
Namun rasa bersalah tetap menggerogoki diri ikbal. Dia merasa dirinya benar benar sial berada dalam situasi seperti saat ini.
Ikbal menyakini bahwa karin pasti akan berpikir kalau ungkapan perasaanya kemarin hanyalah omong kosong belaka. Sambil menghela nafas panjang ikbal melangkah mendekati karin yang masih setia menatap tajam kearahnya.
Karin tercengan saat tiba tiba saja ikbal kini telah berada di depannya. Sambil menatap karin dengan wajah bersalah. Sedangkan disisi lain anak perempuan yang tadi memohon pada ikbal juga berdiri tepat di samping ikbal
"ngapain berhenti bal? " tanya anak perempuan tersebut
"yuk balik" sambungnya sambil menarik tangan ikbal
Seketika ada rasa kesal dalam diri karin melihat anak perempaun dihadapannya menggenggam tangan ikbal , cwok yang disukainya. Wajah karin seketika memerah hatinya benar benar panas melihat edegan di depannya.
Tanpa aba aba, tangannya menghempaskan paksa tangan anak perempuan yang memegang tangan ikbal
Ikbal tersentak dengan sikap karin. Wajahnya Berubah pucat seketika. Nafasnya benar benar terasa berat untuk di hirup masuk ke rongga hidungnya
"ngapain loh" bentak anak perempuan tersebut sambil menatap tajam kearah karin
Sementara ikbal masih diam membisu di tempatnya
"minggir , gue sama pacar gue mau lewat" bentak anak perempuan tersebut sambil mendorong tubuh karin sementara tangan satunya kembali menarik tangan ikbal
"lepasih rin" bentak ikbal sambil menghempaskan kasar tangan ririn
"gila loh yah" sambungnya
Ririn menatap sendu ikbal kemudian kembali berkata " please bal m, kali ini aja, aterin gue pulang" pintanya dengan wajah memelas.
"engga bisa rin, gue kan udah bilang telpon supir loh aja" kata ikbal dengan suara sendunya sambil melirik karin yang masik berdiri tak jauh dari dirinya dengan tatapan tajam
"kenapa sih? " tanya ririn dengan wajah kesal
"kerena.... Karena.." suara ikbal terbata bata seolah tenggorokannya sakit untuk berbicara.
Seolah takut jika kata kata yang di ucapkannya nanti salah dan tambah membuat karin menatap tajam padanya.
__ADS_1
" terus bagaimana dengan ungkapan perasannya terhadap karin?? ohh tidak dirinya tidak boleh sampai salah dalam berucap " guman ikbal dalam hatinya
"karena pacarnya ada sini" perkataan karin sontak membuat anak perempuan bernama ririn tersebut menatap tajam pada karin.
Sementara ikbal hanya menatap karin dengan ekpresi kaget
"pacarnya?? apakan itu karin??" seutas senyum terukir di bibir ikbal mendengar perkataan karin.
"siapa pacar ikbal? Engga usah mimpi loh" bentak ririn yang kini berada tepat di depan karin
"elo pacar ikbal?" sambungnya sambil mendorong bahu karin
" engga usah mimpi loh" lanjutnya yang kini semakin mendorong karin.
"santai njirrr" bentak karin sambil menahan tangan ririn yang mendorongnya
"bosen hidup loh" sambungnya sambil mempererat cengkramannya pada lengan ririn yang membuat ririn mengiris kesakitan
"bal, tolongin gue" teriak ririn saat karin semakin megeratkan cengkramannya.
Sementara ikbal yang kini telah sadar dari rasa terkejutnya segera menghampiri kedua anak perempuan tersebut.
Sementara ririn tersenyum babgga seolah merasa diperhatikan oleh ikbal.
Karin melepaskan cengkramannya dari ririn sesaat kemudian merdecak kesal dengan sikap ikbal yang lebih membela anak perempaun bernama ririn tersebut daripada dirinya.
"ok fine"bentak karin sambil meninggalkan ikbal dan ririn.
Sementara ikbal megusap kasar wajahnya melihat karin yang kini meninggalkannya
"dasar cwok kampret" gerutu karin sambil menghentakkan kakinya
"katanya suka sama gue tapi malam belain cwek lain, sial loh bal" sambungnya dengan wajah memerah karena kesal
__ADS_1
Berjalan ditengah malam seperti saat ini benar benar membuat karin semakin kesal.
Apalagi saat ini dirinya tidak tau harus ini pulang dengan apa. Hpnya pun mati tanpa sebab.
Sambil terus mengumpat karin terus menyusuri jalan setapak tersebut
"karin.." suara Ikbal memanggil karin sambil mengendarai sepeda motornya secara lambat disebelah karin
"gue anter yah" sambungnya
Tidak ada jawaban dari karin. Rasa kesal masih menyelimutinya. Seakan enggan untuk menaggapi ikbal , karin lebih memilih diam dan terus berjalan dengan wajah kesal
"ayolah rin. Udah malam nih" sambung ikbal
"engga usah" bentak karin dengan suara menggema
"anterian aja cwek loh pulang" sambungnya
"ehhh kan pacar gue eloh" kata ikbal yang langsung mendapat jitakan di kepalanya
"jangan asal ngomon yah loh" kata karin
"iy maaf kata ikbal, jadi gimana? Mau gue anterian apa engga?lanjut ikbal
Kembali tidak ada jawaban dari karin.
"yah udah kalau giti gue anteri ririn aja kalau loh engga mau" kata ikbal sambil menatap karin
Raut waja karin semakin kesal mendengar perkataan ikbal
"pergi aja kalau loh berani" bentaknya sambil menatap ikbal penuh rasa kesal
" kau loh pergi jangan harap gue bakalan maafin loh" sambungnya
Sementara ikbal hanya menahan tawa melihat ekspresi karin
__ADS_1
jangan lupa like dan comennya
untuk mendukung penulis😊😊