
Alesia menunggu cukup lama kedatangan bunda yati. Jarak dari panti asuhan ke rumahnya memang cukup jauh. Apa lagi di jam berangkat kerja seperti itu mungkin jalanan sangat macet. Mungkin juga bunda yati belum mendapatkan taxi yang akan di tumpanginya dan mengantarnya menuju rumah alesia dan leon.
“Kok bunda lama yah..”
Alesia bergumam dengan perasaan bingung. Ucapan bunda yati yang mengatakan ingin membicarakan tentang leon benar benar membuat alesia penasaran. Padahal selama ini bunda yati tidak pernah menyinggung apapun tentang suaminya. Tapi sekarang tiba tiba bunda yati menyinggungnya.
“Apa ini menyangkut tentang tuan bramono juga? Tapi apa hubunganya dengan kak leon?”
Alesia terus bertanya tanya. Pikiranya menjadi tidak tenang. Dan semua itu tentu saja karna ucapan bunda yati tentang suaminya.
“Alesia..”
Lamunan alesia buyar seketika ketika mendengar suara lembut bunda yati. Alesia menoleh dan tersenyum mendapati bunda yati yang sudah berada di samping sofa yang di dudukinya.
“Bunda..”
Alesia bangun dari duduknya kemudian melangkah mendekat pada bunda yati. Alesia menyalimi wanita berhijab hijau lumut itu kemudian memeluknya.
“Macet ya bunda?” Tanya nya sambil melepaskan pelukanya pada bunda yati.
“Iya nak.. Jalanan sedikit macet. Di tambah susah juga nyari taxi nya.” Jawab bunda yati.
“Loh memangnya bunda nggak pesan taxi online?” Tanya alesia mengeryit.
“Nggak nak. Bunda nungguin taxi di depan jalanan depan di panti.”
Alesia menghela napas merasa kasihan pada bunda yati yang mungkin merasa sangat kelelahan.
“Eemm.. Mbak, tolong bikinin minum buat bunda saya yah.. Teh anget saja sama cemilan ringanya.”
Alesia berkata pada mbak sari yang masih berada di belakang bunda yati.
“Baik nyonya.”
Mbak sari menganggukan kepalanya kemudian segera berlalu dari hadapan alesia menuju dapur untuk membuatkan teh hangat juga mengambil cemilan ringan sebagai suguhanya.
“Duduk bunda..”
“Ya nak...” Senyum bunda yati sambil mengusap lembut bahu alesia.
__ADS_1
Bunda yati mendudukan dirinya di atas sofa dengan alesia di sampingnya. Wanita cantik yang sedang berbadan dua itu ingin sekali bertanya tentang maksud bunda yati yang menyangkut suaminya namun sebisa mungkin alesia menahan diri.
“Bagaimana kandungan kamu nak?”
Bunda yati bertanya dengan menyentuh lembut perut alesia yang sedikit membuncit. Wanita berhijab itu tersenyum manis menatap perut alesia.
“Baik baik saja bunda. Tapi setiap pagi kadang ada sesuatu yang gerak gituh. Dan itu terasa sedikit geli.”
Bunda yati tertawa mendengarnya tidak tau harus menanggapi bagaimana. Bunda yati tidak pernah merasakan bagaimana rasanya mengandung. Jelas saja, bunda yati di vonis mandul atau tidak bisa mempunyai keturunan sejak masih muda. Dan itu benar adanya, sampai 2 kali menikah bahkan sampai suami terakhirnya meninggal bunda yati tetap tidak bisa mempunyai keturunan.
“Syukurlah kalau begitu. Yang penting kalian berdua baik baik saja. Bunda selalu mendo'akan yang terbaik untuk kamu juga janin dalam kandungan kamu.”
“Ya bunda. Terimakasih untuk do'anya.”
“Sama sama sayang..”
Alesia menghela napas. Tidak sabar rasanya ingin tau apa yang ingin di katakan bunda yati tentang suaminya, Leon.
Bunda yati melirik alesia yang tampak kebingungan di tempatnya. Bunda yati tidak bermaksud mengadu domba. Tapi ucapan leon tentang masa lalunya membuat bunda yati sedikit ragu bahwa leon masih lupa dengan separuh ingatanya.
“Alesia...” Panggil bunda yati menyentuh dan menggenggam lembut tangan alesia.
Alesia menatap tangan bunda yati yang menggenggam tanganya kemudian menghela napas. Perasaan tidak enak mulai merayapi hatinya.
