
Leon tidak bisa fokus dalam bekerja setelah apa yang di ungkapkan alesia siang tadi. Leon tidak pernah memikirkan apa yang alesia rasakan selama ini. Yang leon tau alesia mengerti dan dapat memahaminya sehingga alesia selalu diam dan menghindari perdebatan denganya.
Leon tau santi memang tidak pernah bisa menerima alesia. Tapi leon berpikir mungkin dengan diamnya alesia bisa membuat santi luluh. Tapi ternyata santi malah semakin merasa di atas dan menganggap leon ada di pihaknya.
“Kenapa harus membenci alesia tante? Kenapa harus membenci wanita yang aku cintai?” Gumam leon bertanya tanya.
Leon memejamkan kedua matanya. Punggungnya dia sandarkan di sandaran kursi kebesaranya. Leon kemudian mengusap kasar wajah tampanya dengan kedua tanganya. Leon benar benar merasa frustasi. Kebohonganya semakin terpupuk dengan kebohongan lainya. Kebohongan kecil untuk menutupi kebohongan besarnya. Kebohongan yang apa bila terkuak mungkin akan membuat istrinya kecewa.
Deringan hp membuat leon menoleh ke arah meja samping kanan dimana benda pipih itu leon letakan. Leon berdecak. Tanganya terulur meraih benda yang terus berdering dan bergetar itu.
Leon mengeryit. Leon merasa tidak mengenal nomor yang tertera di layar hp nya. Merasa penasaran leon pun segera mengangkat telpon dari nomor yang tidak di kenalnya itu.
“Halo..”
“Ini saya leon. Bramono.”
Kedua mata leon terbelalak. Bramono tidak pernah sekalipun menghubunginya selama berpisah dengan santi. Tapi sekarang tiba tiba pria itu menghubunginya.
“Ada apa?”
Pertanyaan leon di sambut gelak tawa oleh bramono di seberang telpon. Dan itu membuat leon bingung tidak mengerti.
“Saya pikir kamu masih lupa ingatan. Ternyata sudah sembuh.”
Leon berdecak pelan. Lagi lagi leon melewati batas. Bramono pasti tau apa yang pernah di alami leon. Tapi sekarang bramono bisa dengan mudah menebaknya. Dan itu tentu saja karna kebodohan leon sendiri.
“Apa maksud anda?” Tanya leon pura pura tidak mengerti dengan apa yang di tertawakan bramono.
“Jangan pura pura leon. Kalau kamu memang belum sembuh kamu pasti akan menanyakan siapa bramono. Tapi yah.. Kamu dengan mudah bisa mengenali saya. Sebagian dari masa lalu tante kamu.”
Tangan leon terkepal erat. Jika sampai bramono membeberkan sandiwaranya yang masih pura pura lupa ingatan itu akan sangat berakibat fatal pada hubunganya dengan alesia.
“Sudahlah. Saya tidak mau banyak basa basi sama kamu leon. Malam nanti saya tunggu kamu di restourant dekat perusahaan saya. Jangan sampai telat.”
“Maaf saya tidak punya waktu untuk meladeni anda.” Sela leon cepat.
Leon berpikir lebih baik menghindar dari bramono dari pada harus meladeninya. Bramono bukan orang baik. Bramono orang yang kejam dan tidak berperasaan. Leon tau itu.
__ADS_1
Leon memutuskan sambungan telponya dengan bramono setelah berkata. Leon juga langsung menonaktifkan hp nya karna tidak mau bramono menghubunginya lagi.
Menghindar lebih baik leon. Jangan biarkan bramono menyetirmu.
Leon menghela nafas. Pria tampan itu kemudian bangkit dari duduknya. Leon meraih tas kerjanya dan berlalu keluar dari ruanganya untuk pulang.
“Hey.”
Alesia menoleh mendengar suara santi. Wanita itu mengeryit melihat penampilan berlebihan santi sore ini.
“Tante..”
“Mana leon?” Tanya santi dengan wajah datar.
“Eemm.. Kak leon belum pulang. Tante kalau boleh aku tau, kenapa tiba tiba kemarin tante meminta nomor rico?”
Ekspresi datar santi langsung berubah seperti orang gugup. Wanita itu bahkan langsung menghindari tatapan alesia.
