
Santi tidak bisa untuk tidak tersenyum selama di kantor. Santi bahkan membalas dengan ramah sapaan para karyawanya. Benar benar suatu yang sangat langka mengingat santi adalah wanita jutek dan galak pada siapapun.
”Bu bos lagi kenapa ya? Tumben banget hari ini ceria gituh. Padahal kan biasanya galaknya kaya herder.”
“Hus. Jangan asal kamu kalau ngomong.”
“Loh aku nggak salah ngomong kan? Kamu kan juga liat sendiri bagaimana ibu santi hari ini..”
“Sudah.. Jangan di bahas. Dari pada nanti kedengeran langsung sama orangnya malah jadi masalah loh. Kamu mau di potong gaji karna ketahuan ngehibahin bu santi?”
“Ya nggak mau sih..”
Santi terdiam mendengar obrolan 2 karyawanya yang sedang makan siang di dapur kantor. Santi menghela napas. Menurut santi dirinya hanya ingin terlihat tegas agar para karyawanya tidak berbuat seenaknya.
Apa yang aku lakukan selama ini memang salah?
Tidak mau membuat 2 karyawanya terkejut santi pun memilih berlalu dari dapur dan menyuruh OG untuk mengambilkan apa yang santi perlukan.
“Tante kenapa?”
Santi melirik pada rico yang duduk di sofa seberang meja kerjanya. Rico benar benar menemaninya hari ini.
“Kamu nggak kerja?” Tanya balik santi.
“Kerja sih tante. Sebentar lagi. Tante nggak papa kan saya tinggal?”
Santi tertawa pelan. Rico bertanya seolah santi tidak biasa hidup seorang diri.
“Pertanyaan apa itu? Saya bukan anak kecil rico.”
Rico meringis. Bukan maksudnya seperti itu. Rico hanya tidak mau santi marah padanya jika rico datang dan pergi seenaknya.
“Ya sudah kalau begitu, saya ke tempat kerja ya tante.”
“Kamu bawa mobil saya saja.” Kata santi.
Rico terdiam. Motornya memang berada di rumah santi. Rico menitipkanya pada pak satpam disana.
“Loh terus tante..”
“Saya nggak kemana mana hari ini. Bawa saja mobilnya.” Sela santi.
Rico menganggukan kepalanya.
“Baiklah. Nanti saya jemput ya tante. Tante jangan galak galak sama karyawan disini kasian mereka nanti ketakutan.” Kata rico yang di imbuhi dengan candaan di akhirnya.
__ADS_1
Santi tersenyum.
“Apaan sih. Memangnya saya macan apa mereka sampai takut.”
“Tante itu bukan macan tapi tante itu calon macan.. Mamah cantik.” Senyum manis rico.
Santi terdiam menatap rico yang tersenyum manis padanya. Pikiranya tiba tiba melayang pada masa lalunya. Dulu santi pernah hamil namun keguguran.
Mungkin jika kamu ada mamah tidak akan kesepian seperti ini nak..
Senyum rico berlahan pudar melihat santi yang hanya diam. Rico merasa tidak enak sendiri karna sudah bercanda di luar batas.
“Eemm.. Saya salah ngomong ya tante?” Tanya rico ragu.
Santi menghela napas. Santi tidak bisa menyalahkan rico yang membuat pikiranya kembali ke masa lalu.
“Nggak, nggak papa. Kamu hati hati di jalan ya.” Senyum santi.
Rico tersenyum tipis. Rico tau santi sedang memikirkan sesuatu dan itu karna dirinya yang mengatakan tentang ”mamah cantik”
“Ya sudah. Saya kerja dulu ya tante.”
“Ya..”
“Nanti saya jemput ya tante..” Katanya mengulang lagi.
“Saya tunggu.” Balas santi tersenyum manis.
Rico mendadak salah tingkah. Pria berponi itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal bingung harus berkata apa lagi.
“Ya sudah, permisi tante.”
“Iya co..”
Rico memutar tubuhnya dan melangkah menuju pintu ruangan santi. Saat hendak membuka pintu rico kembali menoleh menatap santi yang juga sedang menatapnya.
“Semangat ya tente..” Katanya menyemangati santi.
“Kamu juga.” Balas santi.