Alesia mengukir senyum manisnya pada bunda yati meskipun hatinya terasa tidak menentu sekarang.
“Tentang suami kamu.. Bunda tidak yakin dia benar benar amnesia..”
Alesia mengangkat sebelah alisnya.
“Bunda tapi...”
“Dengarkan bunda dulu sayang.. Bunda tidak bermaksud buruk.. Bunda sayang sama kamu.. Dan bunda yakin leon juga menyayangi kamu..” Sela bunda yati lembut.
Alesia menelan ludahnya. Entah apa maksud dari ucapan bunda yati padanya.
“Begini.. Kemarin saat di panti tepatnya saat kamu istirahat leon datang lagi menemui bunda.. Leon mencurigai bunda menyembunyikan sesuatu. Dan leon menceritakan tentang masa lalunya.”
“Masa lalu?”
__ADS_1
“Yah.. Masa lalu dimana leon kehilangan kedua orang tuanya juga oma dan opanya. Bukankah itu sangat aneh? Leon sedang lupa ingatan tapi kenapa bisa mengingat semua itu?”
Alesia tersenyum. Di tumpukan tanganya pada tangan bunda yati yang menggenggam lembut tanganya.
“Bunda.. Itu wajar. Kak leon memang mengingat semuanya karna yang dia lupakan hanya aku dan tante santi. Kak leon ingat semuanya, perusahaanya, karyawanya, juga rekan bisnis bahkan teman teman lamanya. Tapi tentang aku dan tante.. Dia sama sekali tidak mengingatnya.”
Bunda yati menyipitkan kedua matanya. Ucapan alesia sama sekali tidak mengurangi kecurigaanya pada leon.
“Bunda tau? Kak leon bahkan pernah tidak mengenaliku. Dia bersikap dingin sampai tidak mau mengakui anak dalam kandunganku. Dan semua itu karna kak leon memang tidak mengingat apapun tentang aku..” Lanjut alesia.
“Lalu sekarang? Dia sudah bersikap lembut dan hangat sama kamu nak. Dia bahkan sangat memanjakan kamu. Apa itu artinya dia sudah kembali mengingat kamu?”
Alesia tersenyum kecut kemudian menggelengkan kepalanya.
“Belum bunda..” Jawabnya lirih.
Bunda yati tertawa pelan. Aneh sekali rasanya. Bagaimana mungkin leon bisa bersikap semanis itu jika masih tidak mengingat apapun tentang alesia.
“Lalu yang dia lakukan ini apa?”
“Kak leon mengatakan dia hanya mengikuti apa kata hatinya bunda.. Masuk akal bukan?”
Bunda yati menggelengkan kepalanya tidak menyangka alesia tidak bisa membedakan sikap seorang yang merasa asing dengan orang yang merasa terbiasa.
“Nak..”
“Aku hanya sedang berusaha percaya pada orang yang aku cintai bunda. Aku ingin bahagia. Itu saja.” Sela alesia lirih.
Bunda yati terdiam. Wanita tua itu menghela napas dan memejamkan sesaat kedua matanya. Niatnya baik. Bunda yati hanya tidak ingin alesia di bohongi oleh siapapun meskipun itu oleh leon.
“Baiklah kalau begitu nak.. Tapi ingat, apapun yang terjadi kamu harus tau bunda akan selalu ada buat kamu.”
Alesia tersenyum dan menganggukan kepalanya. Sejujurnya alesia juga merasa ragu, tapi alesia tidak ingin mempunyai pikiran buruk pada suaminya sendiri. Alesia yakin leon jujur padanya. Alesia juga yakin leon tidak mungkin membohonginya.
“Silahkan nyonya tehnya...”
Bunda yati menoleh dan tersenyum pada mbak sari yang sedang meletakan secangkir teh hangat dan cemilan ringan di dalam toples kecil di atas meja kaca ruang tengah tempat dimana alesia dan bunda yati sedang mengobrol.
“Terimakasih ya mbak sari..”
__ADS_1
“Iya nyonya.. Sama sama..” Angguk mbak sari tersenyum sopan.
Alesia diam diam melirik bunda yati. Alesia bukan tidak percaya atau meragukan bunda yati. Alesia hanya tidak mau berasumsi buruk pada suaminya sendiri. Leon sudah mau berusaha membuka hati untuknya di saat kondisi ingatanya sedang tidak baik baik saja.