Sebuah Rasa

Sebuah Rasa
Berkunjung ke panti asuhan


__ADS_3

Leon mengalihkan perhatianya saat hp yang berada di samping laptopnya berdering. Leon segera meraih benda pipih bercasing hitam itu dan tersenyum saat melihat kontak bertuliskan “Alesiaku” tertera di layar benda pipih tersebut.


“Halo..”


“Ya kak.. Halo.. Eemm.. Kamu lagi ngapain kak?” Tanya alesia dari seberang telpon.


“Aku? Aku lagi mikirin kamu sayang.” Jawab leon tersenyum geli.


Alesia tertawa mendengarnya. Jawaban leon sangat lucu menurutnya. Apa lagi leon adalah tipe orang yang tidak suka menggombal.


“Apaan sih kamu kak garing banget..”


“Ya kan nggak papa. Sama istri sendiri ini..” Balas leon tersenyum.


“Hhmm.. Iya deh iya.. Oh iya kak, aku mau ke panti asuhan yah sama pak no. Kamu nanti siang bisa kesana kan? Kita makan siang sama anak anak disana. Sekalian aku mau ke makam ibu..”


“Eemm.. Boleh.. Kamu hati hati. Bilang sama pak no jangan ngebut bawa mobilnya. Nanti siang aku kesana.”


“Ya udah.. Aku siap siap dulu. Kamu semangat ya kerjanya. Love you..”


“Too..” Balas leon.


Sambungan telpon berakhir. Leon menghela nafas. Tentang ibu alesia, leon juga sudah lama tidak berziarah ke makamnya.


“Apa aku suruh alesia nunggu aku aja biar bisa ke makam ibu le sama sama..” Pikir leon.


Leon kemudian segera mengirim pesan pada istrinya agar menunggunya saat akan berziarah ke makam sang ibu. Setelah itu, leon pun bangkit dari kursi kebesaranya karna sebentar lagi akan ada rekan bisnisnya yang datang.


 -----


Deringan hp membuat alesia mengalihkan perhatianya dari jalanan ramai yang sedang di lewatinya pada tas kecil yang berada di pangkuanya. Alesia segera merogoh tasnya dan mengeluarkan hp nya yang terus berdering.


“Tante?”


Alesia mengeryit ketika melihat nama kontak “Tante santi” terpampang di layar menyala hp nya. Sudah hampir 2 bulan santi tidak pernah menelponya dan sekarang tiba tiba santi menelpon.


“Apa ada sesuatu yang terjadi?”


“Enggak. Aku nggak boleh mikir yang enggak enggak. Tante baik baik aja.”


Alesia kemudian mengangkat telpon dari santi tidak mau membuat wanita itu marah karna alesia terlalu lama mengangkat telpon darinya.


“Kamu lama banget ngangkat telpon dari saya !”


Alesia lsngsung menjauhkan hp miliknya dari telinga kananya. Alesia meringis merasakan pengang di telinganya bahkan telinganya sampai sedikit berdengung karna seruan galak santi.

__ADS_1


Ya tuhan.. Nenek ini..


Alesia menghela nafas kemudian kembali menempelkan benda pipih itu di telinga kananya.


“Maaf tante.. Tadi aku cuma bingung aja karna tante tiba tiba nelpon.” Kata alesia jujur.


“Tidak usah banyak alasan. Bilang saja kamu malas mengangkat telpon dari saya.”


Sabar alesia.. Sabar.. Tuhan selalu bersama orang orang yang sabar..


“Nyonya, kita sudah sampai.” Beritahu pak no.


“Ah iya pak.”


“Sudah sampai? Alesia dimana kamu? Dan mana leon?” Tanya santi menuntut.


Alesia menghela nafas lagi. Santi pasti akan kembali menyalahkan leon. Atau mungkin juga santi akan mengatainya kelayapan tidak jelas.


“Kak leon di kantor tante. Aku baru sampe di panti asuhan.”


“Kirim alamat panti asuhanya sekarang.”


Tut tuttt


Sambungan telpon di putus oleh santi begitu saja sebelum alesia membalas ucapanya.


“Nggak, jangan sampe. Kasihan anak anak disini nanti kalau di marahin terus sama tante.”


“Eh tapi.. Kalau nggak di kirimin yang ada nanti dia ngomel ngomel terus.”


Alesia kebingungan sendiri antara mengirimkan alamat panti asuhan pada santi atau tidak. Karna jika tidak mengirimkan, mungkin santi akan selalu mengecapnya buruk. Dan jika di kirimkan dan santi datang, anak anak di panti asuhan itu pasti akan terkena judesan maut santi.


Sudahlah, diamkan saja.