Rico tersenyum kemudian membuka pintu ruangan santi dan keluar dari sana. Entah karna rasa leganya sudah membayar hutang pada tetangga ibunya di kampung atau memang rico mulai merasa nyaman dengan santi sehingga rico merasa hatinya benar benar berbunga bunga sekarang.
Rico menghela napas. Di tatapnya lagi pintu ruangan santi. Jika boleh jujur rico sebenarnya ingin tetap berada disana menemani santi bekerja. Tapi itu tidak mungkin karna rico harus bekerja agar bisa secepatnya mengganti uang santi yang sudah melunasi hutangnya pada tetangga ibunya.
-----
__ADS_1
Di dalam ruanganya leon tidak bisa berkonsentrasi. Alesia sudah bertemu langsung dengan bramono. Dan alesia bahkan menganggap bramono orang yang baik. Padahal sebenarnya tanpa alesia tau bramono adalah pria tidak berperasaan. Bramono adalah pria kejam yang suka menghalalkan segala cara demi tujuanya.
“Apa aku tanyakan langsung saja pada bramono?”
Leon terus mencoba memikirkan jalan keluar dari berbagai masalah yang menghampirinya. Mulai dari bagaimana caranya menjelaskan pada alesia tentang kebohonganya sampai bagaimana cara menemukan ayah kandung alesia yang sesungguhnya. Leon benar benar bingung. Masa lalu ibu le menyangkut bramono. Dan itu sangat di luar dugaan leon.
Leon berdecak. Leon menyandarkan punggungnya di sandaran kursi yang di dudukinya. Leon benar benar tidak tau menangani yang mana dulu. Kebohonganya jika terus di pupuk pasti akan menghancurkanya. Tapi mencari siapa ayah kandung alesia juga sangat penting dan tidak bisa leon tunda tunda. Leon ingin semuanya jelas.
Suara deringan hp di atas meja di samping berkas yang tertumpuk membuat leon mengalihkan perhatianya. Leon segera meraih benda pipih itu dan tersenyum ketika mendapati kontak dengan nama “Tante” tertera di layar hp miliknya.
Tante nelpon aku?
Leon merasa senang. Selama dirinya keluar dari kediaman sanjaya santi memang jarang bahkan tidak pernah lagi mau menghubunginya. Santi bahkan selalu datang ke rumahnya jika leon sedang tidak di rumah.
“Halo tante..”
“Kamu dimana le?”
Leon mengeryit. Suara santi terdengar sangat tidak bersemangat.
“Aku di kantor tante. Tante kenapa? Tante sakit?” Tanya leon mulai merasa khawatir.
“Ya tante sakit. Tante sakit karna masa lalu yang tiba tiba mengusai pikiran tante sekarang.”
Suara santi terdengar mulai serak seperti sedang menahan tangis. Entah apa yang terjadi pada santi tapi yang jelas leon benar benar merasa sangat khawatir sekarang.
“Tante dimana sekarang?”
“Tante di kantor le..” Jawab santi lirih.
“Ya sudah. Leon kesana sekarang. Tante jangan kemana mana ya..”
Leon langsung memutuskan sambungan telponya begitu saja. Leon menutup laptopnya kemudian meraih kunci mobilnya dan segera bangkit dari duduknya. Leon melangkah cepat menuju pintu ruanganya.
Sebelum pergi leon lebih dulu menghampiri sekertarisnya dan menyuruh supaya menunda waktu pertemuanya dengan client yang rencananya akan leon hadiri sore nanti.
Apa mungkin tante mengingat kembali tentang masa lalunya dengan bramono?
Leon mengendarai mobilnya dengan kecepatan maximal. Akhir akhir ini santi memang kembali aktif di perusahaanya. Tapi tentang masa lalu santi tidak pernah sekalipun menyinggungnya pada leon. Santi selalu terlihat tangguh dan masa bodoh.
“Bagaimana jika memang ayah kandung alesia ada hubunganya dengan bramono? Apa tante akan semakin membenci alesia?”
Berbagai pikiran buruk mulai mengusai pikiran leon. Santi sangat membenci bramono. Dan masa lalu ibu le ada hubunganya dengan bramono.
Ya tuhan.. Apa yang harus aku lakukan?
__ADS_1