
“Saya nggak bisa menerima ini tante.”
Santi terdiam menatap rico yang berdiri di depanya tepat di depan pintu utama rumahnya. Pria tampan berponi itu menyodorkan paperbag yang kemarin santi tinggal untuknya.
“Apa maksud kamu?” Tanya santi mengepalkan kedua tangan yang berada di sisi kanan dan kiri tubuh rampingnya mulai emosi.
Rico menghela nafas. Rico meraih tangan kiri santi dan memberikan kembali peperbag berisi kamera berharga mahal itu.
“Saya tidak bisa menerima apapun dari tante.” Katanya.
Santi menelan ludahnya. Rico tidak menghargai pemberianya.
“Kenapa? Apa karna harganya murah?”
Rico tertawa mendengar pertanyaan santi.
“Jangan bercanda tante. Harga kamera ini bahkan mungkin sama dengan harga ginjal saya.”
“Saya tau tante orang kaya. Tante bisa membeli apapun yang tante mau. Tapi maaf, tante tidak bisa membeli harga diri saya.”
Santi menggelengkan kepalanya. Niat baiknya di artikan lain oleh rico.
“Jadi mending tante ambil balik kamera itu. Saya langsung pergi ya. Ada kerjaan.”
Rico membalikan tubuhnya setelah itu. Menghela nafas rico kemudian melangkah menuju motornya meninggalkan santi yang hanya diam mematung di ambang pintu utama rumahnya.
Tin Tiiin..
Suara klakson mobil membuat rico urung mengambil helmnya. Rico menatap kearah gerbang dimana sebuah mobil mewah berhenti di depan sana.
“Itukan...”
Rico menoleh kembali pada santi yang masih diam di belakangnya. Bramono datang dan santi hanya mengenakan tanktop dan celana piyama panjang berbahan satin.
“Ck. Merepotkan.” Decak rico.
Rico kembali melangkah mendekat pada santi. Pria berponi itu melepaskan jaket jins yang di kenakanya kemudian menempelkanya pada santi untuk menutupi bagian depan tubuh wanita itu yang terlihat jelas.
__ADS_1
“Lain kali kalau pake baju itu yang bener tante. Tuh ada bramono dateng.”
Lamunan santi langsung buyar saat rico menutupi tubuhnya dengan jaket jins yang di kenakanya. Santi membulatkan kedua matanya melihat bramono yang tiba tiba sudah berada di depanya dan rico.
“Kamu.. Ngapain lagi kesini?” Tanya santi galak.
Bramono tersenyum. Di liriknya riko yang hanya mengenakan kaos merah berlengan pendek. Bramono melihat jelas tadi rico mengenakan jaket. Namun jaket yang di kenakan rico kini sudah di gunakan oleh santi untuk menutupi tubuh bagian depanya.
“Kamu sengaja meminjam jaket bocah kecil ini untuk menutupi apa? Bukankah aku sudah pernah melihat semuanya?”
Kedua tangan rico mengepal mendengar ucapan bramono.
“Jaga bicara anda tuan. Anda tidak sepantasnya mengatakan hal kurang ajar seperti itu pada calon istri saya.”
Santi terkejut. Santi langsung menoleh pada rico yang sedang membela kehormatanya. Padahal rico sedang marah padanya. Tapi rico masih mau membelanya di depan bramono.
Mendengar itu bramono tertawa.
“Memangnya kenapa? Saya memang sudah pernah melihat setiap inci tubuh calon istri kamu bocah. Saya bahkan pernah menikmatinya.”
Rahang rico mengeras. Wajah tampanya memerah menandakan amarah sedang menguasainya. Ucapan bramono benar benar sudah melecehkan kehormatan seorang wanita. Dan wanita itu adalah santi.
Tanpa berkata apapun lagi kepalan keras rico mendarat dengan sempurna di sudut bibir bramono. Dan akibat bogeman keras itu tubuh bramono langsung terjungkal kebelakang sampai terjatuh di lantai.
“Anda benar benar tidak tau malu. Berani sekali anda melecehkan calon istri saya.” Tekan rico menatap bramono tajam.
Santi menutup mulutnya melihat keberanian rico. Pemuda tampan itu benar benar membelanya sampai berani memukul wajah bramono.
