Sebuah Rasa

Sebuah Rasa
Semuanya terungkap


__ADS_3

Leon menunduk menatap wajah damai alesia yang terlelap di dekapanya. Leon sudah tidak tau lagi harus bagaimana. Melanjutkan sandiwaranya hanya akan menambah luka di hati istrinya. Tapi menghentikanya juga belum tentu alesia akan bisa mengerti. Kebohongan yang leon lontarkan sudah terlalu banyak dan rasanya akan sangat sulit untuk bisa di terima oleh alesia.


Deringan hp di atas nakas samping tempat tidurnya membuat leon menoleh. Tidak mau suara nyaring benda pipih itu mengganggu tidur lelap istrinya leon pun segera meraihnya dengan tangan kirinya. Leon mengeryit ketika mendapati nama kontak santi di hp nya.


“Tante...” Gumamnya.


Leon menelan ludahnya susah payah. Santi pasti akan memarahinya.


Pelan pelan Leon melepaskan dekapanya pada alesia kemudian bangkit dan turun dari ranjang. Leon kemudian melangkah pelan keluar dari kamarnya bermaksud untuk mengangkat telpon dari santi.


Setelah berada di luar kamar, leon segera mengangkat telpon dari santi.


“Halo tante...”


Leon berucap sangat pelan. Padahal pintu kamar sudah leon tutup tapi leon tetap berusaha menjaga volume suaranya agar tidak terdengar oleh alesia.


“Tante.. Tante apa kabar?” Tanya leon dengan senyuman di bibirnya.


Leon berharap santi sudah tidak lagi marah padanya.


“Apa alesia sudah tidur?”


Bukanya jawaban yang leon dapatkan tapi malah pertanyaan balik yang santi lontarkan. Dari situ leon bisa mengerti santi belum bisa benar benar memaafkanya.


Leon menghela napas pelan. Kesalahanya memang tidak mudah untuk di maafkan.


“Sudah tante..” Jawabnya.


“Bagus. Sekarang kamu turun ke bawah. Tante ada di depan.”


Leon mengeryit. Pria tampan itu langsung berjalan ke arah jendela yang ada di samping kamarnya. Dan benar saja, mobil santi sudah ada di depan rumahnya, tepatnya di depan gerbang yang masih tertutup.


“Oke.. Leon turun sekarang. Tante tunggu sebentar.”


Leon mematikan sambungan telponya kemudian berlari dan menuruni satu persatu anak tangga dengan sangat cepat.


Dalam waktu singkat leon sudah berada di depan gerbang. Pria itu segera keluar tanpa membangunkan satpamnya yang sudah tertidur di dalam posnya.


Leon melangkah menghampiri mobil santi dimana santi sudah berdiri di samping mobilnya dengan rico yang berada di sampingnya. Leon mengeryit. Rico memang selalu ada di samping santi sejak mereka dekat.


“Tante.. Dia..”

__ADS_1


“Dia menemani tante kesini.” Sela santi cepat.


Rico yang berada di samping santi hanya diam. Rico tau leon memang tidak menyukainya.


Leon mengangguk mengerti. Mungkin sekarang kehadiran rico sangat penting bagi santi.


“Kita masuk ke dalam tante..”


“Nggak usah leon. Kita bicara saja disini. Tante takut alesia nanti mendengarnya.” Sela santi lagi.


Rico mengeryit bingung. Rico hanya menuruti permintaan santi untuk menemaninya menemui leon tanpa tau apa tujuan juga niat santi menemui leon.


“Tante tapi dia..”


Santi menoleh pada rico yang ada di sampingnya. Santi tau leon takut rico tau tentang kebohonganya.


“Rico sudah tau semuanya. Kamu tidak perlu bersandiwara di depanya.” Kata santi.


Rico mengangkat sebelah alisnya. Rico tidak merasa tau apapun tentang leon.


Tau apa? Sandiwara apa?


Leon menghela napas dan memejamkan kedua matanya sesaat sebelum membukanya kembali dan menatap santi juga rico bergantian.


Leon menundukan kepalanya tidak tau harus menjawab apa.


“Kamu tau leon.. Siang tadi alesia datang menemui tante. Dia menanyakan tentang kamu yang sudah mengingat tante atau belum.. Tante mungkin memang kurang suka pada alesia.. Tepi tante lebih tidak suka lagi melihat alesia terluka dan menangis karna kamu.”


Rico semakin bertanya tanya. Rico tau apa yang menimpa leon. Tapi rico tidak tau menahu kemana arah prmbicaraan mereka.


Apa itu artinya pak leon menyembunyikan sesuatu dari alesia?


“Leon.. Semakin kamu terus berbohong semakin besar pula kemungkinan alesia akan meninggalkan kamu. Tante juga wanita, tante tau bagaimana rasanya di kecewakan oleh orang yang tante cintai. Dan tante juga tau bagaimana hancur dan sakitnya saat kepercayaan yang tante berikan tidak di jaga dengan benar..”


