
3 hari setelah insiden pertemuan karin dan ririn telah berlalu dan sampai saat itu juga ikbal tidak pernah lagi bertemu dengan sang kekasih.
Dirinya telah mencoba menghubungi karin setelah mengantar sang kekasih pulang.
Namun nyatanya tidak ada jawaban. Bukan hanya itu, ikba juga sudah mengunjungi rumah karin namun hasilnya nihil. Dirinya benar benar frustasi akan hal tersebut.
Sambil mengacak rambutnya ikbal kembali menekan tombol hijau pada hpnya untuk menghubungi sang kekasih. Namun lagi lagi bukan jawaban yang dirinya inginkan yang di dengarnya.
"dimana sih kamu rin? Kenapa buat aku kaya gini?" serunya dengan suara lirih
Kilasan ingatan saat dirinya mengantar karin pulang kembali melintas di ingatannya. "jelas jelas waktu itu loh masih senyum sama gue, tapi kemana loh sekarang rin? " sambung ikbal sambil.menghempaskan dirinya kasar ke kasur
"karin.."lirihnya
"bal.. Bangun bal" suara raka, abang ikbal terdengar samar samar di telinga ikbal
Sambil berusaha mengembalikan kesadarannya ikbal berusaha duduk dari posisi tidurnya
"kenapa bang"tanya ikbal sambil menguap
"ganti baju bal, abis itu temanin gue ke RS" seru raka sambil berjalan kearah kamar mandi
"ngapain ke rs bang" tanya ikbal heran
"anak itu kritis bal, gue mau lihat dia. Temenin gue" seru raka
30 menit ikbal dan raka kini telah sampai di RS . Setelah memarkirkan mobilnya raka berlari kearah kamar yang telah dihafalnya.
Kamar bernuansa putih dan didalamnya selalu terbaring seorang anak laki laki dengan berbagai alat yang melekat tubuhnya. Anak laki laki yang jika diperhatikan kondisinya sangat memperhatinkan
Denga nafas bersengal sengal ikbal dan raka berlari kearah kamar tersebut. Dimana nampak sepasang suami istri yang sedang menangis tersedu sedu sambil berdoa dan juga menampakkan seorang anak perempuan yang nampak begitu pedih dalam tangisannya
"maaf om tante saya terlambat" seru raka dengan nafas memburu
"gimana keadaan adit?" sambungnya dengan nada khawatir setelah berhasil mengatur nafasnya
"dia kritis nak" kata wanita paruh baya tersebut sambil menangis
Raut wajah raka seketika menjadi pucat. Dirinya benar benar takut mendengar ucapan wanita paruh baya tersebut
__ADS_1
"tiba tiba saja adit kejang kejang" sambung pria yang nampak begitu sedih namun berusaha agar nampak kuat bagi anak istrinya
Ikbal sendiri masih terus diam mendengarkan percakapan tersebut. Enggan untuk berkomentar. Dirinya masih terus fokus pada anak perempuan yang duduk dilantai sambil terus menangis pilu yang terletak cukup jauh dari posisi ikbal dan raka saat ini.
"terus kata dokter gimana tan?" tanya raka
"apakah adit bisa di selamatin?" serunya dengan suara paruh menahan tangis
"dokter belum keluar nak, kita tunggu dokter saja" kata pria tersebut sambil kembali menenagkan sang istri
Hening melanda kolidor ruangan tersebut untuk beberapa saat. Di detik kemudian pintu ruangan tersebut terbuka dan menampakkan seorang dokter dan beberapa perawat keluar dari ruangan tersebut
Tanpa banyak membuang waktu sepasang suami istri tersebut langsung menuju sang dokter dan memberika rentetan pertanyaan dan juga di ikuti raka dan ikbal
"bagaimana keadaan anak saya dok? Apakah dia baik baik saja?" suara wanita paruh baya tersebut terdengar begitu serah akibat tangisan
"alhamdulillah dia sudah melewati masa kritisnya bu. Namun adit belum sadarkan diri sampai saat ini dan saya tidak bisa memastikan kapan adit akan sadar" seru sang dokter dengan suara pelan
"maksud dokter apa?" tanya wanita paruh baya tersebut
"anak ibu koma"sambung sang dokter kemudian berjalan meninggalkan orang orang tersebut.