Bukanya marah karna bogeman rico bramono malah tertawa sambil memegangi sudut bibirnya yang berdarah. Pria berambut cepak itu kemudian berlahan bangkit dan berdiri tepat di depan rico yang masih di kuasai oleh amarah.
“Pukulan kamu lumayan keras.”
Rico menelan ludahnya. Dadanya kembang kempis karna emosi yang meluap luap.
Santi yang tidak mau rico menjadi sasaran bramono langsung melerai. Santi meraih tangan besar rico mengusapnya lembut.
“Sudah co.. Tidak perlu di ladeni. Lebih baik kita masuk. Inah sudah membuatkan sarapan.”
__ADS_1
Rico menghela nafas kasar. Dengan pelan rico mengangguk kemudian mengikuti santi masuk ke dalam rumah mewah itu meninggalkan bramono yang masih berdiri di tempatnya.
Bramono mengusap darah di sudut bibirnya. Pukulan rico sangat keras membuat rasa nyeri terasa. Bahkan bramono sampai merasakan sedikit pening di kepalanya.
“Dasar bocah sialan.” Umpat bramono kemudian pergi.
Rico melangkah dengan santi yang terus menggandeng tanganya. Rico masih merasa marah dengan apa yang di katakan bramono tadi. Dan anehnya santi sama sekali tidak melawan. Santi seolah membenarkan apa yang di katakan bramono tadi.
Rico menghentikan langkahnya membuat santi ikut berhenti.
“Tante..” Panggil rico.
Santi menelan ludahnya. Santi sebenarnya malu pada rico. Rico pasti akan menjauh jika tau santi memang pernah berhubungan dengan bramono. Santi juga tidak bisa melawan karna apa yang di katakan bramono benar.
“Kenapa tante hanya diam tadi? Bramono melecehkan tante dengan kata katanya. Harusnya tante marah bukan malah diam.”
Santi tidak tau harus mengatakan apa pada rico. Jika jujur rico pasti menjauh. Dan jika berbohong rico juga pasti akan marah.
“Dan lagi, tante nggak seharusnya keluar dengan pakaian terbuka seperti itu. Memangnya tante nggak malu apa keluar dengan pakaian seperti itu? Tante nggak malu kalau sampai pak satpam lihat?”
Santi menundukan kepalanya. Santi terbiasa mengenakan pakaian seperti itu. Dan selama ini tidak ada yang berani berkomentar apapun padanya. Leon yang sebagai keponakanya juga tidak pernah melarang atau berkomentar apapun dengan apa yang di kenakanya. Tapi sekarang rico protes. Rico bahkan memakaikan jaket jinsnya agar bramono tidak melihat penampilan santi yang sedikit terbuka.
“Seorang wanita itu akan lebih terhormat jika memakai pakaian yang sopan tante.”
Santi membalikan tubuhnya menghadap pada rico yang terus menatapnya.
“Sudahlah. Saya buru buru.”
Rico memutar tubuhnya kemudian melangkah dengan cepat berlalu dari hadapan santi yang mematung di tempatnya. Rico bahkan tidak sedikitpun menoleh pada santi dan langsung keluar dari kediaman megah itu menyisakan jaket jinsnya yang masih menempel di tubuh santi.
Apa dia perduli padaku?
Berlahan tapi pasti, seulas senyum mulai terukir di bibir santi. Entah kenapa santi tiba tiba merasa tidak lagi sendiri. Santi merasa ada seseorang yang perduli padanya. Seseorang yang seakan siap untuk menjaganya.
Santi menunduk menatap jaket jins milik rico. Rasanya sangat nyaman juga hangat. Wangi parfum yang menyeruak ke indra penciuman santi dari jaket itu membuat santi merasa tenang dan damai. Di sentuhnya dengan lembut jaket jins milik rico.
”Rico.. Terimakasih..” Lirih santi dengan senyuman di bibirnya.
__ADS_1
Santi menghela nafas. Rasa senang dan bahagia kini mulai kembali hinggap di hati santi. Rasa bahagia yang selama bertahun tahun tidak pernah santi rasakan. Rasa bahagia yang selama bertahun tahun juga santi anggap mati. Tapi sekarang rasa itu hadir kembali. Dan itu karna rico. Berondong tampan yang santi tuntut untuk berpura pura menjadi calon suaminya di depan bramono.