
Leon tidak bisa memejamkan kedua matanya sampai larut malam. Leon terus memikirkan tentang santi dan bramono. Leon pikir setelah berusaha mencelakainya bramono tidak akan lagi muncul. Tapi saat makan siang tadi alesia menunjukan hasil potretanya pada sosok bramono yang berdiri dengan jarak yang dekat dengan santi.
Leon menghela nafas. Bramono sudah melihat secara langsung sosok cantik alesia. Dan leon tau bramono sangat membencinya. Leon khawatir jika sampai bramono melakukan hal buruk pada istrinya.
Tuhan.. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Posisi ini begitu sulit..
Leon memejamkan kedua matanya sebentar kemudian membukanya kembali. Leon menoleh dan tersenyum mendapati wajah damai alesia yang menghadapnya. Leon percaya penuh pada istrinya.
Leon menyentuh dan membelai lembut pipi chuby istrinya. Leon tidak akan rela jika sampai bramono menyentuh istrinya. Bahkan meski bramono hanya memyentuhnya di ujung kuku alesia.
Aku janji sayang.. Aku akan melindungi kamu. Aku nggak akan membiarkan siapapun menyakiti kamu..
Merasakan sentuhan tangan leon di pipinya, alesia pun membuka kedua matanya sedikit.
“Kakak.. Kamu nggak tidur?” Tanyanya dengan suara serak serta mata kembali tertutup.
“Aku belum ngantuk. Kamu tidur aja. Maaf aku ganggu kamu.” Senyum leon membalas.
Alesia melenguh. Wanita itu kemudian merapatkan tubuhnya pada leon dan memeluk pinggang leon erat.
“Aku mau peluk..” Katanya merengek manja.
Leon tertawa pelan. Alesia bukan tipe wanita yang manja. Tapi saat ini wanita itu bertingkah menggemaskan seperti anak kecil. Alesia bahkan memeluknya lebih dulu dan menyenderkan kepalanya di dada bidang leon.
“Ya istriku. Tidurlah..” Bisik leon mendekap hangat tubuh alesia.
Leon beberapa kali mencium puncak kepala alesia. Terkadang leon merasa khawatir juga merasa bersalah karna terus membohongi istrinya. Padahal leon sendiri tau alesia selalu di tekan oleh santi. Tapi leon tidak bisa berbuat apapun. Leon hanya bisa mendukung istrinya, menyabarkan, dan menjadi pendengar yang baik jika alesia menceritakan apa yang di lakukan atau di katakan santi padanya. Leon juga tau bagaimana kerasnya santi sehingga leon percaya pada apa yang di katakan istrinya.
Paginya leon menuruni anak tangga dengan santai. Tidak ada alesia di sampingnya karna wanita itu memang belum selesai membersihkan diri setelah membantu leon bersiap.
“Mana alesia?” Tanya santi sambil mengoleskan selai stowberry kesukaanya ke permukaan selembar roti tawar yang di pegangnya.
“Masih di kamar tante.” Jawab leon.
“Dasar pemalas.” Gumam santi sinis.
__ADS_1
Leon menghela nafas. Mungkin memang dirinya harus berbicara pada santi agar tidak terlalu membuat alesia tertekan.
“Tante..” Panggil leon pelan.
“Kamu mau sarapan apa? Nasi goreng?” Tanya santi berniat mengambil piring yang ada di depan leon.
“Nanti saja tante.” Jawab leon.
Alesia mengeryit bingung. Tidak biasanya leon menolak tawaranya.
“Ada apa?” Tanya alesia menatap leon penuh perhatian.
Leon menelan ludahnya. Tantenya mungkin akan marah karna ucapan leon. Tapi bagaimanapun juga leon tetap harus mengatakanya. Leon tidak mau istrinya selalu tertekan karna sikap santi padanya.
“Ini soal alesia tante.”
Santi mengangkat sebelah alisnya namun sedetik kemudian senyumnya mengembang menghiasi bibirnya.
“Tante tau. Kamu pasti juga mempunyai pikiran yang sama kan sama tante. Tante juga ragu bahwa anak yang di kandung alesia adalah anak kamu.”
“Kenapa tante bisa berpikiran seperti itu. Aku lihat alesia wanita yang baik tante. Tolong jangan berprasangka buruk.”
