Sebuah Rasa

Sebuah Rasa
Bertemu rico


__ADS_3

Santi masuk ke dalam caffe lina tempat dirinya dan rico akan bertemu. Wanita dengan gaun selutut simple hijau toska itu memilih tempat duduk yang mungkin akan gampang di jangkau oleh penglihatan rico jika datang nanti. Santi mendudukan dirinya di kursi di tengah antara pengunjung lainya.


Rico pasti akan bisa cepat melihatku jika disini


Santi meletakan tas kecilnya di atas meja. Untuk mengusir rasa jenuh sembari menunggu santi memainkan hp nya. Wanita itu tertawa geli melihat layar hpnya.


“Ya tuhan.. Aku terlalu cepat 15 menit dari janji.” Gumamnya merasa lucu.


Santi kemudian memesan minuman untuk menemaninya menunggu kedatangan rico. Karna 15 menit bukanlah waktu yang sebentar bagi orang seperti santi yang memang sangat tidak sabaran.


15 Menit menunggu rico belum juga datang. Dan hal itu membuat santi gusar. Wanita itu merasa jengkel juga was was. Sesekali santi mencoba menghubungi rico kembali namun nomornya tidak aktif.


“Gimana sih? Ini tuh udah lebih dari 15 menit aku nungguin dia.. Memangnya siapa dia berani membuat aku menunggu seperti ini.”


Santi menolehkan kepalanya ke arah pintu kaca caffe itu. Namun dari sekian pengunjung yang datang silih berganti tidak ada sosok rico disana.


Oke santi. 5 Menit. Tunggu dia 5 menit lagi.


Santi menarik nafas dalam dalam kemudian menghembuskanya berlahan lewat mulut. Santi mencoba menyabarkan dirinya dan terus menunggu kedatangan rico.


Sementara di luar caffe rico baru saja sampai. Pria dengan jaket kulit hitamnya itu duduk tidak berdaya di depan caffe dengan nafas terengah engah. Bagaimana tidak? Itu karna rico harus berlari dari jarak lebih dari 1 kilo meter karna ban motornya yang pecah.


“Ya tuhan.. Capek sekali..” Gumam rico dengan nafas tersengal serta tangan yang memegangi dadanya.


Rico menelan ludahnya susah payah. Berlahan pria itu bangkit berdiri. Rico tidak perduli dengan tatapan aneh orang orang di sekitarnya. Yang terpenting sekarang adalah menemui santi agar santi tidak membuat alesia susah.


Lakukan semuanya demi alesia rico. Demi alesia. Bukan yang lain.


Rico masuk ke dalam caffe itu. Dan pandanganya langsung tertuju pada santi yang sedang memainkan hpnya dengan wajah yang tidak bersahabat. Tidak mau membuat wanita itu benar benar mengadukan pada leon tentang suatu yang tidak benar rico pun segera melangkah mendekati meja tempat santi berada.


“Tante..”


Santi langsung menoleh. Tatapanya begitu tajam pada rico yang berdiri di sampingnya.


“Kenapa lama? Kamu pikir waktu saya tidak berharga apa?” Kesal santi menatap tajam rico.


Rico menelan ludahnya. Kesal sekali rasanya. Rico sudah berlari begitu jauh dan begitu sampai santi malah marah marah padanya.


Sabar rico.. Ingat alesia

__ADS_1


“Maaf tante, tadi ban motor saya pecah.”


Santi menyipitkan kedua matanya. Wanita itu kemudian menyadari rambut berponi rico yang basah oleh keringat.


“Ban motor kamu pecah? Lalu bagaimana kamu kesini?”


Rico tidak langsung menjawab. Tanpa di suruh oleh santi rico mendudukan dirinya tepat di depan kursi dan berhadapan dengan santi.


“Saya lari kesini tante. Kalau nunggu ganti ban dulu takutnya kelamaan.” Jawab rico malas.


Mendengar itu hati santi tergerak. Wanita itu mengeluarkan tisu dari tas kecilnya dan memberikanya pada rico.


“Lap dulu keringat kamu. Jijik saya liatnya.” Kata santi dengan wajah datar sembari menyodorkan tisu pada rico.


