Sebuah Rasa

Sebuah Rasa
Kembali berbohong


__ADS_3

Lagi, alesia tidak bisa menghubungi leon siang ini. Dan itu sudah yang kedua kalinya. Nomor leon tidak aktif.


Alesia menghela napas. Alesia benar benar penasaran kenapa suaminya mencari informasi tentang masa lalu ibunya juga bramono. Alesia juga sebenarnya terkejut karna bramono adalah salah satu orang yang pernah dekat dengan ibunya.


“Apa mungkin tuan bramono juga tau siapa ayahku?”


“Aku harus susul kak leon ke kantor sekarang juga. Aku harus tanya apa maksudnya mencari informasi tentang ibu..”


Alesia bangkit dari duduknya di sofa ruang tengah. Dengan terburu buru alesia melangkahkan kakinya keluar dari ruang tengah. Alesia berniat menemui pak no untuk meminta di antarkan.


“Nyonya..”


Alesia berhenti melangkah dan menolehkan kepalanya ke arah suara mbak sari yang memanggilnya.


“Ya mbak. Kenapa?”


Mbak sari melangkah buru buru menghampiri alesia yang masih berada tidak jauh dari pintu ruang tengah dengan membawa berbagai irisan buah di piring dimana di atasnya bertabur sambal.


“Nyonya saya buatkan rujak untuk nyonya. Nyonya makan yah..”


Alesia tersenyum menatap sepiring rujak buatan mbak sari. Padahal alesia tidak merasa meminta tapi mbak sari dengan sengaja membuatkan untuknya.


“Mbak sebenarnya aku mau pergi sama pak no.”


Mbak sari mengeryit.


“Memangnya nyonya mau kemana?”


Alesia terdiam sesaat. Tidak mungkin rasanya jika alesia mengatakan hendak menyusul leon ke kantor pada mbak sari.


“Eemm.. Saya mau ada keperluan mbak.. Jadi nanti saja saya makan yah.. Makasih banget udah di buatin. Saya pergi dulu.”


Alesia tersenyum dan mengusap pelan bahu mbak sari sebelum akhirnya melangkah meninggalkan mbak sari keluar dari rumah untuk menemui pak no.


“Nyonya tapi..”


Alesia sudah menghilang di balik tembok saat mbak sari hendak mengatakan sesuatu. Alesia benar benar tidak sabar ingin menanyakan apa maksud suaminya menyelidiki tentang masa lalu ibunya.


Kalau memang niatnya ingin mencari tahu tentang ayah, aku tidak akan membiarkanya. Aku tidak mau tau siapa pria itu. Dia sudah menorehkan luka begitu dalam pada ibu.


“Pak no.”


“Ya nyonya.”


Pak no buru buru mendekat pada alesia yang berdiri di depan pintu utama rumahnya. Pria botak berkulit coklat itu berdiri tapat di samping pintu di sebelah alesia berdiri.


“Saya nyonya..” Angguknya sopan.


“Pak anterin saya ke kantor ya.. Sekarang.”


Pak no terdiam sesaat. Alesia tidak pernah sekalipun datang ke kantor leon selama pak no di pekerjakan di rumah itu.

__ADS_1


“Maaf nyonya sebelumnya. Tapi untuk apa nyonya kesana?”


Alesia mengeryit bingung. Entah kenapa alesia merasa pergerakanya di batasi di rumahnya sendiri. Mulai dari tidak boleh pergi tanpa mbak sari dan harus kemana mana dengan pak no. Padahal alesia bisa mengendarai mobil sendiri.


“Apa saya harus kasih tau pak no saya mau ngapain ke kantor suami saya? Atau saya harus melapor semuanya pada pak no jika saya mau melakukan sesuatu.”


Pak no langsung menundukan kepalanya.


“Maaf nyonya.. Tapi tuan selalu bilang untuk tidak mengantar nyonya ke sembarang tempat jika memang tidak ada urusan yang penting.”


Alesia menggelengkan kepalanya. Entah apa maksud aturan itu.


Tintiiiin..


Alesia langsung menolehkan kepalanya ketika mendengar bunyi klakson mobil leon. Saat itu memang jam makan siang sudah tiba.


“Ya sudah tidak jadi.” Kata alesia.


Alesia menyuruh untuk pak no kembali ke pos satpam dimana tadi pak no sedang mengobrol sambil mengelap mobil yang biasa di gunakan untuk mengantar kemanapun alesia pergi.


Alesia melipat kedua tanganya di bawah dada melihat leon yang turun dari mobilnya. Waktu makan siang sudah hampir tiba dan siang ini leon pulang lebih cepat.


Melihat ekspresi tidak biasa alesia leon mengeryit. Tidak biasanya alesia hanya berdiri diam di ambang pintu utama rumah mereka. Padahal biasanya alesia selalu menyambut kepulangan leon dengan kemanjaanya.


