Sebuah Rasa

Sebuah Rasa
Baiklah


__ADS_3

Santi mengerjapkan matanya saat tiba tiba merasakan lapar di perutnya. Wanita itu melenguh kemudian bangkit dari berbaringnya.


“Sudah pagi?” Tanya santi pada dirinya sendiri.


Santi kemudian turun dari ranjangnya dan berjalan sempoyongan karna masih merasa lemas. Tidak makan malam membuatnya merasakan perutnya begitu kosong pagi ini.


Santi melongokan kepalanya di celah pintu kamar yang memang hanya santi buka sedikit. Santi menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada siapapun di sekitar kamarnya, baik alesia maupun leon. Santi masih merasa jengkel pada keduanya, terlebih pada leon yang sampai melawanya hanya karna alesia.


Setelah memastikan tidak ada siapapun santi pun keluar dari kamarnya. Langkahnya terhenti saat berada di ujung anak tangga pertama. Kepala santi menoleh menatap pintu kamar alesia dan leon yang masih tertutup rapat. Padahal biasanya kamar itu sudah terbuka bahkan sebelum subuh.


Apa mereka berdua masih tidur?


Santi terdiam sesaat. Santi merasa tidak biasa dengan hal itu. Meskipun memang santi tidak menyukai alesia, tapi santi mengakui alesia adalah wanita yang disiplin. Alesia wanita yang bisa dengan cermat mengatur waktunya sendiri.


“Sudahlah. Bukan urusanku juga. Bagus kalau mereka masih tidur. Jadi nggak ada yang merusak mood ku pagi ini.”


Santi menuruni satu persatu anak tangga setelah itu. Santi berniat turun ke lantai bawah untuk mencari makanan apa saja yang bisa mengganjal perutnya yang sedang kelaparan.


“Pagi nyonya..” Sapa bi inah yang saat itu sedang menata sarapan di atas meja makan.


“Pagi inah..” Balas santi tersenyum tipis.


Santi menatap hidangan pagi di depanya. Hidangan yang membuat cacing cacing di dalam perutnya semakin kuat berdemo meminta jatah.


Santi kemudian mendudukan dirinya di kursi samping kursi yang biasa di duduki oleh leon. Saat tanganya hendak menyendok nasi goreng di dalam wadah yang ada di tengah meja santi terdiam. Tidak biasa sarapan pagi seorang sendiri membuat santi merasa ada yang kurang.


Hhh.. Baiklah, aku mengalah kali ini.


Santi menolehkan kepalanya pada bi inah yang hendak melangkah kembali menuju dapur. Santi meminta bi inah untuk naik ke lantai 2 dan membangunkan alesia dan leon. Namun sikap bingung bi inah membuat santi bertanya tanya.


“Kenapa?”


“Eemm.. Nyonya maaf sebelumnya tapi..”


Ucapan bi inah terjeda. Bi inah bingung harus bagaimana mengatakanya pada santi. Leon dan alesia pergi tanpa mengatakan apapun semalam. Mereka juga tidak memberitahu bi inah kemana mereka akan pergi. Bi inah dan pak satpam bahkan sampai begadang tidak tidur menunggu nyonya dan tuanya pulang.

__ADS_1


“Nyonya alesia sama tuan leon semalam pergi nyonya.” Lanjut bi inah dengan kepala tertunduk.


Kedua mata alesia melebar seketika. Leon pergi bersama alesia tanpa memberitahunya lebih dulu.


“Mereka berdua pergi? Kemana?” Tanya santi tidak sabaran.


Bi inah menggelengkan kepalanya. Leon dan alesia tidak mengatakan kemana mereka berdua akan pergi. Tapi yang bi inah tau leon dan alesia pergi tanpa membawa apapun selain laptop yang di tenteng leon dan tas slempang kecil yang di bawa alesia. Mereka berdua bahkan tidak berdandan dan hanya mengenakan baju rumahan saja.


“Tuan dan nyonya tidak mengatakan apapun nyonya.” Jawab bi inah.


Santi berdecak. Tidak biasanya leon pergi tanpa pamit padanya. Apa lagi bersama alesia dan sampai pagi mereka belum kunjung pulang.


“Baiklah. Kamu boleh kembali dengan pekerjaan kamu.” Kata santi kemudian.


