
Bramono mulai menutup semua tentang alesia juga santi. Bramono bertekad untuk tidak lagi menemui keduanya. Dan itu semata mata demi semuanya bahagia. Demi alesia agar tidak lagi di benci oleh santi. Dan tentang keniatanya untuk kembali bersama santi bramono berubah pikiran. Bramono tidak ingin lagi menyakiti siapapun termasuk santi. Bramono juga tidak ingin menorehkan luka di hati santi lagi. Bramono sadar apa yang di lakukanya pada santi sudah sangat keterlaluan sehingga santi sampai trauma.
Ketika bramono hendak meraih laptopnya tiba tiba bramono terdiam. Pikiranya tiba tiba melayang ke masa lalu dimana santi pernah di rawat di rumah sakit setelah bertengkar denganya.
“Bukankah santi pernah hamil anakku..” Lirih bramono menelan ludahnya.
Mendadak bramono merasakan sesak di dadanya. Karna terlalu sakit hati juga sakit jiwa dan raganya karna bramono santi sampai tidak bisa menahan semuanya. Santi bahkan sampai menjatuhkan permata cintanya saat itu yaitu janin yang di kandungnya yang gugur karna perbuatan keterlaluan bramono.
Bramono tersenyum miris. Bramono membunuh buah cintanya dengan santi tanpa sadar.
“Andai kamu hidup nak.. Papah pasti akan sangat menyayangi kamu..”
Bramono selama ini tidak pernah sadar apa yang di lakukanya juga membuat dirinya sendiri terluka. Bramono juga kehilangan sesuatu yang sangat di dambakanya yaitu seorang anak.
“Tuhan.. Ampuni semua dosa yang pernah aku lakukan.. Aku tau dosaku begitu banyak tapi aku lebih tau engkau maha pemaaf.. Aku mohon tuhan..”
Bramono bergumam meminta ampun pada sang maha pemberi kehidupan di alam semesta.
Deringan hp yang berada di samping bantalnya membuat bramono menoleh. Bramono berdecak ketika mendapati kontak dengan nama pramono berada di layar benda pipih miliknya.
“Mau ngapain lagi dia menelponku..”
Dengan malas bramono meraih hp nya kemudian mengangkat telpon dari saudara serahimnya.
“Kenapa lagi?”
Bramono langsung bertanya tanpa lebih dulu basa basi saat mengangkat telpon tersebut.
“Bram.. Kamu kemana saja? Kenapa tidak pernah pulang?”
Bramono tertawa mendengar pertanyaan itu. Bramono merasa sudah tidak punya tempat untuk pulang. Kedua orang tuanya tidak pernah menganggapnya ada. Dan saudara kembarnya selalu menekan dan memperalatnya.
“Pulang? Memangnya aku punya rumah? Memangnya aku punya orang tua?” Tanya balik bramono sinis.
Helaan napas terdengar dari seberang telpon.
“Bram, jangan begitu. Kita semua sayang sama kamu. Aku, mamah, sama papah juga. Kita mau kamu pulang biar kita bisa sama sama lagi.”
“Maaf.. Aku lebih baik tanpa kalian.”
__ADS_1
Bramono langsung memutuskan sambungan telponya setelah itu. Bramono juga langsung menonaktifkan hp nya agar pramono saudara kembarnya tidak lagi menelponya.
“Oke.. Semuanya akan baik baik saja bramono. Kamu tidak perlu lagi memikirkan mereka.” Gumam bramono meyakinkan dirinya sendiri.
Bramono menghela napas kemudian melanjutkan niatnya meraih laptop yang ada di nakas samping tempat tidurnya. Bramono tidak mau lagi ambil pusing dengan semuanya. Mungkin mengalah dan menjauh adalah pilihan yang tepat untuk saat ini. Bramono tidak mau lagi ada yang terluka apa lagi jika sampai itu alesia.
-----
“Hy tante..”
Santi menghela napas di sertai decakan pelan yang keluar dari bibirnya. Entah apa yang berada di pikiran rico santi sendiri tidak tau. Rico begitu kukuh mengejarnya meskipun santi sudah melontarkan kata pedas bahkan sampai menghinanya.
“Kamu lagi. Mau ngapain sih? Nggak punya kerjaan apa lagi lagi ganggu saya?”
Santi benar benar gemas juga jengkel. Rico seperti pria tuli yang tidak pernah mendengar cacian juga hinaan darinya.
“Saya sudah selesai tante kerjanya. Makanya sekarang saya kesini buat jemput tante.”
Santi tertawa mendengarnya.