Wanita paruh baya tersebut sontak berteriak histeris mendengar perkataan sang dokter
"mama sadar ma" sambungnya.
"tante bangun, maafin raka tan. Kalau saja raka hati hati raka engga kan nabrak adit" seru raka sambil membantu wanita paruh baya tersebut
"maafin ra..." raka terhenti saat tiba tiba saja kerah bajunya ditarik seseorang dengan kasarnya
"karin" seru ikbal melihat karin dengan kasarnya menarik kerah baju abangnya
"sialan loh" seru karin sambil melepaskan kerah baju raka
"gara gara loh adik gue jadi kaya gini" sambungnya dengan nada emosi
"maafin gue rin, gue engga sengaja" lirih raka dengan suara yang mulai serak karena menangis
"engga ada maaf buat loh" seru karin sambil kembali menarik kerah baju raka
"jangan berantem rin" seru sang papa
__ADS_1
"jangan buat ribut di sini, papa mau bawa mama kamu ke UDG dulu " sambung sang papa dan segera berlari kearah ugd tanpa mendengar ucapan balasan dari karin
"maaf" kata raka lirih
Sementara karin telah menatap raka dengan penuh kebencian dan air mata yang terus mengalir
"engga ada maaf buat loh. Loh udah nabrak adik gue" suara ksrin terhenti akibat tangisan "dan sekarang dia koma . Semua gara gara loh" sambungnya sambil memukul raka melapiaskan kekesalannya
"maaf rin" lirih raka di tengah kesakitannya
Ikbal sendiri yang dari tadi hanya diam mematung mendengar semuanya seketika kembali sadar dan langsung menarik karin menjauh dari raka.
Ikbal bukan membela sang abang. Namun jika terus membiarkan sang abang di pukuli oleh karin bukan tidak mungkin abangnya juga akan sekarat.
"udah rin. Udah " seru ikbal sambil memeluk karin
"gue benci sama loh bal, gue benci" seru karin yang langsung membuat ikbal serasa kaku
"gue ngga mau sayang sama adik dari orang yang nambrak adik gue" serunya lirik sambil terus berusaha melepaskan diri dari pelukan ikbal
"gue benci sama loh" sambungnya sebelum jatuh lemas.
Jika saja ikbal tidak memeluknya mungkin saja karin sudah jatuh ketanglai
" maaf rin, gue juga engga tau kalau dia adik loh" lirik ikbal sambil terus memeluk karin yang kini telah menangis sendu
"gue benci loh"seru karin
"maaf rin. Maafin gue, gue engga ada niat buat nipu loh " lirih ikbal
Tidak ada balas dari karin. Dirinya masih saja terus menangis dalam pelukan ikbal. Peresaannya benar benar hancur saat ini dan ikbal mampu memberikan rasa nyaman untuk dirinya sebagai seorang kekasih.
Namun di satu sisi, ikbal juga adalah adik dari orang yang menambrak adiknya dan hal itu baru diketahui karin 2 hari yang laku saat tiba tiba melihat raka mengunjungi adiknya dan setelah itu dirinya meminta menjelasan dari sang ibu.
"kenapa gue harus suka sama loh bal? Kenapa? " liroh karin masih dalam tangisan pilunya.
"jangan kaya gini rin, jangan salahin perasaan kita karena masalah ini rin. Ini tidak ada hubungannya " lirih ikbal masih dalam keadaan memeluk sang kekasih
"gue mohon jangan pernah ganggu gue lagi bal. Hubungan kita sampai disini aja" lirih karin sambil melepaskan pelukan ikbal kemudian melangkah menjauh dari tempat tersebut.
jangan lupa like dan comennya
__ADS_1
untuk mendukung penulis😊😊