Bi inah menganggukan kepalanya segera berlalu dari hadapan santi dan kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaan mencuci peralatan dapur yang memang belum selesai.


Sedang santi, wanita itu terdiam. Santi menelan ludahnya merasa sangat kesal sekaligus khawatir pada leon dan alesia. Santi tidak pernah bermaksud membuat keduanya merasa tidak di butuhkan lagi. Santi hanya sedang jengkel pada leon dan istrinya.


“Kemana mereka pergi..” Gumam santi.


Santi menghela nafas berat. Leon dan alesia tidak pernah pergi dari rumah meskipun santi sering bertingkah seenaknya. Tapi sekarang tiba tiba keduanya dengan kompak pergi bahkan tanpa sepengetahuan santi.


“Alesia.. Yah.. Pasti dia yang mengajak leon pergi dari rumah ini.. Dia pasti sengaja ingin membuat aku dan leon berjarak..” Gumam santi dengan prasangka buruknya tentang alesia.


“Nggak.. Aku nggak boleh biarin semua ini terjadi. Leon harus tetap berada dalam pengawasanku.. Aku harus terus memastikan keponakanku aman. Tapi.. Bagaimana cara menemukan mereka sekarang? Dimana mereka sebenarnya?”


Santi berdecak. Rasa khawatirnya mengalahkan rasa kesal dan jengkelnya sekarang. Santi tidak ingin sesuatu yang berburuk menimpa leon seperti saat itu.


Tenang santi, kamu harus tenang. Leon pasti bisa menjaga dirinya sendiri. Leon bukan anak kecil lagi.. Dan leon juga pasti bisa melindungi anak dan istrinya.


Santi menarik nafasnya dalam dalam kemudian menghembuskanya berlahan lewat mulut. Santi memejamkan kedua matanya mencoba meredam rasa khawatirnya yang akut. Santi juga berusaha menyingkirkan pikiran pikiran buruknya tentang sesuatu yang akan menimpa keponakan satu satunya itu. Keluarga satu satunya yang masih tersisa yang santi punya.


“Baiklah santi.. Tenang dan tenang..”


Tin tiinn

__ADS_1


Suara klakson mobil membuat santi langsung membuka kedua indra penglihatanya.


“Leon..” Gumamnya.


Santi cepat cepat bangkit dari duduknya. Santi tidak perduli dengan penampilanya yang bahkan belum sempat membasuh mukanya saat bangun tidur tadi. Santi juga tidak perduli jika nanti alesia menertawakanya.


Ekspresi santi langsung berubah saat langkahnya sampai di ambang pintu utama rumahnya.


“Dia..”


Santi menatap datar pada bramono yang keluar dari mobilnya. Santi benar benar ingin mencaci maki satpamnya sekarang juga karna berani membukakan pintu gerbang untuk bramono.


Seulas senyum terukir di bibir tipis bramono. Pria berambut cepak itu membalas tatapan datar santi yang berdiri di ambang pintu rumahnya. Dengan langkah mantap bramono mendekat dan berdiri menjulang tepat di depan santi.


“Selamat pagi mantan istriku..” Sapa bramono dengan senyum meledeknya.


Santi melengos membuang pandanganya. Santi merasa muak melihat senyuman meledek bramono padanya.


“Kamu baru bangun eh? Atau kamu memang sengaja menyambutku dengan baju seperti ini hem? Kamu berniat menggodaku?”


Santi dengan cepat menoleh. Tatapan penuh kebencian santi layangkan pada bramono yang berani menggodanya dengan kata kata yang tidak pantas.


“Jaga mulut busuk kamu itu bramono.” Tegas santi.


Bramono tertawa pelan.


“Kamu yang seperti ini membuatku merasa gemas santi.” Katanya.


“Kamu..”


Tin tiiinn


Suara klakson motor menyela ucapan santi pada bramono. Santi mengarahkan pandanganya ke arah gerbang dan melihat rico yang mulai memasuki pekarangan luas rumahnya saat pak satpam membukakan gerbang untuknya.


Santi tersenyum senang. Santi melirik bramono yang terlihat tidak suka menatap rico.

__ADS_1


“Baiklah, kamu boleh ikut saya dan calon suami saya memilih baju pengantin pagi ini.”


__ADS_2