
Bramono menghentikan mobilnya tidak jauh dari panti asuhan tempat dulu pujaan hatinya tinggal. Pujaan hati yang tidak mampu bramono gapai. Pujaan hati yang akhirnya pergi meninggalkanya tanpa pesan apapun.
“Le.. Sampai sekarang aku masih tidak percaya kamu telah tiada..”
Bramono berucap lirih dengan kedua mata berkaca kaca. 25 tahun sudah sang pujaan hati menghilang dari pandangan matanya namun tetap membekas dan terukir indah di hati kecilnya.
“Le.. Andai waktu bisa aku putar kembali, aku akan membawa kamu pergi jauh. Membesarkan anak itu dan hidup bahagia hingga detik ini.”
Bramono menghela napas berat. Le adalah sosok gadis yang tidak pernah bisa bramono temukan di sosok manapun. Pembawaanya yang lembut namun humoris membuat siapa saja pasti akan betah lama lama bersamanya. Le adalah sosok yang paling bisa mengerti bramono. Bahkan jauh lebih mengerti dari kedua orang tua bramono sekalipun.
Ingatan bramono berputar ke masa lalunya bersama ibu le. Bramono terbayang kembali senyuman le yang begitu manis yang dengan jelas bramono sadari terlihat di senyuman alesia.
“Kenapa le? Kenapa kamu menamparku saat itu? Kenapa kamu tidak mau aku nikahi?”
Bramono meneteskan air matanya. Pria yang kini sudah kepala 4 itu benar benar masih tidak mengerti bahkan sampai saat ini. Le hamil secara tiba tiba dan terkesan menjauhinya.
Entah apa dan dimana salahnya bramono sendiri tidak tau. Tapi yang pasti bramono benar benar tidak bisa melupakan begitu saja semua itu.
“Kamu tau le.. Aku pernah jatuh cinta pada seseorang. Namanya santi sanjaya. Tapi cinta itu tidak seindah cintaku sama kamu. Santi tidak seperti kamu. Santi arogan dan tidak bisa mengerti aku.”
Bramono mengusap air matanya. Semuanya sudah berlalu. Le sudah tiada dan santi pun sudah bukan lagi istrinya. Namun rasa bersalah bramono tetap anteng bersarang di hatinya.
Bramono bukan hanya merasa bersalah pada ibu le tapi juga pada santi yang dengan sengaja bramono sakiti. Tapi bramono mempunyai alasan melakukanya. Bukan karna rasa cintanya yang terkikis pada santi. Tapi karna sang kakak yang selalu mengancamnya.
Tok tok tok
Suara ketukan di kaca mobilnya membuat bramono tersadar dari lamunanya. Bramono langsung mengarahkan pandanganya ke kaca mobilnya dan menemukan seorang remaja berdiri di samping mobilnya.
Bramono mengusap pipinya yang basah kemudian segera menurunkan kaca mobilnya.
“Tuan maaf.. Saya melihat mobil tuan terus berada disini dari kamar. Apa tuan sedang mencari alamat? Mungkin saya bisa bantu.”
Bramono tersenyum mendengar penuturan remaja yang mungkin berusia 15 tahun itu.
“Kamu anak dari panti asuhan ini?” Tanya bramono.
“Ya tuan. Nama saya rasya.”
Bramono menganggukan kepalanya pelan.
“Berapa usia kamu?”
“15 tahun tuan.”
__ADS_1
“Sekolah dimana? Terus kelas berapa?”
Remaja tampan bernama rasya itu mengeryit bingung namun tetap menjawab pertanyaan bramono.
“Saya sekolah di SMP nusa bangsa. Kelas lX tuan.”
Bramono tersenyum. SMP nusa bangsa adalah tempat dimana bramono mengenal alesia le. Tempat dimana setiap sudutnya menyimpan kenangan indahnya bersama alesia le yang akhirnya harus pergi selamanya dengan bayi yang di lahirkanya.
“Saya bram.. Kamu bisa panggil saya bram. Saya tidak sedang mencari alamat. Hanya teringat dengan pacar saya dulu yang juga tinggal di panti asuhan ini.” Senyum bramono.
Rasya mengeryit.
“Pacar tuan? Siapa? Bunda yati?”
