
Saat makan malam berlangsung leon terus saja diam. Leon masih memikirkan tentang motor yang terparkir di depan pos satpam di samping gerbang rumahnya. Leon merasa pernah melihatnya tapi leon lupa dimana dan milik siapa motor tersebut.
Temanya tante yang mana ya? Apa yang tadi siang nyariin tante?
Leon terus bertanya tanya. Jika memang motor tersebut milik temanya santi itu artinya si pemilik motor itu seorang wanita. Tapi teman teman santi bukan anak muda yang masih suka membawa motor. Kecuali jika temanya itu seorang pria.
“Kakak.. Kamu kenapa?”
Alesia menatap bingung pada leon yang tampak sedang bingung memikirkan sesuatu.
“Emm.. Aku lagi bingung aja. Di depan pos satpam ada motor gede warna merah. Dan pak satpam bilang itu milik temanya tante.” Jawab leon.
Alesia langsung tersedak mendengar jawaban suaminya. Dan leon yang melihat itu buru buru memberikan segelas air putih pada istrinya.
“Kamu kenapa sih? Pelan pelan dong makanya..” Kata leon perhatian.
Alesia menenggak segelas air putih tersebut sampai habis. Setelah itu alesia kembali memberikan gelas yang sudah kosong itu pada leon.
“Nggak papa nggak papa.. Aku cuma kaget aja. Soalnya yang aku tau itu temanya tante kan tante tante semua. Ya kali ada yang bawa motor gede. Udah kaya ABG aja..” Tawa kikuk alesia.
Ya tuhan.. Itu pasti motornya si rico.. Aduh.. bisa gawat kalau kak leon tau..
“Aku juga sempat mikir gitu sih. Tapi kan nggak mungkin pak satpam bohong.”
Alesia menelan ludahnya. Suaminya sangat cerdas. Alesia yakin leon pasti akan dengan mudah tau siapa pemilik motor gede itu.
“Eemm.. Emangnya motornya masih disini?” Tanya alesia yang memang tidak tau jika motor rico ada di depanya.
“Masih kok. Tadi aku liat masih ada di depan pos.” Jawab leon mantap.
Alesia semakin merasa khawatir. Jika sampai leon juga tau kemarin dirinya pergi menemui rico bahkan sampai di antar pulang leon pasti akan marah padanya. Alesia memang bermaksud jujur, tapi tidak dulu untuk saat ini.
“Aku coba tanya mbak sari aja kali ya temenya tante itu pria atau wanita.”
Kedua mata alesia terbelalak. Menanyakan pada mbak sari pasti juga akan membuat alesia ketahuan kalau kemarin alesia berbohong.
“Emm.. Ya ya udah sih kak.. Biarin aja. Lagian temenya tante pasti orang baik kok.”
Leon menyipitkan kedua matanya. Alesia berbicara tanpa memandangnya.
“Ale.. Bukan itu masalahnya. Aku cuma pengen tau temen tante itu pria atau wanita.”
__ADS_1
Alesia tertawa mendengarnya.
“Kamu jangan terlalu over gitu deh kak.. Biarin aja tante bergaul. Selama itu baik kenapa nggak?”
Leon menghela nafas. Pria itu merasa bahwa alesia sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
Aku tanyakan saja nanti sama pak satpam.
“Iya sih.. Kamu bener juga.” Senyum leon.
Alesia ikut tersenyum. Alesia merasa lega sekarang. Leon mau mendengarkanya.
Selesai makan malam leon mengajak alesia untuk bersantai sebentar di ruang keluarga. Keduanya menonton serial drama korea yang memang banyak di gemari wanita termasuk alesia.
Sedangkan leon yang merasa bosan memilih untuk memainkan ujung rambut alesia. Leon ingin sekali mengganti chanelnya tapi leon takut alesia marah padanya.
1 Jam bersantai di ruang keluarga akhirnya leon mengajak istrinya untuk beristirahat dengan alasan tidak mau alesia kecapek an apa lagi jika sampai alesia kurang istirahat. Dan setelah alesia tertidur pulas leon pun keluar dari kamarnya pelan pelan. Leon turun ke lantai 1 dan langsung menuju pos yang berada di samping gerbang tempat satpamnya berjaga jaga.
