
Bramono terdiam ketika berhadapan langsung dengan alesia. Semuanya benar benar di luar dugaan. Padahal bramono berpikir akan biasa saja saat bertatap mata langsung dengan alesia. Tapi ternyata alesia memiliki sesuatu yang membuat bramono mengingat seseorang di masa lalunya.
“Tuan.. Maaf kak leon masih di kantor. Kalau memang ada yang penting yang ingin tuan katakan anda bisa mengatakanya pada saya. Nanti saya sendiri yang akan menyampaikanya pada kak leon.”
Bramono menahan napas sejenak. Bramono tidak tau harus berkata apa sekarang pada alesia.
“Eemm.. Saya bawakan sesuatu untuk kamu.”
Bramono menyodorkan sebuah paperbag berukuran kecil pada alesia. Pria itu benar benar kehilangan kata katanya saat ini.
“Terimakasih tuan.” Senyum alesia mengangguk.
Bramono ikut menganggukan kepalanya. Bramono menghela napas. Berada langsung di depan alesia membuat bramono mati kutu.
“Jadi apa yang ingin tuan bicarakan?”
Bramono menatap alesia yang juga menatapnya. Seketika bramono mengingat seseorang yang pernah sangat di cintainya.
“Le..” Gumamnya lirih.
Alesia yang samar samar mendengarnya mengeryit.
“Tuan?”
Bramono tersadar. Alesia mengingatkanya pada seseorang yang pernah sangat di cintai oleh bramono.
“Ah tidak.. Nanti saja saya bicara langsung pada leon. Kalau begitu saya permisi.”
Alesia semakin bingung. Bramono selalu datang menemui leon dan mereka selalu menghabiskan waktu beberapa menit entah untuk membicarakan hal apa. Dan anehnya leon juga tidak pernah mengizinkan alesia untuk ikut menemui bramono.
Bramono bangkit dari duduknya kemudian berlalu dari hadapan alesia. Pria itu melangkah cepat tanpa menoleh sekalipun pada alesia yang terus menatapnya heran.
“Tuan itu kenapa nyonya?”
Alesia menoleh mendengar pertanyaan mbak sari. Mbak sari juga pasti mengerti dan bisa membaca gelagat aneh bramono.
“Saya juga tidak tau mbak.”
Alesia melirik paperbag kecil yang di berikan oleh bramono padanya. Penasaran alesia pun meraih paperbag itu dan membukanya. Alesia terdiam begitu melihat isi dari paperbag tersebut.
“Ini..”
Alesia bingung. Entah memang kebetulan atau memang tidak di sengaja bramono membawakan burger yang sedang sangat ingin alesia makan.
“Kenapa nyonya?” Tanya mbak sari yang berdiri di samping kursi yang di duduki alesia di teras depan rumah.
Alesia terdiam.
Kalau aku makan ini kak leon pasti marah.. Tapi aku sudah lapar banget..
__ADS_1
“Nggak papa mbak.. Eemm.. mbak bisa tidak belikan aku burger? Mbak pergi sama pak no ya?”
“Tapi nyonya bagaimana?”
“Saya kan ada pak satpam yang jaga. Tolong yah..”
Mbak sari bimbang. Leon menyuruhnya untuk tidak pergi kemana mana dan selalu menemani alesia di rumah. Tapi sekarang alesia sendiri yang meminta tolong padanya.
“Nyonya tapi tuan tidak memperbolehkan saya untuk keluar meninggalkan nyonya sendiri.”
Alesia menghela napas.
“Ya sudah nggak papa..”
“Maaf banget ya nyonya..”
“Iya mbak nggak papa.. Ya udah saya masuk yah..”
Alesia tidak bisa menyuruh mbak sari karna pesan leon pada mbak sari. Itu artinya leon tidak bisa marah jika alesia memakan burger yang di bawakan oleh bramono untuknya.
“Sudahlah makan ini saja dari pada anakku ileran nanti.”
Alesia melangkahkan kakinya menuju meja makan. Dengan senyum bahagia wanita cantik itu menyantap burger yang di bawakan bramono untuknya. Alesia yakin suaminya akan lebih marah jika mbak sari pergi dari rumah dengan pak no. Dan itu tentu saja akan sangat berimbas buruk pada mbak sari yang memang hanya berusaha menjaga amanah dari leon.
----
Di tempat lain tepatnya di gedung SMP nusa bangsa leon berdiri. Leon menatap pintu dimana di atasnya bertuliskan kepala sekolah.
Dengan berbekal photo ibu le dan bramono saat masih remaja leon pun mengetuk pintu ruang kepala sekolah. Leon berharap semuanya segera jelas dan menemui titik terang tentang siapa sebenarnya ayah kandung istrinya.
