaten merawatnya. Mulai dari mengompres, mengganti kemeja yang Leon kenakan dengan kaos polos warna putih, sampai menyuapi Leon.
“Iya.. Aku nggak sakit kok Ale.. Aku cuma ngantuk aja.”
“Hhmm..”
Alesia berdehem. Mungkin Leon tidak mau di anggap lemah karna sakitnya sehingga Leon selalu mengatakan dirinya hanya mengantuk.
“Iya deh.. Kamu cuma kurang tidur aja.. Tapi.. emangnya kenapa kamu sampai kurang tidur? Kamu nggak nyenyak tidurnya semalam?”
Leon menelan makanan yang sudah di kunyahnya. Tidak mungkin Leon menjawab iya. Alesia pasti akan bertanya kenapa dan ada apa.
“Eemm.. Mungkin karna kecapek an kerja kali yah.. Kadang suka nggak bisa tidur kalau sudah lewat jam 12.”
Leon tidak sepenuhnya berbohong. Leon memang akan susah memejamkan mata jika sudah lewat tengah malam.
Maafin aku yang belum bisa jujur sampai sekarang sayang.
“Oohh.. begitu.” Angguk alesia percaya.
Leon menghabiskan makanan yang dengan telaten di suapkan oleh alesia. Leon sebenarnya sudah sangat gerah dengan kebohonganya sendiri. Tapi jujur untuk saat ini juga belum tentu alesia bisa mengerti.
“Habis ini kamu istirahat lagi ya kak. Kamu nggak boleh kemana mana pokonya.”
“Iya sayang..” Angguk Leon dengan senyuman manis di bibirnya.
Selesai menyuapi Leon alesia pun keluar dari kamarnya dengan membawa nampan dimana di atas nampan tersebut terdapat piring dan gelas kosong bekas makanya dan Leon.
Apa kak Leon juga tidak mengingat siapa tuan bramono yang sebenarnya? Kak Leon tidak mengingat hubungan Tante Santi dan tuan bramono dulu?
Alesia bingung juga serba salah. Bramono mengatakan pernah menikah dengan Santi. Dan bramono juga adalah bagian dari masa lalu ibunya.
__ADS_1
Lalu apa penyebab mereka berpisah? Apa tuan bramono menyakiti tante? Atau mungkin sebaliknya?
Alesia menggelengkan kepalanya. Terlalu banyak pertanyaan yang bersarang di otaknya. Terlalu banyak pula sesuatu yang ingin Alesia ketahui sehingga alesia merasakan pusing sendiri.
“Sudahlah, toh itu bukan urusanku.” Putus alesia kemudian berlalu dari depan pintu kamarnya dan Leon.
-----
Seminggu berlalu.
Santi terus bersikap dingin pada Rico yang terus setia menemaninya kemanapun dirinya pergi. Meskipun memang Santi terus menolak dan menyuruhnya pergi namun tidak sedikitpun Rico beranjak dari samping janda cantik itu.
“Rico tolong kamu pergi dari hadapan saya sekarang. Kamu tau tidak? Kamu itu membuat saya malu dengan penampilan kamu.”
Rico menundukan kepalanya menatap penampilannya sendiri. Semua yang Rico kenakan memang bukan barang mahal. Semuanya Rico beli dengan harga murah. Bagi Rico asal semuanya pantas dia kenakan itu tidak jadi masalah bahkan soal harga sekalipun.
“Jadi Tante maunya saya berpenampilan seperti apa?”
Santi berdecak. Santi nyaman berada di dekat Rico sebenarnya. Santi merasa tidak sendiri dan selalu merasa terlindungi saat Rico berada di sampingnya. Tapi Santi tidak bisa mengenyahkan ketakutan juga rasa ragunya. Rico memang baik tapi Santi tidak bisa mempercayainya. Rico pasti juga akan menyakitinya.
“Saya mau kamu menghilang dari hidup saya.” Jawab Santi tegas.