Loh, motornya kemana?
“Pak satpam.” Panggil leon.
“Saya tuan.” Angguknya berdiri sopan di depan leon.
“Ini motornya mana?” Tanya leon bingung.
“Oh, motornya sudah di ambil sama yang punya tuan. Baru saja tadi.”
Leon berdecak.
“Siapa yang punya?” Tanya leon lagi.
“Wah maaf tuan saya kurang tau namanya. Tapi nyonya santi memanggilnya rico. Dan nyonya santi juga yang menitipkan motor itu sama saya tuan. Orang itu juga pernah nganterin nyonya alesia pulang tuan. Saya pikir tuan kenal.”
“Apa?!”
Satpam itu langsung menutup mulutnya melihat ekspresi leon.
“Rico nganterin istri saya?”
“I iya tuan.” Jawab satpam tersebut takut.
__ADS_1
Leon mengepalkan kedua tanganya.
“Kapan?” Tanyanya penuh penekanan.
“Kemarin tuan..”
Leon memejamkan kedua matanya. Kemarin alesia juga mengeluhkan sakit pada perutnya. Dan dokter lena mengatakan itu di sebabkan karna guncangan. Sedang alesia beralasan karna naik ojeg. Tapi satpam mengatakan rico mengantarkan alesia pulang. Leon yakin satpamnya tidak mungkin berbohong padanya. Tapi alesia...
Setelah menemui satpamnya leon langsung masuk kembali ke dalam rumah. Leon benar benar tidak habis pikir alesia sampai berbohong padanya. Tapi leon tidak mau berburuk sangka. Leon yakin alesia punya alasan melakukanya. Leon juga yakin alesia akan mengatakanya nanti. Leon tau siapa istrinya. Leon mengenalnya dengan sangat baik. Dan leon percaya pada wanita yang dia jadikan sebagai pendamping hidupnya.
Leon melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya. Satpamnya mengatakan rico yang datang dan santi yang menitipkan motornya. Itu artinya santi dan rico memang cukup dekat. Dan yang leon lihat di mall saat itu memang benar benar santi dan rico.
“Ada hubungan apa mereka berdua sebenarnya. Dan kenapa rico datang untuk tante?” Gumam leon bertanya tanya.
Leon mengusap wajah tampanya. Pria itu benar benar bingung sekarang. Alesia berbohong padanya. Dan santi dekat dengan rico yang diam diam mengagumi sosok cantik istrinya.
“Apa aku tanya langsung aja sama tante?” Leon tampak berpikir.
“Tapi.. Apa kalau aku tanya tante mau jawab? Nanti yang ada malah marah lagi..”
Leon berdecak merasa gusar sendiri. Santi tidak akan berhenti mengomel jika sudah marah. Apa lagi leon sudah membuat santi kecewa.
“Nggak. Aku nggak mau buat tante marah lagi.”
Ceklek
Leon menoleh ketika mendengar suara pintu yang di buka. Dan di ambang pintu ruanganya alesia sudah berdiri dengan kedua mata sedikit tertutup menahan rasa kantuknya. Alesia juga sesekali menguap.
“Kakak.. Ayo tidur..” Rengek alesia manja.
Leon menghela nafas. Leon tidak bisa marah pada alesia meskipun tau alesia sedang membohonginya. Leon kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah menghampiri alesia.
“Kenapa bangun?” Tanya leon lembut.
“Dingin.. Mau di peluk tidurnya.”
Alesia dengan manja langsung berhambur ke pelukan leon. Dan saat itu juga tubuh alesia langsung melemas. Alesia langsung kembali terlelap di pelukan leon.
Leon tertawa pelan. Alesia tidak pernah semanja itu padanya. Alesia wanita yang mandiri. Kalaupun meminta sesuatu alesia selalu mengatakanya dengan tenang tidak merengek seperti akhir akhir ini.
Leon membopong tubuh alesia kemudian membawanya berlalu dari ruang kerjanya menuju lantai 2 dimana kamarnya berada.
__ADS_1