Sebuah Rasa

Sebuah Rasa
Tetap utuh


__ADS_3

Cekrek Cekrek


Bunyi bidikan kamera rico terdengar jelas bahkan memantul di ruangan luas tempat dirinya sedang mengambil gambar para model yang begitu piawai berpose di depanya. Pria tampan berponi itu terlihat sangat profesional dalam bekerja padahal sebenarnya hati dan pikiranya sedang tidak bisa di ajak berkompromi.


“Oke.. Bagus.” Senyumnya menatap 3 model berpakaian sexy di depanya.


“Kita istirahat dulu deh..” Lanjutnya.


“Oke...” Angguk salah satu model cantik dari ke 3 nya.


Rico mengecek hasil bidikan kameranya. Senyumnya mengembang merasa puas dengan pose cantik 3 modelnya.


Rico menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Suasana di sekitarnya begitu ramai tapi entah kenapa rico merasa sepi. Rico merasa kosong di tengah keramaian itu.


Rico menghela napas. Rico tidak bisa bohong, rico terkejut setelah tau bahwa santi adalah mantan istri bramono. Rico juga sangat terkejut setelah tau bramono mempunyai kembaran yang ternyata juga mengejar santi.


Apa tuan bramono tau kalau saudara kembarnya juga mengejar tante santi?


Rico tampak berpikir. Santi berusaha untuk menghindar dari pria bernama pramono itu. Tapi rico tau santi menghindar bukan karna benci tapi lebih ke merasa takut. Santi memang tidak mengatakan secara langsung padanya. Tapi rico bisa tau dari gerak gerik dan cara bicara santi yang tidak ketus juga judes namun cenderung pelan.


Apa alesia sebenarnya tau tentang ini?


Pikiran rico terus di penuhi pertanyaan pertanyaan tentang hubungan santi dan bramono bahkan sampai menyerempet pada alesia.


Apa aku telpon aja? Tapi.. Jam segini pasti alesia sedang istirahat..


Rico berdecak pelan. Tidak mau mengganggu waktu istirahat alesia rico pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk menelpon alesia.

__ADS_1


Rico melangkah menuju sofa tunggal tempat biasanya dia duduk dan beristirahat setelah selesai mengambil gambar para model cantik itu.


Rico menghela napas. Rico sebenarnya masih tidak percaya bahwa bramono adalah mantan suami santi. Itu artinya santi sudah pernah menikah. Rico memejamkan kedua matanya. Bayangan bramono dan santi yang sedang bermesraan langsung menguasai kegelapan saat rico memejamkan mata. Sontak hal itu membuat rico langsung membuka kembali kedua matanya.


Ya tuhan.. Apa yang ku pikirkan? Itu hanya masa lalu..


Rico meraih sebotol air mineral yang ada di meja kecil di samping sofa yang di dudukinya. Rico segera menenggaknya sampai habis separuhnya kemudian meletakan kembali setengah botol sisa air mineral tersebut di tempatnya semula.


Tenang rico.. Kamu harus tenang.. Hubungan tante santi dan tuan bramono hanya sebatas masa lalu.. Kamu pasti bisa.. Jangan ragu.. Dan jangan pernah merasa kecil apa lagi lemah..


Rico menghirup oksigen di sekitarnya dalam dalam kemudian mengeluarkanya berlahan lewat mulut. Rico menyentuh dadanya. Rasanya sangat sesak. Bukan karna santi yang adalah mantan istri orang kaya raya seperti bramono. Tapi karna menyadari dirinya yang bukan apa apa di bandingkan bramono dan saudara kembar nya pramono.


Rico tampak berpikir. Bagaimana mungkin pramono mempunyai harapan pada santi yang jelas jelas adalah mantan istri dari saudara kembarnya sendiri. Padahal rico yakin pramono pasti tau tentang perpisahan mereka.