“Kamu nggak perlu nanya soal itu.” Katanya.
Alesia mengeryit. Rico adalah temanya, dan santi tantenya. Dan yang alesia tau santi sangat tidak menyukai rico juga dirinya. Santi bahkan menganggap alesia mempunyai hubungan khusus dengan rico. Alesia takut santi mengatakan sesuatu yang tidak tidak pada rico tentang alesia.
“Bisa nggak sih kamu nggak usah selalu pengin tau dengan urusan saya?”
Alesia langsung bungkam. Alesia selalu diam dan tidak pernah mencampuri urusan santi. Justru sebaliknya, santi yang selalu mencampuri urusan alesia bahkan sampai urusan rumah tangganya dengan leon.
“Sudah saya capek mau istirahat.”
Alesia menggelengkan kepalanya. Diam hanya akan membuat santi merasa selalu di atas dan selalu benar.
“Tante tunggu.” Cegah alesia.
Santi urung melangkahkan kakinya. Wanita itu memutar jengah kedua bola matanya saat alesia bangkit dari duduknya di sofa panjang di ruang tengah.
Alesia mendekat pada santi dan berdiri tepat di belakang santi yang memunggunginya.
“Apa lagi?” Tanya santi malas.
__ADS_1
“Tante, aku tau dan aku juga sadar tante nggak pernah sedikitpun suka sama aku. Tapi bisa tidak tante tolong jangan memunculkan masalah dari luar rumah ini?”
Santi mengeryit mendengar apa yang di katakan alesia. Wanita itu langsung memutar tubuhnya menatap kembali pada alesia.
“Apa maksud kamu? Kamu pikir saya nggak ada urusan sendiri sampai buang buang waktu buat ngurusin masalah kamu?” Tanya santi jengkel.
Alesia menarik nafas panjang dan menghembuskanya berlahan. Wanita itu berusaha meredam emosinya yang mulai memuncak karna sikap dan tingkah laku santi yang selalu melampaui batas.
“Lalu untuk apa tante meminta nomor rico?” Tanya alesia lagi.
“Saya sudah bilang itu bukan urusan kamu. Dan asal kamu tau, saya meminta nomor rico bukan untuk membahas kamu yang tidak penting ini. Kamu itu disini cuma saya anggap sampah. Ingat itu alesia.”
“Tante !”
Suara berat dan meninggi leon membuat alesia dan santi menoleh kompak. Keduanya diam menatap leon yang sedang melangkah menghampirinya.
“Kakak..” Gumam alesia lirih.
Sedangkan santi, wanita itu hanya berdecak pelan. Santi tau leon pasti akan membela alesia.
“Kenapa? Kamu mau marah marah sama tante? Kamu mau nyalahin tante?” Tanya santi setelah leon berada di samping alesia.
Alesia hanya menelan ludahnya. Sebelumnya leon dan santi tidak pernah sekalipun berdebat. Leon selalu mengalah pada tantenya itu.
“Aku nggak suka tante ngomong begitu sama alesia. Alesia istri aku tante. Dia bukan sampah. Dia juga punya hak di rumah ini.” Kata leon membela alesia.
Alesia menolehkan kepalanya. Rasanya seperti mimpi leon melawan santi untuk membelanya.
“Leon istri kamu itu sok tau. Dia menuntut untuk tante menjawab pertanyaan dia. Apa tante nggak boleh marah? Apa tante harus bilang apapun yang tante lakukan sama dia?”
Leon menelan ludahnya. Entah apa yang sedang di perdebatkan oleh santi dan alesia sebelumnya, tapi leon merasa ikut sakit mendengar santi mengatai istrinya sampah.
“Ya tapi kan tante bisa ngomong baik baik. Jangan mengatai istri leon seperti itu tante.” Balas leon dengan tatapan sendunya pada santi.
“Sudahlah tante capek. Belain saja terus istri kamu yang manja ini.”
Merasa kesal karna leon membela alesia santi pun langsung berlalu meninggalkan alesia dan leon yang hanya diam di tempatnya.
__ADS_1
Alesia menghela nafas pelan. Jika saja dirinya tidak menuntut untuk santi menjawab pertanyaanya leon dan santi pasti tidak akan berdebat.
“Maaf kak.. Semua ini memang salah aku..”