Bramono tertawa pelan. Bunda yati juga sangat bramono kenal. Karna bunda yati adalah orang yang menyalahkanya atas meninggalnya alesia le. Bunda yati juga orang yang selalu melarangnya menemui alesia le saat hamil besar.
“Haha.. Bukan.” Geleng bramono.
“Sebentar.”
Bramono meraih sesuatu dari kursi sampingnya kemudian memberikanya pada rasya.
“Apa ini tuan?” Tanya rasya bingung.
“Tuan tapi..”
“Kalau bunda yati tanya, bilang saja dari om bram teman kamu.” Sela bramono.
“Kamu sekolah yang pintar ya. Gapai cita cita kamu sebisa mungkin. Saya pergi dulu.”
Bramono menaikan kembali kaca mobilnya setelah berkata dan berlalu dengan mobil mewahnya begitu saja meninggalkan rasya yang masih kebingungan di tempatnya.
“Apa maksudnya?”
Rasya menatap mobil bramono yang berlalu dengan kecepatan sedang. Remaja itu kemudian beralih menatap cek yang di pegangnya. Kedua mata rasya membulat melihat nominal angka yang tertulis di cek tersebut.
“50 juta?!”
----
“Eemmm.. Kak..”
Leon menoleh mendengar suara pelan alesia. Sedari tadi memang alesia terlihat bingung dan seolah ingin mengatakan sesuatu pada leon. Namun leon pura pura tidak peka dan hanya diam sambil memakan santai sarapan paginya.
__ADS_1
“Ya..” Saut leon.
Alesia memejamkan kedua matanya sesaat sebelum membalas tatapan suaminya.
“Kemarin tuan bramono datang.”
Leon langsung berhenti mengunyah makanan dalam mulutnya. Karna tidak sabar ingin mengetahui semua tentang masa lalu ibu le leon sampai lupa bahwa bramono selalu datang rutin ke rumahnya setiap jam makan siang.
“Dia kesini cari kamu dan marah marah sama mbak sari, pak satpam, juga pakno.” Lanjut alesia.
Leon menelan makananya pelan.
“Lalu?” Tanyanya.
“Aku suruh dia masuk. Aku menemuinya di temani mbak sari.” Jawab alesia.
“Apa?!”
Leon benar benar terkejut. Padahal leon sudah melarang alesia untuk menemui bramono jika suatu waktu bramono datang dan dirinya sedang tidak ada.
“Dia nggak berbuat apapun sama aku. Dan sepertinya dia orang baik.”
Tangan leon mengepal kuat. Masa lalu ibu le dan bramono belum benar benar jelas. Dan tentang siapa ayah kandung alesia juga belum menemui petunjuk yang pasti. Tapi bramono, dia adalah satu satunya pria yang selalu mendekati ibu le dulu. Dan leon yakin bramono pasti mengenal ayah kandung alesia.
“Kamu selalu melarang aku menemui tuan bramono kak. Padahal bramono orang yang baik.”
Leon hanya diam. Leon tidak mungkin mengatakan tentang apa yang bramono lakukan pada santi. Semua itu pasti akan membongkar sendiri semua sandiwaranya. Dan alesia tidak mungkin bisa menerima semuanya dengan mudah.
“Aku butuh alasan yang jelas kak. Kamu dan tante terlihat kompak tidak menyukai tuan bramono. Aku yakin kamu pasti punya alasan yang bisa membuat aku percaya sama kamu.”
Leon benar benar tidak tau harus berkata apa. Leon benar benar tersudutkan oleh pertanyaan alesia sekarang.
Alesia menghela napas. Wanita itu kemudian sadar leon tidak mungkin bisa menjawab pertanyaanya. Leon masih belum mengingat semuanya. Dan mungkin leon tidak menyukai bramono juga karna santi yang menyuruhnya untuk menjauh dan menghindarinya.
“Kak..”
Alesia meraih tangan besar leon dan menggenggamnya erat.
“Aku minta maaf.. Aku tidak seharusnya menyudutkan kamu.”
Leon menelan ludahnya. Alesia mengira dirinya diam karna tidak tau apa apa. Alesia mengira dirinya diam karna belum mengingat apapun tentangnya dan santi.
“Maafin aku kak..”
__ADS_1
Perminta maafan alesia membuat leon merasa semakin takut. Takut jika suatu saat perminta maafan alesia akan berbalik menjadi kekecewaan yang membuat alesia justru tidak bisa memaafkanya.