Sebuah Rasa

Sebuah Rasa
Kasih sayang tak terlihat


__ADS_3

Alesia duduk di depan rumahnya tepatnya di kursi tunggal yang ada di teras rumahnya. Alesia benar benar merasa sangat penasaran dengan pria bernama bramono seperti yang bicarakan rico. Alesia juga penasaran dengan hubungan bramono dan santi sehingga santi meminta untuk rico berpura pura menjadi pacar bahkan sampai harus berakting menjadi calon suaminya di depan bramono.


Gimana caranya yah supaya aku tau apa hubungan tante dengan bramono.


Alesia memutar otak. Wanita cantik itu mencoba mencari cara agar bisa mendapatkan jawaban atas rasa penasaranya.


“Telpon tante terus ancem dia? Itu bukan aku banget.” Gumam alesia.


Alesia menghela nafas. Jangankan dirinya, leon saja yang sangat di sayangi santi tidak pernah berhasil menemui tantenya. Apa lagi alesia yang jelas sangat tidak di sukai santi.


“Nyonya.”


Suara mbak sari membuat alesia menoleh.


“Ya mbak, ada apa?”


“Saya izin mau keluar sebentar nyonya. Saya mau beli pulsa.” Jawab mbak sari.


Alesia beralih menatap hp yang di pegang mbak sari. Tiba tiba sebuah ide terlintas di otak cerdasnya.


“Eem.. Cuma beli pulsa doang mbak? Apa mau beli yang lain juga?” Tanya alesia tersenyum.


“Iya nyonya. Cuma beli pulsa.” Angguk mbak sari menjawab lagi.


Alesia tersenyum senang mendengarnya.


“Begini saja. Mbak nggak usah capek capek keluar jalan kaki, apa lagi sampai ngojeg keluar ongkos. Pulsanya nanti saya kirimin gratis buat mbak. Tapi nanti saya pinjam sebentar hp nya. Boleh?”


Mbak sari mengangguk antusias mendengarnya. Raut kebahagiaan terlihat jelas dari wajahnya karna uangnya tidak akan berkurang untuk membeli pulsa. Alesia akan memberikan pulsa gratis padanya secara cuma cuma.


“Iya nyonya. Boleh.” Angguknya sekali lagi.


“Ya udah tunggu sebentar yah. Hp saya ada di dalam.”


Alesia bangkit dari duduknya kemudian melangkah masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil hp nya yang memang tidak alesia bawa saat keluar rumah tadi. Sedang mbak sari, wanita itu jingkrakan saking senangnya sambil menciumi uang seratus ribuanya yang tidak jadi keluar dari dompetnya.


Setelah selesai mengirim pulsa pada mbak sari, alesia langsung meminjam hp milik asisten rumah tangganya itu. Alesia berencana menelpon santi dengan nomor mbak sari yang tentunya tidak di kenali oleh tante dari suami tercintanya itu.


Semoga berhasil..

__ADS_1


Alesia mendudukan dirinya di sofa. Alesia mulai mengetik nomor santi di hp mbak sari kemudian menelponya. Cukup lama alesia menunggu sampai alesia mengulangi beberapa kali menelpon santi.


“Halo..”


Alesia tersenyum senang saat santi mengangkat telponya. Dan jujur, alesia merindukan suara galak wanita itu.


“Tan tante.. Ini ini aku..”


Alesia mulai berakting. Dengan suara tersendat seolah sedang menahan rasa sakit alesia mulai berbicara pada santi.


“Alesia.. Kamu.”


“Tan..te.. Perut aku.. Perut aku sakit...” Rintih alesia dengan suara di buat buat.


“Jangan bercanda kamu alesia. Saya tampar kamu kalau berani menipu saya.”


Alesia memejamkan kedua matanya. Membayangkan perihnya tamparan telapak tangan santi di pipinya saja sudah berhasil membuat alesia ngeri.


“Sakit tan..te.. Tolong.. Hiks hiks..”


Alesia melancarkan aksinya dengan berpura pura menangis. Dan sepertinya rencana berhasil. Suara santi tampak kebingungan dan beberapa kali menyebut nama tuhan. Santi juga beberapa kali mengumpat sebelum akhirnya sambungan telpon itu terputus.