Napas leon memburu. Leon menyadari dirinya memang bodoh karna tidak lebih dulu berpikir panjang sebelum berbuat.


“Tante ingatkan kamu leon.. Kesempatan tidak pernah datang untuk yang kedua kalinya. Lebih baik kamu jujur sekarang atau kamu akan menyesal..”


Leon menggelengkan kepalanya. Semuanya tidak semudah seperti yang santi katakan. Jujur pada alesia sekarang itu artinya leon harus siap melihat istrinya terluka dan itu karna dirinya, Karna kebodohanya.


“Leon belum siap untuk jujur tante..” Lirih leon.

__ADS_1


“Jujur tentang apa?”


Leon tertegun mendengar suara bergetar alesia dari belakangnya. Begitu juga dengan santi dan rico yang sedari tadi hanya diam mendengarkan. Kehadiran alesia benar benar tiba tiba.


Leon merasakan jantungnya berdetak dengan begitu sangat cepat. Dadanya terasa sangat sesak sampai napasnya terasa sangat berat.


“Apa maksud dari ucapan tante? Jujur tentang apa? Apa yang kak leon sembunyikan dari aku?”


Alesia, wanita itu berusaha untuk tetap kokoh berdiri meskipun lututnya bergetar juga tubuhnya terasa lemas. Napasnya memburu dan dadanya kembang kempis mencoba menghilangkan rasa sesaknya.


Kedua mata leon terasa sangat panas. Pandanganya mengabur menatap lurus pada santi dan rico yang juga mematung di tempatnya. Padahal sebelum leon keluar kamar alesia sudah terlelap. Tapi sekarang alesia ada di belakangnya dan mendengar semua yang santi katakan tentang kebohonganya.


“Kenapa kalian diam?! Lanjutkan lagi pembicaraan kalian !”


Alesia berteriak dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipi chuby nya. Alesia tidak menyangka jika ternyata leon sudah sembuh dari amnesianya tapi terus berpura pura tidak mengingat apapun padanya.


“Kamu jahat banget sama aku kak.. Kamu bohongin aku.. Kamu pura pura tidak mengenali aku.. Istri kamu sendiri.. Kamu bahkan pernah meragukan bahwa janin dalam kandungan aku ini adalah anak kamu !!”


Buliran bening dari kedua mata leon menetes. Semuanya sudah terungkap. Alesia sudah tau semuanya. Sandiwaranya sudah berakhir.


“Kenapa kamu diam hah?! Kenapa ?! Hu hu hu hu.. Kamu jahat kak hu hu hu.. Aku benci kamu !! Hu hu hu..”


Leon merasakan tubuhnya kaku. Kedua tanganya, kedua kakinya, juga tubuhnya. Bahkan untuk sekedar menolehkan kepalanya saja leon merasa tidak mampu.


Santi ikut menangis melihat alesia yang kalut setelah mengetahui semuanya. Niatnya datang bukan untuk membongkar semua sandiwara leon. Santi hanya berniat mengingatkan keponakan satu satunya itu agar tidak menyesal di kemudian hari.


Ya tuhan.. Apa yang aku lakukan..


Tubuh alesia berlahan meluruh ke lantai halaman rumahnya. Alesia benar benar merasa hancur sehancur hancurnya sekarang. Leon pria yang sangat di cintai juga sangat dia percaya membohonginya. Leon bersandiwara dengan berpura pura tidak mengingatnya sama sekali.


Rico yang merasa iba segera berlari menubruk tubuh alesia. Rico tidak tau apa yang terjadi sebenarnya. Tapi rico tidak bisa membiarkan alesia seperti itu.


“Al tenang.. Kamu tenang yah.. Ada aku disini..” Bisik rico sambil memapah tubuh lemas tak bertenaga alesia.


“Kak leon jahat co.. Hu hu hu hu..”


Tangisan alesia semakin hebat. Tubuhnya begitu lemas dalam papahan rico.


Sedang leon pria itu masih tetap terpaku di tempatnya tanpa sedikitpun dapat bergerak. Bibirnya mengatup rapat juga bergetar. Air matanya berlomba lomba menyebrangi kedua pipi tirusnya.


Rico menatap tubuh tegap leon yang berdiri membelakanginya. Rico merasa tidak berhak ikut campur apapun urusan rumah tangga keponakan dari wanita yang sangat di cintainya itu. Tapi alesia adalah temanya. Alesia adalah sosok baik yang dia kenal lama. Tidak mungkin jika rico membiarkan alesia yang sedang kalut tetap bersama leon sekarang.

__ADS_1


Semoga apa yang hamba lakukan tidak salah tuhan..


“Al.. Kita pergi dari sini yah..”


__ADS_2