Sebuah Rasa

Sebuah Rasa
Di hantui rasa takut


__ADS_3

“Kak.. Tentang paket itu..”


Leon menghela nafas mendengar ucapan alesia yang menggantung. Leon juga tidak bisa berhenti memikirkanya.


“Ale.. Nggak usah di pikirin lagi yah.. Semuanya akan baik baik saja. Percaya sama aku..” Senyum leon mendongak menatap alesia yang berdiri di samping meja kerjanya.


Alesia menghela nafas. Paket misteruis berisi pakaian bayi itu membuat alesia terus bertanya tanya. Alesia sempat berpikir jika santi yang mengirim namun kemudian alesia langsung menepis pikiran itu. Santi bukan orang seperti itu. Santi selalu melakukan perbuatan baik dengan kejudesanya bukan dengan kemisteriusan seperti pagi tadi.


“Kak aku takut..”


Leon meraih kedua tangan alesia dan menggenggamnya lembut.


“Nggak perlu takut.. Ada aku disini. Aku selalu di samping kamu..” Hibur leon.


Leon tersenyum mencoba menghibur alesia. Meskipun sebenarnya leon juga merasakan hal yang sama. Leon takut jika sebenarnya pengirim paket itu mempunyai niat buruk pada kehidupanya dan alesia.


“Kak tapi..”


Leon menarik lembut alesia hingga alesia duduk di pangkuanya. Pria tampan itu kemudian memeluk mesra pinggang istri tercintanya.


“Orang baik akan selalu di lindungi oleh tuhan. Kamu wanita yang baik. Aku percaya itu.” Katanya tepat di depan wajah cantik alesia.


Alesia terdiam. Ucapan leon tidak mampu membuat hatinya tenang. Alesia tetap merasa was was. Paket itu seperti sebuah ancaman untuknya.


“Sekarang kita tidur yah.. Udah malem.” Kata leon lagi.


Leon kemudian bangkit dari duduknya dengan menggendong alesia yang terus diam. Pria berkaos putih polos dengan kerah v itu melangkah pelan menuju pintu ruang kerjanya. Leon tau istrinya sedang ketakutan. Tapi leon tidak bisa berbuat banyak saat ini selain menghibur dan menenangkan alesia. Meskipun memang itu belum tentu berhasil.


Ya tuhan.. Jangan biarkan orang orang jahat menghancurkan kebahagiaanku dan kak leon.. Aku mencintai kak leon.. Sangat mencintai kak leon..

__ADS_1


Pukul 12 malam tepat leon masih belum bisa memejamkan kedua matanya. Pikiranya mengarah kemana mana. Mulai dari paket misterius tadi pagi, hubungan penuh misteri santi dan rico, sampai kebohonganya pada alesia. Semua itu benar benar membuat leon merasakan kepalanya seperti akan pecah.


Leon menolehkan kepalanya. Posisi tidur alesia sudah berganti memunggunginya. Hal itu memudahkan leon untuk bangkit dari berbaringnya.


“Ya tuhan.. Jangan coba aku dengan ujian yang di luar batas kemampuanku..” Lirih leon.


Bagi leon alesia adalah segalanya. Alesia dunianya. Alesia tempatnya melabuhkan cinta. Leon tidak akan sanggup menghadapi ujian dari tuhan jika sudah menyangkut alesia.


Leon menolehkan lagi kepalanya. Nafas alesia begitu halus. Dan itu menandakan alesia benar benar lelap malam itu.


”Sayang.. Bagaimana jika aku jujur nanti? Apa kamu akan bisa mengerti? Apa kamu bisa memahami?” Lirih leon bertanya tanya.


Leon meneteskan air matanya tanpa sadar. Takut, itu yang selalu menghantui leon.


“Asalkan tidak ada kebohongan di antara kita aku pasti akan sangat bahagia kak.”


Tiba tiba ucapan alesia kembali terngiang di telinga leon. Alesia mengatakan akan sangat bahagia jika tidak ada kebohongan di antara mereka berdua. Dan itu seperti sebuah tamparan keras bagi leon.


Leon menelan ludahnya susah payah. Bayangan alesia menangis karna kecewa padanya membuat leon merasa tidak kuat. Leon kembali membaringkan tubuhnya dan langsung memeluk tubuh alesia dari belakang. Dan dalam keheningan malam leon menangis merasa takut jika suatu saat alesia kecewa dan akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkanya.