Santi memutar jengah kedua bola matanya. Leon tetap saja membela alesia padahal sedang tidak mengingat apapun tentang wanita itu.
“Tolong tante, aku nggak mau tante dan alesia terus seperti ini. Bukankah tante sendiri yang saat itu meyakinkan aku bahwa anak yang di kandung alesia adalah anak aku. Tante bahkan menampar aku demi membela alesia.”
Santi terdiam. Saat itu dirinya hanya sedang membayangkan bagaimana jika dirinya yang ada posisi alesia. Santi tidak bohong, dirinya juga merasa sakit saat leon tidak mau mengakui anak dalam kandungan alesia. Karna santi sendiri pernah merasakanya bahkan sampai keguguran.
“Tante.. Aku yakin tante orang yang baik. Tante sayang sama aku juga sama alesia. Tolong tante, jangan membuat alesia merasa tertekan. Alesia sedang sangat membutuhkan perhatian dan dukungan lebih dari orang orang di dekatnya. Dan itu aku sama tante.”
Santi melirik leon. Wanita itu menyipitkan kedua matanya menatap leon. Santi merasa sedang berbicara dengan leon yang mengingat segalanya. Bukan leon yang kehilangan separuh dari ingatanya.
“Leon, kamu sedang tidak mengingat apapun tentang alesia. Bagaimana mungkin kamu tau bahwa alesia wanita yang baik. Tante yakin bahkan kamu juga sama sekali tidak mengingat masa lalu kamu dengan alesia.”
Leon terdiam. Lagi lagi dirinya tidak bisa menahan diri. Leon membuat santi bahkan sampai menatapnya penuh rasa curiga.
__ADS_1
“Kenapa leon?” Tanya santi menuntut.
“Karna hati tante. Hati aku meyakini bahwa alesia memang wanita yang aku cintai.”
Santi tertawa mendengarnya.
“Lalu apa kamu yakin alesia juga sangat mencintai kamu?”
Leon terdiam lagi. Semua tentang alesia memang selalu di cap buruk oleh santi. Dari dulu sampai sekarang. Dan semua itu terus terpupuk sehingga rasa tidak suka santi pada alesia kian hari kian bertambah.
”Tante, leon. Kalian lagi sarapan yah?”
Leon dan santi menoleh ke arah suara dimana pingkan sudah berdiri dengan menenteng sebuah paperbag berukuran sedang di tanganya. Wanita dengan setelan baju formalnya itu tersenyum manis menatap leon dan santi yang duduk di kursi meja makan.
“Pingkan..” Senyum santi.
Pingkan melangkah mendekat. Wanita itu menaruh paperbag yang di bawanya di atas kursi yang tepat berada di samping kursi yang di duduki oleh santi.
“Orang tua aku lagi ke bali tante, jadi aku males makan sendiri. Berhubung aku sudah masak, jadi aku bawa aja kesini biar kita bisa makan sama sama.” Celoteh pingkan.
“Kamu memang wanita hebat pingkan. Selain rajin bekerja kamu juga pintar memasak. Benar benar istri idaman.”
Leon melengos. Selera makanya langsung hilang begitu melihat wajah sok manis pingkan. Ingin sekali leon mengusir wanita itu sekarang juga. Tapi rasanya tidak mungkin karna santi pasti akan semakin curiga jika leon memperlihatkan ketidak sukaanya secara terang terangan pada pingkan.
Leon bangkit dari duduknya membuat santi menoleh menatapnya.
“Tante aku berangkat dulu.” Katanya pelan.
“Loh tapi kamu belum sarapan le..”
“Nanti saja tante. Aku buru buru.” Balas leon kemudian langsung berlalu meninggalkan santi dan pingkan di meja makan.
Dari balik tembok alesia tersenyum. Alesia mendengar semua yang di bicarakan oleh suami dan tantenya. Dan alesia merasa sangat senang juga bahagia karna leon membelanya di depan santi. Meskipun leon melakukanya diam diam di belakang alesia tapi alesia tetap merasa bahagia karna itu pertanda bahwa pria itu sangat menghargai perasaanya.
Kak leon.. Terimakasih karna sudah membela aku di depan tante.. Terimakasih karna sudah mau percaya sama aku. Aku mencintaimu kak.
__ADS_1