“Kamu kenapa?” Tanya leon.


Alesia menyipitkan kedua matanya.


Leon terkejut. Padahal leon sudah mengelap bersih air matanya. Leon juga sudah mencuci wajahnya agar tidak terlihat habis menangis.


“Oh.. Enggak. Tadi aku kelilipan jadi matanya agak merah dikit.” Senyum leon beralasan.


Alesia mencoba memperhatikan kedua mata suaminya.


“Kelilipan dua duanya?” Tanyanya tidak percaya.


“Iya.. Tadi pas di parkiran banyak debu.”


Alesia mengangguk meskipun tidak sepenuhnya percaya. Alesia tau suaminya bukan pria bodoh.


“Mbak masak apa?” Tanya leon kemudian mengalihkan pembicaraan.


Alesia menghela napas sekali lagi. Alesia tidak mau berprasangka buruk sendiri. Alesia juga tidak mau memendam sendiri rasa penasaranya tentang berkas berisi informasi tentang ibunya dimana nama bramono terseret.


“Kak.. Ada yang mau aku tanya sama kamu..”


Hati leon langsung tidak tenang mendengar apa yang di katakan alesia.


“Tentang apa?” Tanya leon tersenyum tipis.


“Tentang map berwarna biru di meja kerja kamu.” Jawab alesia cepat.

__ADS_1


Leon berdecak pelan. Karna di kuasai rasa kantuknya leon sampai lupa menyimpan map itu semalam.


“Kenapa ada photo dan informasi tentang masa lalu ibuku kak? Kenapa juga ada nama tuan bramono disitu?”


Leon menghirup dalam dalam oksigen di sekitarnya kemudian menghembuskanya berlahan. Leon mencoba menenangkan pikiranya dan meyakini bahwa semuanya akan baik baik saja.


Tenang leon.. Kamu harus tenang.. Jangan kegabah..


Leon tersenyum menatap alesia yang menatapnya dengan wajah serius. Leon mengerti dan paham jika alesia bertanya tanya. Bagaimanapun juga itu tentang ibunya. Orang yang sangat di sayanginya meskipun tidak pernah secara langsung di lihatnya.


“Kita bicara di dalam saja yah.. Malu sama pak satpam sama pak no. Nanti di kira kita sedang berantem lagi.”


Alesia menoleh pada pak no dan pak satpam yang memang tampak sedang bertanya tanya menatapnya dan leon.


Ya tuhan.. Apa yang ku lakukan? Tidak seharusnya aku menyambut kak leon dengan pertanyaan seperti itu..


Alesia beralih menatap leon lagi. Leon terus tersenyum menatapnya.


“Oke.” Angguknya kemudian.


Leon mengajak alesia masuk ke dalam dengan memeluk mesra pinggang alesia. Sembari melangkahkan kakinya santai leon berusaha memutar otak mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan istrinya.


“Kita ke ruanganku langsung saja yah..” Ajak leon.


Lagi, alesia hanya menganggukan kepalanya menuruti ajakan suaminya. Alesia benar benar tidak bisa diam saja. Alesia harus tau apa yang sedang di rencanakan suaminya. Apa lagi itu menyangkut tentang ibu kandungnya.


Leon menggiring alesia menuju ruanganya. Sejujurnya dari lubuk hatinya yang paling leon sudah tidak ingin lagi menambah kebohonganya. Tapi mengungkap semuanya juga leon merasa belum waktunya dan belum tentu alesia bisa mengerti.


“Jadi?” Tanya alesia tidak sabaran.


Leon menghela napas kemudian tersenyum. Di raihnya pinggang alesia dan mengusapnya mesra.


“Kamu tau bukan aku tidak bisa mengingat semuanya? Tentang kamu, tentang tante. Aku sempat bertanya suatu waktu pada bunda yati tentang ibu kamu. Dan mendengar cerita bunda yati aku jadi penasaran dan ingin tau tentang ibu kamu.”


Alesia mengeryit.


“Hanya itu?” Tanya nya menatap leon ragu.


“Apa lagi memangnya? Aku hanya sedang berusaha mengingat tentang istri aku.”


“Tapi bagaimana mungkin ada nama tuan bramono disana?” Tanya alesia lagi.


Leon tertawa.


“Itu hanya ketidak sengajaan saja sayang.. Kebetulan tuan bramono juga salah satu teman dekat ibu kamu dulu saat masih kecil.”


“Lalu apa tuan bramono tau tentang ini?”


Leon menggelengkan kepalanya.


“Aku rasa tidak.”

__ADS_1


Maaf.. Aku benar benar sangat minta maaf.. Semoga suatu hari nanti kamu bisa mengerti sayang.. Kamu bisa memahami posisi aku..


__ADS_2