Selesai menelpon alesia tidak langsung memberikan hp tersebut pada mbak sari. Alesia takut jika tiba tiba santi balik menghubunginya. Dan benar saja, hp mbak sari kembali berdering dan nomor santi tertera disana.


“Tante nelpon balik.” Gumam alesia.


Alesia hendak menggeser layar hp tersebut namun kemudian terdiam.


“Tunggu, kalau aku angkat nanti tante nggak jadi khawatir dong. Yang ada nanti tante malah tau kalau aku bohong. Eemm.. Biarin ajalah.”


Alesia membiarkan hp mbak sari terus berdering dengan getaran yang merubah posisi benda pipih itu. 2 kali santi menelpon balik namun alesia sama sekali tidak menjawab. Alesia bahkan langsung mematikan hp mbak sari agar sandiwaranya benar benar seperti sebuah kenyataan.


Beberapa menit setelah mematikan hp mbak sari alesiapun langsung mengembalikanya. Alesia tidak lupa memblokir nomor santi di hp mbak sari agar santi tidak bisa lagi menghubunginya.


“Ini mbak hp nya. Makasih yah..” Kata alesia sambil memberikan hp itu pada mbak sari.


“Saya yang terimakasih nyonya. Terimakasih untuk pulsanya.”


“Iya. Oya mbak nanti kalau tante saya datang terus nanyain saya bilang saja saya lagi kurang enak badan di kamar ya?”

__ADS_1


“Baik nyonya.”


Setelah mbak sari menjawab, alesiapun berlalu dari depan kamar mbak sari. Alesia berjalan cepat menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai 2 dimana kamarnya dan leon berada.


Semoga cara ini berhasil.


Sementara di ruangan leon hp leon terus berdering. Namun sang mpunya tidak sedang berada di tempatnya. Leon sedang meeting sehingga tidak membawa hp nya. Pria tampan itu berpikir jika hp nya berbunyi saat sedang metting dengan client nya itu akan sangat mengganggu.


“Ya tuhan... Bocah ini kemana sih?”


Santi menatap gemas layar benda pipih di tanganya. Sudah berkali kali santi menghubungi leon namun tidak kunjung di jawab oleh keponakanya itu.


“Awas aja kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi pada calon cucuku, akan aku gantung hidup hidup kamu leon.” Umpat santi.


Dengan perasaan khawatir santi langsung meraih kunci mobilnya. Santi tidak lupa meraih tas kecilnya yang berada di atas nakas. Wanita itu kemudian melangkah cepat bahkan sedikit berlari keluar dari kamarnya. Santi tidak ingin membuang buang waktu. Alesia sedang kesakitan sekarang dan leon tidak bisa di hubungi. Itu artinya kehadiranya di samping istri keponakanya sedang sangat di butuhkan.


“Inah jaga rumah. Saya pergi sebentar. Kalau rico datang bilang saja saya ke rumah leon.” Kata santi sambil terus melangkah melewati bi inah yang sedang menyapu di ruang tamu.


“Baik nyonya.” Angguk bi inah dengan ekspresi bingung.


Bi inah merasa sangat penasaran bahkan sampai bertanya tanya. Wajah santi tampak sangat khawatir.


“Apa sesuatu yang buruk terjadi pada nyonya alesia?” Gumam bi inah penuh tanya.


Leon tersenyum menatap client nya. Ya, pria tampan itu senang karna kerja sama antara perusahaanya dengan perusahaan client nya berjalan dengan sangat baik.


“Semoga kedepanya kerja sama kita semakin maju pak leon.” Kata seorang pria baya berbadan pendek yang tidak lain adalah client leon.


“Ya pak.. Amiiin.” Senyum leon membalas.


“Baik kalau begitu saya permisi. Selamat siang.”


Pria bertubuh pendek itu berdiri dari duduknya yang juga di ikuti oleh leon.


“Ya pak. Silahkan. Selamat siang.”


Leon menghela nafas setelah client nya berlalu. Leon tidak lupa menyuruh sekertarisnya untuk mengantar pria pendek tersebut sampai depan.


Sementara leon, pria tampan bersetelan jas abu abu itu kembali mendudukan dirinya di atas sofa. Tidak sampai setengah jam lagi waktu makan siang tiba. Itu artinya leon harus pulang untuk menemani istrinya makan siang.

__ADS_1


__ADS_2