“Masuk !”
Suara tegas seorang wanita membuat leon menghela napas. Leon kemudian masuk dengan tekad bulat yang mengiringinya.
“Ada yang bisa saya bantu tuan?”
Leon terdiam sesaat. Di tatapnya wanita dengan kaca mata berlensa bening yang juga sedang menatapnya.
“Sebelumnya selamat siang bu. Saya ingin menanyakan tentang seorang siswi bernama alesia le.”
Wanita berkaca mata itu mengeryit.
“Alesia le? Anak kelas berapa tuan?”
Leon segera menyodorkan photo ibu le pada kepala sekolah tersebut.
“Dia siswi di sekolah ini sekitar 25 tahun yang lalu.”
Kepala sekolah itu tampak terkejut melihat photo ibu le. Di liriknya leon yang menatapnya dengan penuh rasa ingin tau.
__ADS_1
“Siapa anda sebenarnya tuan?” Tanya kepala sekolah yang mungkin berusia 40 tahunan itu.
Leon tidak langsung menjawab. Leon menatap penuh selidik pada kepala sekolah tersebut. Dan melihat dari ekspresi terkejut yang berusaha di sembunyikan kepala sekolah itu leon yakin bahwa kepala sekolah itu mengetahui sesuatu.
“Saya Leon sanjaya. Menantu dari alesia le..” Jawab leon jujur.
“Ya tuhan..”
Kepala sekolah itu terlihat kaget dengan menutup mulutnya. Tatapanya terlihat tidak percaya pada leon yang duduk di depanya.
“Melihat dari ekspresi anda, saya yakin anda tau sesuatu tentang ibu le..”
Kepala sekolah itu tampak gugup. Di tatapnya lagi photo ibu le yang tersenyum manis dengan seragam SMP yang melekat begitu pas di tubuhnya.
“Saya teman sekelas le.. Saya juga alumni di sekolah ini.”
Leon sudah menduga.
“Apa anda tau sesuatu tentang bramono juga?”
Kepala sekolah itu menganggukan kepalanya.
“Boleh saya tau sesuatu tentang mereka?” Leon bertanya lagi.
Kepala sekolah itu menghela napas kemudian meluruskan pandanganya berusaha mengingat tentang masa lalu ibu le.
“Le adalah murid paling pintar di kelas kami saat itu. Dari pertama masuk le memang sudah terkenal paling pandai dalam segala hal. Sampai suatu waktu ada kakak kelas yang mendekatinya. Namanya bramono. Dia begitu gencar mendekati le yang akhirnya menyambutnya dengan baik.”
Leon mendengar dengan seksama cerita kepala sekolah yang ternyata adalah teman sekelas ibu le dulu. Dalam hatinya leon sangat berharap bramono bukanlah pria yang melakukan hal itu pada ibu le. Leon berharap ada sosok lain selain bramono dalam cerita masa lalu kelam itu.
“Bramono sangat mengistimewakan le saat itu. Bramono bahkan selalu menunggu le setiap pagi di gerbang sekolah juga setiap siang saat waktu pulang sekolah. Bukan untuk mengantar, tapi untuk sekedar melihat le. Saya selalu bersama le saat itu. Hingga pada bulan terakhir sebelum kenaikan kelas tepatnya saat bramono lulus le hamil. Bramono sangat terpukul saat itu. Dan akhirnya le di keluarkan dari sekolah. Sejak saat itu le menolak untuk bertemu dengan bramono. Le bahkan pernah menampar bramono karna bramono yang ngotot ingin menikahinya. Tapi le menolak karna bramono masih harus meneruskan sekolahnya. Di tambah bukan bramono yang melakukanya.”
“Terakhir yang saya dengar bramono akhirnya di pindahkan keluar negeri oleh kedua orang tuanya.”
Leon menggelengkan kepalanya. Bramono ingin bertanggung jawab tapi ibu le menolak.
“Lalu siapa yang melakukanya?” Tanya leon dengan dada kembang kempis.
Kepala sekolah itu menggelengkan kepalanya.
“Le tidak pernah memberitahu saya siapa orangnya. Tapi le selalu bilang bukan bramono karna bramono orang yang sangat mencintai dan menjaganya.”
Leon menghela napas. Semuanya tidak semudah yang leon bayangkan.
“Siapa nama istri anda tuan?” Tanya kepala sekolah itu tersenyum ramah pada leon.
“Namanya alesia.” Jawab leon.
“Alesia? Model cantik itu?”
__ADS_1
“Ya..” Angguk leon menjawab.