Rico menatap santi kesal. Rico yakin alesia juga sangat menderita tinggal seatap dengan wanita judes seperti santi.


Rico menerima tisu yang di sodorkan santi kemudian mengelap keningnya yang basah oleh keringat. Jika bukan demi alesia rico tidak mau datang bahkan sampai berlari dari jarak yang cukup jauh jika hanya untuk bertemu dengan santi.


“Mau minum apa? Tenang saja, saya yang bayar.”


Rico melengos. Selain judes ternyata santi juga sangat sombong.


Santi berdecak. Niatnya sudah baik tapi rico malah menolak kebaikanya dengan begitu gampang.


“Saya tidak mau otak kamu tidak bekerja dengan baik saat saya bicara. Bilang saja mau minum apa?”


Rico berdecak.


“Terserah.”


Santi tersenyum puas. Wanita itu kemudian kembali memanggil pelayan di caffe itu dan memesankan minuman untuk rico. Santi sebenarnya tidak tega melihat rico yang tampak sangat kelelahan. Kaosnya yang basah oleh keringat sehingga rico sampai harus melepas jaket yang di kenakanya juga wajah tampanya yang memerah.


Tidak lama minuman yang santi pesan pun datang. Rico tanpa ragu langsung menenggaknya sampai habis. Rico bahkan tidak menggunakan sedotan yang ada di gelas tersebut.


Melihat itu santi tersenyum diam diam.


“Jadi tante mau saya lakuin apa?” Tanya rico kemudian.


Santi tertawa pelan mendengar pertanyaan rico.

__ADS_1


“Segitu pentingnya alesia untuk kamu ternyata.” Katanya.


Rico berdecak. Santi terlalu banyak basa basi menurutnya.


“Oke. Saya juga tidak mau berlama lama disini sama kamu. Jadi saya mau kamu pura pura jadi calon suami saya di depan bramono.” Ujar santi mengutarakan niatnya pada rico.


Rico mengeryit.


“Bramono?”


“Yah, Orang yang kemarin menyapa kita. Ah maksudnya menyapa saya. Saya bakal bayar berapapun yang kamu minta. Asal akting kamu bagus di depan bramono.”


Rico tertawa mendengarnya. Orang kaya seperti santi memang suka seenaknya dan memandang semuanya dengan uang.


“Saya punya pekerjaan tante. Dan saya punya pendapatan sendiri. Memang tidak banyak. Tapi itu sudah cukup buat saya. Saya tidak butuh uang tante. Jadi kasih saja pada yang lebih membutuhkan.”


Santi menatap tidak suka pada rico. Santi pikir rico pria yang polos. Tapi nyatanya rico bahkan berani melawanya.


“Sombong sekali kamu. Berapa gaji kamu? Saya bisa bayar 10 kali lipat dari gaji kamu sekarang juga.”


Rico tertawa pelan kemudian menghela nafas.


“Saya tidak butuh uang tante. Tapi tolong tante jangan ganggu alesia. Jangan membuatnya susah.”


Santi ikut tertawa.


“Jadi kamu benar benar melakukanya demi alesia? Segitu cintanya kamu sama wanita murahan itu?”


“Alesia tidak seperti yang tante bayangkan. Saya akan melakukan apapun yang tante mau asal tante tidak merusak kehidupan bahagia alesia.”


“Oke oke.. Saya tidak mau bahas alesia disini. Saya cuma mau bahas rencana saya.” Tegas santi.


Rico hanya diam saja. Malas sebenarnya tapi jika tidak menuruti santi rico takut santi mengadukan yang tidak tidak pada leon, suami alesia.


“Jadi mulai besok kamu harus siap kapanpun saya perlukan. Bahkan kamu juga harus sigap kapan saja saya mau kamu datang. Kamu juga harus bisa membuat bramono yakin bahwa kita memang calon suami istri.”


Rico menelan ludahnya. Entah apa yang sedang di rencanakan santi sebenarnya. Dan ada hubungan apa santi dengan bramono sehingga santi memerlukan rico untuk bersandiwara.


“Siapa bramono sebenarnya?” Tanya rico penasaran.

__ADS_1


“Kamu tidak perlu tau. Itu bukan urusan kamu.”


__ADS_2