
“Kita sebenarnya mau kemana sih tante?” Tanya rico menatap bingung pada santi yang sedang mengemudikan mobilnya dengan tenang padahal di belakangnya ada bramono yang mengikuti.
“Kamu bisa diam tidak? Duduk tenang dan ikuti saja kemana saya pergi.”
Rico berdecak.
“Maaf tante tapi saya harus pergi sekarang juga. Saya ada pekerjaan di luar kota.”
“Batalkan saja. Saya akan ganti semua kerugian kamu.” Sela santi cepat.
Rico menggelengkan kepalanya. Santi benar benar wanita yang memandang segalanya dengan uang.
Sementara itu mobil leon berhenti tepat di depan rumahnya. Pria itu terdiam sesaat kemudian turun dari mobilnya. Leon siap jika santi marah bahkan mencaci makinya setelah ini.
“Pkoknya kamu harus hati hati ya kak.. Jangan dengarkan apapun yang tante katakan. Jangan terbawa emosi.”
Leon tertawa pelan mengingat pesan istrinya. Alesia seakan tau apa yang akan santi katakan pada leon. Alesia bahkan juga seakan tau santi akan marah pada leon.
Leon menggeleng kemudian melangkah masuk ke dalam rumah. Leon berniat meminta tolong pada bi inah dan asisten rumah tangga yang lainya agar membereskan baju baju dan juga barang barangnya bersama alesia. Tekad leon sudah bulat. Leon ingin pindah ke rumahnya sendiri dan alesia. Bukan berniat menjauh dari santi, tapi semua itu leon lakukan demi kenyamanan istri tercintanya juga rencananya.
“Tuan..” Sapa bi inah yang menyadari kehadiran leon.
“Mana tante?” Tanya leon pada bi inah.
“Nyonya pergi tuan sama calon suaminya.”
Leon mengeryit mendengarnya.
“Calon suami? Siapa?” Tanya leon penasaran.
“Temanya nyonya alesia tuan.” Jawab bi inah lagi.
Leon semakin bingung. Santi tidak pernah dekat dengan siapapun. Santi juga tidak pernah mengenalkan leon dengan pria manapun yang mendekati atau sedang dekat denganya.
“Teman istri saya? Siapa?” Tanya leon semakin penasaran.
“Saya nggak tau namanya pak. Tapi dia pernah datang kesini untuk menemui nyonya alesia.”
Maksudnya rico? Tapi bagaimana mungkin tante bisa dekat dengan rico. Apa lagi sampai mengatakan rico sebagai calon suaminya.
“Ya sudah. Bi saya minta tolong bereskan semua baju baju dan juga barang barang saya dan istri saya yah. Saya mau ke ruang kerja saya. Dan nanti akan ada orang yang mengambil semua barang barangnya.” Kata leon kemudian.
“Baik tuan.” Angguk bi inah.
__ADS_1
“Makasih ya bi..” Senyum leon kemudian berlalu menuju ruang kerjanya.
Bi inah menghela nafas. Wanita berbadan lebar itu menatap sendu punggung lebar leon yang terus menjauhinya.
“Apa mungkin tuan dan nyonya akan benar benar meninggalkan rumah ini..” Gumamnya merasa sedih.
Leon memasuki ruang kerjanya. Pria itu melangkah cepat menuju meja kerjanya. Leon meraih tumpukan berkas di atas meja kerjanya dan membawanya menuju sofa panjang yang ada di seberang meja kerjanya. Leon membuka satu persatu tumpukan berkas tersebut memisahkanya dengan berkas yang lain.
Deringan hp dalam saku celana jins hitamnya membuat leon mencampakan sejenak berkas berkas tersebut. Leon merogoh saku celananya dan tersenyum menatap layar benda pipih tersebut. Yah, alesia menelponya pasti karna terlalu mengkhawatirkanya.
“Halo..”
“Kak.. Bagaimana? Apa tante marah marah sama kakak?”
Leon tertawa pelan mendengar pertanyaan tidak sabaran istrinya. Leon tau istrinya sangat mengkhawatirkanya sekarang. Tapi menurut leon apa yang di khawatirkan istrinya justru lucu dan terlalu berlebihan. Leon bukan anak kecil yang akan menangis jika di marahi oleh santi.