“Apa mungkin tuan pramono juga yang membuat tante santi dan tuan bramono berpisah.. Tapi kalau memang begitu adanya kenapa tante santi sepertinya sangat membenci tuan bramono sedangkan pada tuan pramono.. Tante santi terkesan hanya menghindar.”


Rico benar benar merasa sangat penasaran sekarang. Wajah pramono dan bramono memang tidak ada bedanya. Tapi perangainya sedikit berbeda. Bramono yang terkesan dingin dan arogan sedangkan pramono yang terkesan tengil juga slengean.


Nggak aku nggak boleh berpikir macam macam.. Tante santi.. Aku yakin dia sudah tidak ada perasaan apapun lagi pada tuan bramono.. Aku yakin aku bisa memenangkan hatinya..


Rico menghela napas kemudian mengangkat tangan kirinya menilik waktu. Senyumnya mengembang. Waktu makan sudah hampir tiba.


“Mending aku ke tempat tante santi sekarang.” Gumamnya.


Rico meraih ranselnya. Tidak lupa juga rico membawa serta kamera miliknya. Rico berniat mengajak santi untuk makan siang bersama meskipun sepertinya sangat mustahil santi mau menerima ajakanya tapi rico mempunyai keyakinan kuat di hatinya bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi siapapun orang yang mau berusaha.


“Bang mau kemana?”

__ADS_1


Rico yang saat itu sudah mau melangkah langsung menoleh mendengar suara salah satu kru di tempat pemotretan. Senyum rico mengembang.


“Aku ada janji sama orang.”


Kru tersebut langsung mendekat pada rico yang sudah bersiap akan pergi.


“Terus pemotretanya bagaimana?” Tanyanya.


“Kita lanjut lagi setelah makan siang. Aku pergi dulu.”


Rico menjawab sembari menepuk pelan bahu kru tersebut. Setelah itu rico berlalu dengan langkah lebar keluar dari ruangan luas yang lebih pantas di sebut aula itu.


-----


Sementara itu santi baru saja selesai menanda tangani berkas yang di bawakan oleh sekertarisnya. Santi menghela napas kemudian melirik hp nya. Hari ini rico sama sekali tidak ada kabar. Padahal biasanya pria berponi itu selalu mengiriminya pesan setiap pagi dan menyemangatinya. Santi menelan ludahnya. Santi merasa ada sesuatu yang hilang.


Sudahlah tidak usah di pikirkan. Begini lebih baik.


Santi kemudian bangkit dari duduknya. Namun ketika hendak melangkah tiba tiba hp nya yang berada di atas meja di samping laptopnya berdering. Santi menatap benda pipih itu dan sontak hatinya menghangat dan terasa penuh begitu mendapati nama rico berada di layar hp nya yang menyala.


Ada apa denganku? Kenapa rasanya sangat bahagia sekali hanya karna rico menelponku?


Satu kali, dua kali, bahkan sampai tiga kali hp nya terus berdering dan nama rico yang tetap tertera di layar menyala benda pipih tersebut. Santi sama sekali tidak berniat mengangkatnya. Santi tidak mau lagi berhubungan dengan rico. Tapi hatinya tidak bisa bohong, santi merasa kurang hanya karna rico tidak menghubunginya. Namun santi bisa merasa langsung penuh juga bahagia hanya karna rico yang menelponya.


Santi menarik napasnya dalam dalam kemudian menghembuskanya berlahan. Santi tidak mau salah paham dengan perasaanya sendiri. Santi berpikir mungkin saat ini dirinya hanya belum terbiasa untuk menjauh dan melupakan rico seutuhnya.


“Jangan gegabah santi. Tetap tenang.. Kamu tidak butuh siapapun santi. Kamu bisa melakukan semuanya sendiri. Kamu tidak membutuhkan rico..”

__ADS_1


Santi meraih hp nya kemudian langsung merijek telpon dari rico. Santi juga langsung menonaktifkan hp nya agar rico tidak lagi menelponya.


Oke.. Tetap seperti biasanya saja. Sendiri lebih baik dari pada bersama tapi sakit hati..


__ADS_2