Sebuah Rasa

Sebuah Rasa
Tak terduga


__ADS_3

“Jadi apa yang tadi kalian berdua omongin? Kenapa tante keluarnya kaya marah banget?”


Alesia berhenti memainkan rambut leon. Ya, saat ini mereka sudah berada di atas ranjang dengan leon yang menjadikan pangkuan alesia sebagai bantal. Sedang alesia, wanita itu duduk dengan bersender menggunakan bantal sebagai alas punggungnya.


“Dia nggak marah marah kan sama kamu?” Tanya leon lagi.


Alesia tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Sebenarnya santi sempat marah tapi alesia merasa tidak perlu mengatakanya pada leon.


“Lalu?”


“Aku rasa tante punya perasaan sama rico kak.”


Leon mengeryit bingung. Tidak mungkin santi memiliki perasaan pada rico. Leon tau santi sudah tidak pernah memikirkan tentang pasangan lagi sejak percerainya dengan bramono. Santi bahkan beberapa kali menolak pria kaya yang datang untuk melamarnya. Tapi leon juga sadar tuhan adalah penguasa segalanya. Tuhan bisa dengan mudah membolak balikan perasaan dan hati makhluknya.


“Bagaimana mungkin?”


Alesia mengusap lembut pipi tirus suaminya. Senyumnya kembali mengembang menatap penuh perhatian pada suaminya.


“Aku juga seorang wanita kak. Aku tau dan aku bisa membaca bagaimana perasaan tante.”


Leon diam. Leon tidak bisa melarang jika memang itu kenyataanya. Tapi leon perlu tau bagaimana rico sebenarnya. Apa lagi yang leon tau rico diam diam menyukai istrinya. Leon tidak mau santi tersakiti dan semakin membenci alesia yang sebenarnya tidak tau apa apa.


“Aku minta sama kamu jika memang tuhan menakdirkan perasaan itu singgah di hati tante, kamu jangan pernah berpikir sekalipun untuk melarang kak. Cukup kita yang merasakan menjalin hubungan dengan larangan. Jangan orang lain apa lagi tante.”


Leon tersenyum. Di raihnya tangan alesia yang terus membelai pipinya dengan lembut. Leon mengecup tangan alesia. Leon benar benar tidak menyangka jika ternyata kebaikan hati istrinya begitu besar.


“Itu pasti.”


 


“Bagaimana?”


Seorang pria berpakaian serba hitam duduk di depan leon yang tampak begitu santai di kursi kebesaranya.


“Alesia le bersekolah di SMP nusa bangsa. Tidak ada satupun siswa yang dekat denganya. Tapi dari kakak kelasnya ada 1 siswa yang terus mendekatinya.”


“Siapa itu?”

__ADS_1


Pria berpakaian serba hitam yang tidak lain adalah seorang detektif suruhan leon itu kemudian menyodorkan sebuah map berwarna biru tua pada leon.


“Semua informasinya ada disini tuan. Anda bisa mengeceknya sendiri.”


Leon menatap map tersebut kemudian menerimanya. Leon membuka map tersebut dan tersenyum menatap 2 lembar kertas berisi informasi tentang masa lalu ibu le juga 2 lembar photo ibu le dan seorang siswa SMP dengan seragam yang sama seperti yang di kenakan ibu le.


“Bagus.” Angguknya.


Leon membuka laci meja kerjanya kemudian meraih sebuah amplop coklat berisi uang yang memang sebelumnya sudah leon janjikan untuk pria tersebut.


“Terimakasih untuk semuanya. Ini uang yang saya janjikan untuk kamu.”


Pria itu tersenyum dan langsung mengambil amplop yang di berikan leon.


“Terimakasih juga untuk uangnya tuan. Saya permisi.”


Leon mengangguk dan mempersilahkan pria itu berlalu keluar dari ruanganya. Leon menghela nafas kemudian mulai membuka dan membaca 2 lembar kertas berisi informasi tentang ibu mertuanya.


“Orang ini.. Kenapa mirip sekali dengan bramono?”


Leon meraih selembar photo anak laki laki berseragam SMP yang memang sangat mirip dengan bramono. Di perhatikanya lekat lekat photo tersebut.


Leon menggelengkan kepalanya kemudian melanjutkan membaca. Dan alangkah terkejutnya leon karna ternyata anak laki laki berseragam SMP dengan rambut panjang itu memang bramono. Mantan suami dari tantenya.