“Nggak ale.. Kamu tenang aja. Orang tante juga nggak di rumah kok. Dia tu lagi pergi sekarang.” Jawab leon.
Helaan nafas alesia terdengar begitu jelas membuat leon tersenyum geli membayangkan ekspresi istrinya saat ini.
“Syukurlah.. Aku takut banget kamu berantem lagi sama tante.. Aku nggak mau hubungan kamu sama tante memburuk.”
Leon menghela nafas pelan. Andai saja tantenya tau bagaimana baiknya hati alesia. Andai saja tantenya juga tau bagaimana alesia memperdulikanya. Santi pasti tidak akan memandang alesia buruk dan terus membanding bandingkanya dengan pingkan.
“Ya kak. Kamu hati hati. Jangan ngebut bawa mobilnya.” Titah alesia.
“Ya ale..”
Leon menaruh hp nya di atas meja kaca di depanya setelah menyudahi telponya dengan alesia. Leon menghela nafas lagi. Entah harus bagaimana membuat santi mengubah pandanganya pada alesia. Jika harus bersikap tidak baik dulu pada alesia baru akan membuat santi luluh leon benar benar tidak bisa. Leon tidak bisa menargetkan istrinya sendiri meskipun itu memang demi kebaikan alesia juga santi.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat leon menoleh ke arah pintu bercat coklat itu.
“Masuk !” Seru leon.
Berlahan pintu tersebut terbuka hingga akhirnya memunculkan sosok cantik pingkan dengan penampilan casualnya. Leon menebak pingkan baru pulang bekerja.
“Kamu..” Gumam leon malas.
Pingkan tersenyum manis kemudian masuk ke dalam ruang kerja leon. Wanita dengan kemeja putih dan jas hitamnya itu melangkah menghampiri leon. Rok span pendeknya membuat kaki jenjangnya terlihat indah namun itu tidak mampu membuat leon melirik apa lagi sampai tertarik padanya.
“Kok sepi banget? Tante kemana?” Tanyanya basa basi.
__ADS_1
“Tante lagi pergi.” Jawab leon singkat.
Pingkan menganggukan kepalanya.
“Aku boleh duduk?”
Leon menatap sekilas pada pingkan kemudian menganggukan kepalanya.
“Silahkan.” Jawabnya.
Pingkan tersenyum dan mendudukan dirinya di seberang sofa yang di duduki leon. Posisi mereka terpisah oleh meja kaca yang ada di tengah antara 2 sofa panjang yang mereka berdua duduki.
Pingkan tersenyum menatap leon yang tampak sangat serius membaca berkas berkasnya. Pingkan benar benar tidak bisa memungkiri bahwa dirinya menyukai semua yang ada pada leon.
“Eemm.. Kamu mau aku bikinin minum?” Tanya pingkan mencoba membuka obrolan antara dirinya dan leon.
Leon terdiam. Leon mengangkat kepalanya. Kehadiran pingkan di ruang kerjanya benar benar membuat leon merasa terganggu.
“Tidak usah. Saya nggak haus.” Tolak leon menatap pingkan dengan ekspresi datar.
Pingkan tersenyum tipis. Leon memang jarang sekali bersikap ramah padanya. Kalaupun ramah itu juga hanya di depan santi saja.
“Permisi tuan..”
Leon menoleh dan mendapati bi inah yang sudah berdiri tidak jauh darinya dan pingkan.
“Ah ya bi.. Sudah selesai?”
Leon menutup berkas yang sedang di bacanya. Leon kemudian membagi 2 berkas berkas yang ada di depanya sebelum akhirnya menatap bi inah yang ada di depanya.
“Sudah tuan.. Di depan juga sudah ada orang yang datang untuk membawa barang nyonya dan tuan..” Jawab bi inah.
Mendengar itu pingkan mengeryit.
“Membawa barang kamu? Memangnya kamu mau kemana leon?” Tanya pingkan penasaran.
“Eem.. Bi tolong suruh mereka langsung mengangkut saja semuanya.”
“Baik tuan..” Angguk bi inah kemudian berlalu.
Leon meraih tumpukan berkas yang sudah di pilihnya. Pria tampan itu kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan menuju meja kerjanya untuk menaruh berkas yang di rasa tidak leon perlukan nantinya. Leon sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan pingkan.
“Leon..” Panggil pingkan pelan.
__ADS_1
“Saya mau pindah dari rumah ini.”