Alesia turun dari mobilnya dan berjalan cepat menuju rumah sederhana berlantai 1 tempat dulu dirinya tinggal saat masih kecil sampai beranjak remaja. Alesia tersenyum. Di rumah sederhana itu alesia mulai menemukan cinta dan kasih sayang hingga akhirnya alesia bisa mengepakkan sayapnya mengejar cita cita dan impianya. Meskipun pada akhirnya sekarang alesia memang harus melepaskan apa yang pernah menjadi tujuan utamanya mengenyang pendidikan.


“Alesia..”


Senyuman manis bunda yati menjadi penyambut kedatangan alesia siang itu. Wanita baya itu duduk di sofa dengan memegang pulpen dan buku besar di tanganya.


“Bunda..”


Alesia langsung mendekat dan memeluk wanita yang sudah alesia anggap seperti orang tuanya sendiri. Wanita yang mengenalkan padanya tentang kehidupan yang harus alesia jalani dulu, sekarang, dan masa mendatang.


“Kamu apa kabar al..?” Tanya bunda yati melepaskan pelukan alesia.

__ADS_1


“Aku sangat baik bunda.. Bunda lagi apa?”


“Oh ini.. Bunda lagi mendata semua anak anak disini.. Kebetulan bulan depan sudah ada beberapa anak yang harus masuk sekolah.” Senyum bunda yati.


Alesia menganggukan kepalanya. Bunda yati memang selalu mengutamakan pendidikan anak asuhnya. Meskipun memang terkadang kebutuhan ekonomi menjadi penghalang niat baiknya tapi bunda yati tidak pernah menyerah.


“Oh ya mana suami kamu?”


“Eemm.. Kak leon lagi kerja bunda.. Tapi nanti siang dia kesini kok. Kita makan siang sama sama.” Senyum alesia menjawab.


Bunda yati menganggukan kepalanya. Wanita itu kemudian kembali dengan alat tulisnya. Alesia yang melihatnya tersenyum. Bunda yati adalah contoh baik dalam kehidupanya. Selain baik dan penuh kasih sayang, bunda yati juga selalu perduli dengan sesamanya.


“Ade ade pada kemana bunda?”


“Sebagian pada sekolah sayang. Sebagian lagi pada main di taman samping rumah.” Senyum bunda yati kembali menatap alesia sesaat.


“Ya udah kalau gitu aku ke taman ya bunda..”


“Yah.. Nanti bunda nyusul.” Angguk bunda yati tersenyum manis.


Alesia bangkit dari duduknya kemudian melangkah pelan menjauh dari bunda yati. Ketika hendak membuka pintu menuju ruang tengah alesia terdiam. Alesia menoleh kembali pada bunda yati yang fokus pada alat tulisnya.


Alesia tau bunda yati mungkin sedang bingung memikirkan biaya masuk sekolah anak anak di panti asuhan itu. Tapi bunda yati tidak mengeluh atau menceritakan beban yang sedang di tanggungnya.


Bunda.. Aku selalu meyakini apa yang dulu pernah bunda katakan bahwa tuhan selalu menyertai orang yang baik.


Siangnya leon datang seperti ucapanya pada alesia. Pria tampan itu bahkan datang dengan membawa banyak paperbag sebagai hadiah untuk anak anak di panti asuhan tersebut.


“Om leon..!!”


Leon tertawa saat anak anak di panti asuhan itu berlari ke arahnya. Mereka bahkan memeluk leon secara bersamaan sampai leon hampir roboh.


“Om punya hadiah buat kalian..” Kata leon tersenyum.


Anak anak itu bersorak senang mendengarnya. Dan melihat antusias mereka leon merasa bahagia. Leon kemudian meminta untuk pak no mengeluarkan hadiah yang di bawanya untuk anak anak tersebut.


“Makasih ya kak.. Kamu udah buat ade ade aku seneng.”


Leon menoleh menatap wajah cantik alesia dari samping. Saat ini mereka sudah berada di taman samping rumah sederhana itu sambil melihat anak anak bermain dengan hadiah pemberian leon. Seperti boneka untuk yang perempuan, dan bola untuk yang laki laki juga mainan yang lainya.


“Makasih untuk apa? Ade kamu ade aku juga kan? Keluarga kamu keluarga aku juga. Aku seneng bisa berbagi sama mereka.” Balas leon.


Alesia menoleh.


”Tapi kan mereka panggil kamu om..” Kata alesia tersenyum geli.

__ADS_1


Senyum di bibir leon memudar. Anak anak di panti asuhan itu memang memanggilnya om. Sedangkan pada alesia mereka memanggil kakak.


“Emangnya aku setua itu yah?”


__ADS_2