“Nggak, ini nggak mungkin. Ini pasti salah.”


Leon tidak percaya. Hatinya juga tidak bisa menerima begitu mengetahui bahwa yang pernah sangat dekat dengan ibu le adalah bramono.


“Aku harus datang ke sekolahan ibu le.. Aku harus memastikan semuanya sendiri. Aku yakin ini pasti salah.. Kalau pun benar bramono tidak mungkin adalah orang yang melakukanya.”


Tidak mau mengulur waktu leon langsung bangkit dari duduknya di kursi. Leon berencana mendatangi langsung sekolah tempat ibu le menimba ilmu. Leon yakin data data tentang ibu mertuanya masih ada di sekolah itu.


Deringan hp dalam saku dalam jas abu abunya membuat leon berdecak. Leon segera meraih benda pipih tersebut dan mengeluarkan dari saku dalam jas abu abunya.


Leon terdiam. Alesia yang menelponya. Leon sudah bisa menebak, alesia pasti akan menanyakan kepulanganya untuk makan siang ini.


Leon memejamkan sesaat kedua matanya. Leon tidak mau kembali melontarkan kebohongan pada istrinya.

__ADS_1


Maaf sayang.. Aku tidak bisa mengatakan semuanya sekarang.


Setelah panggilan dari alesia berhenti leon segera menonaktifkan hpnya. Leon kemudian melangkah cepat menuju lift agar cepat sampai ke lantai dasar. Leon merasa semuanya tidak bisa lagi di tunda. Bramono terlibat dalam masa lalu ibu le, ibu mertuanya. Dan leon tidak sabar ingin membuktikan siapa sebenarnya sosok yang telah membuat ibu le hamil dan menderita sendiri hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya setelah melahirkan alesia ke dunia.


Bagaimana kalau memang benar bramono ayah kandung alesia? Apa aku bisa menerimanya?


Leon mengemudikan mobilnya dengan kecepatan maximal. Leon kali ini bahkan sampai mengabaikan rasa laparnya. Leon tidak sabar ingin segera ke SMP nusa bakti untuk mencari informasi lebih dalam lagi tentang ibu le.


“Kalau tante sampai tau hal ini tante pasti akan lebih membenci alesia. Tante mungkin juga akan menyuruh aku untuk meninggalkan alesia..” Gumam leon.


Leon menghela napas. Bramono adalah sosok yang telah menorehkan luka di hati santi. Dan leon tidak akan bisa diam jika ternyata bramono juga yang menorehkan luka di hati ibu le sampai ajal menjemputnya.


 


“Kenapa nggak di angkat sih?”


Alesia berdecak kesal karna leon tidak mengangkat telpon darinya. Dan ketika alesia mencoba menelponya lagi hp leon malah tidak aktif.


“Ck. Jadi nggak aktif lagi..”


Alesia merasa kesal. Padahal alesia ingin mengajak suaminya makan di luar siang ini. Alesia bahkan berencana menyusul leon ke kantornya. Tapi karna leon tidak kunjung mengangkat telpon darinya alesia urung menyusul suaminya itu. Alesia takut setibanya di kantor leon malah sedang tidak ada di tempat.


Alesia kemudian bangkit dari duduknya. Entah kenapa siang ini alesia ingin sekali memakan burger. Namun karna leon tidak mengangkat telponya alesia berniat menyuruh mbak sari membelikan untuknya dengan di temani oleh pak no.


“Permisi nyonya..”


Mbak sari tampak gugup saat berpapasan dengan alesia yang memang sedang mencarinya.


“Mbak, kamu kenapa?” Tanya alesia bingung.


“Di depan ada tuan bramono. Dia memaksa masuk dan marah marah pada pak satpam juga pak no.”


Alesia mengeryit. Bramono selalu menemui leon entah untuk membicarakan tentang apa.


Apa aku temui saja orang itu? Tapi apa kak leon tidak akan marah nanti?


Alesia tampak bingung. Namun alesia tidak bisa menampik rasa penasaranya pada sosok bramono. Sosok yang sangat di benci oleh santi dan sosok yang mungkin juga di benci oleh suaminya.

__ADS_1


“Bagaimana nyonya?” Tanya mbak sari risau.


“Emm.. Suruh saja dia masuk. Tapi kamu temani saya untuk menemui dia ya mbak?”


__ADS_2