Alesia yang terusik karna pelukan leon pun terbangun dari tidur lelapnya. Alesia membalikan tubuhnya menghadap leon. Alesia yang masih merasakan kantuk hebat tidak menyadari leon yang menangis di depanya.


“Kak.. Jangan kenceng kenceng peluknya.. Aku nggak bisa nafas..” Rengeknya dengan suara serak.


Leon mengusap air mata yang membasahi pipinya. Pria tampan bermarga sanjaya itu tidak mau jika sampai alesia melihatnya menangis. Leon juga tidak mau jika alesia sampai curiga padanya.


“Iya ale.. Maaf..” Balas leon lirih.


Setelah berkata alesia kembali memejamkan kedua matanya. Nafasnya begitu tenang membuat leon tersenyum dalam tangisnya. Leon memahami mungkin istrinya merasakan lelah yang tidak biasa karna kehamilanya.

__ADS_1


Leon menghela nafas. Leon berusaha menepis rasa takut yang terus menghantuinya sehingga membuat leon sampai meneteskan air matanya. Semuanya sudah terlanjur. Nasi sudah menjadi bubur. Dan leon tidak bisa lagi untuk mundur. Rencananya untuk membuat hubungan santi dan alesia akur harus terwujud. Alesia memang mungkin akan sangat kecewa padanya jika nanti leon jujur. Tapi leon berusaha untuk yakin. Alesia sangat mencintainya begitu juga sebaliknya. Alesia tidak akan mungkin pergi meninggalkanya apa lagi sebentar lagi akan hadir buah dari cinta mereka.


Leon menyentuh lembut perut alesia. Senyumnya mengembang. Sudah lama leon menantikan kehadiran buah hatinya bersama alesia.


Nak.. Tolong bantu papah..


 ----


Tidak jauh berbeda dengan leon, rico pun tidak dapat memejamkan mata sampai menjelang pagi. Rico masih memikirkan sikap manis santi padanya siang tadi. Padahal rico sudah berkata kasar tapi santi tidak marah. Santi bahkan malah meminta maaf padanya dan tetap meninggalkan paperbag yang di bawanya di samping tas rico.


Rico menolehkan kepalanya. Kedua matanya menyipit menatap paperbag yang sama sekali tidak rico lihat apa isi di dalamnya. Rico hanya merasa sayang jika barang tersebut di tinggalkan. Maka dari itu rico membawanya pulang dan menaruhnya di atas meja di sudut ruangan di kamarnya yang sempit.


Rico bangkit dari berbaringnya. Rico mulai penasaran dengan isi paperbag tersebut.


“Buka jangan yah?” Gumam rico sedikit ragu.


Meskipun memang santi mengatakan paperbag itu untuknya tapi rico sudah menolaknya. Rasanya akan sangat lucu jika rico diam diam menerimanya.


“Ah buka dikit nggak papa kali yah..” Putus rico.


Rico bangkit dari ranjangnya kemudian melangkah menuju sudut ruangan dimana ada meja tempat rico menaruh paperbag pemberian santi. Rico mulai membuka paperbag berwarna hitam itu kemudian mengeluarkan isinya.


“Kamera?”


Rico menatap tidak percaya pada kamera yang berada di tanganya. Rico tau berapa harga benda elektronik yang sedang di pegangnya. Harganya tidak murah bahkan mungkin pendapatan rico satu bulan pun belum tentu cukup untuk membelinya.


“Ya tuhan.. Dia serius kasih ini ke aku?”


Rico menggelengkan kepalanya. Rico tau santi orang kaya raya. Tapi membuang buang uang untuk orang yang bukan siapa siapanya itu sangat aneh menurut rico.

__ADS_1


“Apa segampang itu orang orang kaya seperti tante santi mendapat uang?” Gumam rico menatap kamera di depanya.


Rico membolak balikan kamera yang di pegangnya. Rico hanya sedang bersandiwara menjadi calon suami santi di depan bramono. Dan rico merasa tidak berhak menerima apapun dari santi. Rico tidak mau di anggap meminta minta atau bahkan memanfaatkan keadaan karna sedang dekat dengan santi.


__ADS_2