“Kamu jemput saya? Apa saya tidak salah dengar?”
“Menjemput saya itu harus dengan kendaraan mewah rico. Bukan dengan motor murahan terus butut seperti motor kamu itu. Saya alergi tau nggak? Banyak debu di jok motor kamu.”
Rico mengangguk anggukan kepalanya.
“Jadi mulai besok saya harus bawa mobil kesini tante?”
Santi menggeleng. Tidak mungkin rasanya jika rico benar benar datang besok dengan mobil seperti yang dikatakanya.
“Sudahlah. Saya nggak ada waktu basa basi sama kamu.”
Santi melenggang pergi begitu saja meninggalkan rico yang masih berdiri di depan loby perusahaanya. Tanpa menoleh sekalipun pada rico santi memasuki mobilnya kemudian langsung tancap gas berlalu dari depan gedung perusahaanya.
Rico yang melihat itu tersenyum. Sikap jutek santi semakin membuat rico merasa semangat mengejarnya. Rico bahkan semakin merasa yakin bahwa dirinya bisa meluluhkan hati santi suatu saat ini.
“Ah ya tuhan.. Aku kan mau balikin uangnya tante santi saat itu..”
Rico menepuk pelan jidatnya saat mengingat niatnya yang ingin menggantikan uang santi yang pernah di gunakan untuk membayar utang pada tetangga ibunya.
__ADS_1
“Aku harus kejar tante santi.”
Rico langsung bergegas berlari menuju motor gedenya. Rico tidak mau tertinggal jauh dari mobil mewah santi. Rico harus mengembalikan uang itu malam ini juga.
Sekitar 25 menit perjalanan santi akhirnya sampai tepat di depan kediaman mewahnya. Santi keluar dari mobilnya dengan memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencoba meredakan rasa ngilu yang dia rasakan di lehernya akibat terlalu lama bekerja hari ini.
Tintiiiiin......
Santi hendak melangkah masuk ke dalam rumahnya ketika mendengar suara klakson motor rico. Santi memutar jengah kedua bola matanya. Santi bingung apa lagi yang harus santi katakan pada pria berponi itu agar berhenti mengejarnya.
Ya tuhan.. Anak ini.. Apa aku harus membuatnya pingsan dulu atau bahkan membuatnya amnesia supaya berhenti muncul di depanku lagi.
Rico turun dari motornya kemudian langsung berlari menghampiri santi yang berdiri di depan pintu utama kediaman sanjaya.
“Saya bingung sama kamu rico. Kamu itu sebenarnya maunya apa? Kenapa kamu selalu ganggu saya? Kenapa kamu bahkan tidak pernah menganggap apa yang saya katakan sama kamu itu serius?”
Rico mengerucutkan bibirnya mendengar omelan santi.
“Tante bisa nggak sih sekali aja nggak marah marah sama saya. Memangnya tante nggak kasihan apa melihat saya yang seperti ini?”
Santi menyipitkan kedua matanya. Rico seperti sedang merajuk karna santi memarahinya.
“Saya itu kesini mau ngembaliiin uang tante yang waktu itu tante transfer ke tetangga ibu saya di kampung buat bayar utang saya. Jangan marah marah terus dong tante.”
Santi menghela napas merasa sangat kesal pada rico yang bahkan bertingkah seperti anak kecil yang sedang di marahi ibunya.
Rico kemudian melepas ransel yang di kenakanya dan mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat berisi uang.
“Ini tante, saya kebetulan baru bisa ngumpulin uangnya. Jadi ini buat gantiin uang tante yang saat itu. Di terima ya tante. Biar saya juga nggak berhutang sama tante.” Senyum rico sambil menyodorkan amplop coklat itu pada santi.
Santi tertawa merasa lucu dengan niat rico.
“Uang itu nggak berarti apa apa buat saya rico. Saya juga nggak ngutangin kamu kok. Saya cuma kasihan saja sama kamu saat itu. Dan saya pikir mending uang itu kamu gunakan buat ibu kamu beli beras di kampung. Kasihan loh kalau sampai kurang makan.”
Rico tersenyum. Di raihnya tangan santi dengan lembut kemudian menggenggamkan amplop coklat tersebut pada santi.
“Saya sangat berterimakasih banget sama tante. Apapun itu tante sudah bantu saya. Terima uang ini ya tante. Dan selamat malam. Sampe besok.” Senyum manis rico kemudian berlalu begitu saja dari hadapan santi.
Santi terdiam. Genggaman tangan rico sangat lembut dan membuat santi merasa nyaman.
__ADS_1
Ya tuhan.. Apa ini..