“Kalau itu kemauan tante saya minta maaf banget karna saya tidak bisa.”
Santi menghela napas. Sejak pagi Rico terus berada di ruangannya. Rico terus menemaninya dan Rico terus menatapnya saat Santi sedang fokus dengan laptopnya.
“Rico saya minta baik baik sama kamu. Atau saya..”
“Atau apa tante? Tante mau panggil satpam buat menyeret saya keluar dari sini?” Sela Rico santai.
Santi menyipitkan kedua matanya menatap Rico kesal. Rico sangat keras kepala sekarang.
Rico bangkit dari duduknya di sofa seberang meja kerja Santi kemudian melangkah dengan pelan mendekat pada Santi. Rico sendiri bingung kenapa rasanya begitu kuat pada Santi. Bahkan lebih kuat dari perasaanya pada alesia dulu.
Rico mendudukkan dirinya di atas meja Santi. Dengan santai di raihnya map berwarna kuning kemudian Rico membukanya.
__ADS_1
“Tentang tuan bramono, ada hubungan apa sebenarnya tante sama dia?”
Santi terdiam. Santi kemudian melengos. Santi tidak ingin membahas apapun tentang pria yang sudah begitu dalam menyakitinya. Karna itu semua akan mengingatkan Santi akan kesakitan yang pernah di rasakanya.
“Kamu tidak perlu tau apa apa tentang saya dan dia.” Kata Santi dingin.
Rico menggeleng pelan. Rico merasa harus tau semuanya karna Rico mencintai Santi.
“Apa dia pernah menyakiti tante?” Tanya Rico mencoba mengorek informasi.
Kedua tangan Santi mengepal. Bayangan kesakitanya di masa lalu mulai berputar di pikirannya. Hati Santi kembali terasa sakit. Dadanya sesak dengan air yang sudah menggenangi kedua kelopak matanya.
“Tante, apapun itu saya akan mendengarkan. Saya bisa menerimanya. Dan saya akan berusaha melakukan semuanya yang terbaik untuk tante.”
BRAKK !!
Santi menggebrak meja kerjanya penuh emosi. Dengan kedua mata berkaca kaca Santi melayangkan tatapan tajamnya pada Rico yang terkejut dengan apa yang Santi lakukan barusan.
“Tante..”
“Saya sudah bilang kamu tidak perlu tau apa aka tentang saya dan pria itu. Kamu hanya anak kecil dan kamu tidak akan pernah bisa mengerti.” Tekan Santi menahan emosinya.
Rico menelan ludahnya. Ada luka di balik tatapan tajam yang Santi layangkan padanya.
“Kamu hanya orang miskin Rico. Kamu tidak pantas berada di samping saya. Kamu juga tidak seharusnya ada disini. Karna apa? Karna sepatu murahan kamu mengotori lantai ruangan saya.”
Rico menahan napasnya sejenak. Rico yakin Santi tidak benar benar berniat menghinanya. Santi hanya berusaha agar Rico menjauh darinya.
“Kalau begitu saya akan mencopot sepatu saya tante.” Senyum Rico tenang.
Rico turun dari meja kerja Santi kemudian segera mencopot sepatu juga kaos kaki hitam yang di kenakanya.
Santi yang melihat itu melengos. Tanpa Santi sadari air matanya menetes dan meluncur dengan bebas di pipi tirusnya membentuk anak sungai.
Tuhan.. Kuatkan aku.. Teguhkan hatiku..
__ADS_1
Rico yang melihat Santi enggan menatapnya tersenyum. Rico yakin Santi wanita yang baik. Santi wanita hebat yang bisa menyembunyikan kebaikannya dengan topeng judesnya. Dan itu adalah sesuatu yang tidak bisa semua orang melakukanya.
“Apa lagi dari barang yang menempel di tubuhku yang membuat ruangan ini kotor? Saya akan melepasnya tante. Saya juga tidak keberatan untuk membersihkan ruangan ini kalau tante mau.”