
Seminggu berlalu kesehatan Alesia perlahan mulai membaik. Dokter bahkan juga sudah mengizinkanya untuk pulang. Hal itu di sambut sangat baik oleh Leon yang memang sudah sangat menantikan kepulangan istri tercintanya. Alesia memang belum memaafkanya tapi Leon sudah berjanji pada dirinya sendiri, Leon akan memperbaiki semuanya.
“Kamu mau makan apa? Biar aku belikan.”
Alesia melengos. Perutnya sama sekali tidak merasakan lapar. Tapi Alesia harus tetap makan karna ada janin dalam rahimnya yang sedang tumbuh dan sangat membutuhkan asupan gizi darinya.
“Aku bisa beli sendiri.”
Leon mengangguk. Menawarkan hanya akan membuatnya pesimis.
“Tunggu sebentar disini.” Katanya kemudian berlalu.
Alesia menghela napas. Kebohongan Leon membuat Alesia merasa ragu. Tapi Alesia juga tidak bisa egois dengan mementingkan perasaanya sendiri. Alesia tau anak dalam kandunganya juga memerlukan kehadiran dan sosok Leon sebagai ayahnya.
“Alesia..”
Alesia memejamkan kedua matanya. Padahal Alesia pikir Leon akan pergi keluar mencarikanya makanan mengingat asisten rumah tangga mereka sekarang sedang pulang kampung.
Alesia membuka kedua matanya kemudian menoleh. Namun Alesia terkejut karna bukan hanya Leon yang berdiri di ambang pintu kamarnya, tapi juga Bramono, Santi, dan Rico.
Ya tuhan... Ada apa lagi ini?
Alesia khawatir. Mereka semua menatapnya seperti sedang ingin memperjelas sesuatu.
“Ada yang harus aku katakan padamu nak.”
Alesia menahan napas sejenak. Bramono selalu bersikap layaknya orang tua pada Alesia. Dan itu membuat Alesia merasa sedikit tidak nyaman. Apa lagi setelah mengetahui hubungan pria itu dengan mendiang ibunya di masa lalu.
“Ini tentang ibu kamu, juga ayah kandung kamu.”
Alesia hanya diam. Dulu Alesia sangat ingin bertemu dengan ayah kandungnya. Tapi sekarang setelah mengetahui hubungan Bramono di masa lalu dengan ibunya Alesia merasa sudah tidak perlu lagi mengetahui siapa ayahnya. Alesia merasa bisa hidup tanpa harus mengenal siapa ayah kandungnya.
Leon menyuruh untuk Bramono, Santi, juga Rico masuk. Pria itu mengesampingkan rasa tidak sukanya pada Rico yang sampai sekarang masih Leon anggap menyukai Alesia.
Bramono mulai berbicara. Kata demi kata terangkai menjelaskan tentang semua yang terjadi di masa lalu. Tentang cintanya pada Alesia le atau ibu le. Tentang cintanya juga pada santi yang berakhir dengan luka yang membekas di hati santi sampai sekarang. Bramono juga menceritakan tentang Pramono, saudara kembarnya yang menodai Alesia le sampai akhirnya lahir Alesia. Bramono tidak perduli apa tanggapan santi dan Alesia. Bramono hanya ingin semuanya jelas.
“Lalu dimana ayahku sekarang?”
Bramono menelan ludahnya. Bramono pikir Alesia akan marah dan membenci saudara kembarnya. Tapi ternyata Alesia menanyakan keberadaan Pramono sekarang.
__ADS_1
“Dia ada di penjara sekarang. Om memenjarakanya karna dia juga yang menyebabkan orang tua Santi dan Leon mengalami kecelakaan.”
Leon memejamkan kedua matanya. Tanganya mengepal erat. Mertuanya adalah orang yang mencelakai kedua orang tuanya di masa lalu.
Alesia menangis dalam diam. Entah skenario apa yang tuhan rencanakan di hidupnya. Semuanya begitu rumit dan sulit.
“Semua itu terjadi di masa lalu. Aku harap kalian tidak saling menyalahkan. Jika memang harus ada yang di salahkan salahkan saja saya dan pramono.”
Sebulan berlalu hubungan Leon dan Alesia mulai membaik. Alesia tidak lagi diam dan kembali bersikap manja pada Leon. Asisten rumah tangganya pun telah kembali bekerja membuat Leon sedikit merasa tenang saat harus bekerja di luar meninggalkan Alesia di rumah.
Sedang Santi dan Rico, mereka berdua mulai mencoba menjalani apa yang memang seharusnya mereka jalani. Santi melupakan apa yang terjadi di masa lalu setelah Bramono menjelaskan alasan menyakitinya dulu. Tentu saja itu karna pramono yang bersikap seperti psikopat yang mengancam dan siap melenyapkan siapa saja yang membuatnya tidak nyaman.
“Kak mau tidak temani aku menjenguk ayah? Aku tiba tiba ingin memeluknya.”
Leon terdiam. Pria itu berhenti mengunyah makanan dalam mulutnya. Alesia tidak pernah mengungkit tentang pramono sebulan ini. Tapi tiba tiba Alesia mengatakan ingin memeluk ayah kandung brengseknya itu.
Leon benci pada Pramono. Pria itu sudah merenggut kedua orang tuanya dan Santi. Pria itu juga menghancurkan hidup santi, tantenya. Tapi bagaimanapun juga pria itu adalah orang tua kandung istrinya, orang yang sudah seharusnya juga Leon hormati.
“Kenapa tidak bisa? Dia ayahku juga sekarang. Kita berangkat setelah ini.” Senyum Leon menatap wajah cantik Alesia.
Alesia tersenyum merasa sangat bahagia karna Leon mengabulkan keinginanya.
Baiklah Leon, lupakan masa lalu. Lakukan yang terbaik demi masa depan keluarga kecilmu.
“Ayah...”
Pramono tertegun mendengar Alesia memanggilnya dengan sebutan ayah. Pria itu menggeleng tidak percaya menatap pada Alesia yang tersenyum dan duduk di depanya.
“Kamu memanggilku ayah?” Tanyanya lirih.
Alesia tersenyum.
“Om Bram sudah menjelaskan semuanya. Bagaimanapun juga kau ayahku. Aku memaafkan semua kesalahanmu.”
Air mata Pramono menetes. Pramono mengakui semua kesalahanya. Dirinya kejam dan di butakan rasa iri pada Bramono yang memang selalu di banggakan sejak kecil oleh kedua orang tuanya. Itu sebabnya Pramono menghancurkan hidup saudara kembarnya sendiri. Mulai dari merenggut cinta pertama Bramono sampai menghancurkan kehidupan rumah tangganya dengan Santi dulu. Tidak tanggung tanggung, pramono bahkan mencelakai kedua orang tua Santi dan Leon.
Pramono melirik Leon yang ada di samping Alesia. Dosanya begitu besar pada Leon.
“Aku juga memaafkanmu ayah.” Senyum Leon berusaha untuk ikhlas.
__ADS_1
Pramono menangis. Pramono merasa beruntung karna tuhan masih memberinya kesempatan untuk mengakui segala kesalahanya.
“Le..”
“Alesiana ayah.. Namaku Alesiana bukan Alesia le..” Senyum Alesia menyela ucapan Pramono.
“Ya ana.. Boleh ayah memelukmu?”
Alesia menatap Leon yang juga menatapnya kemudian kembali menatap Pramono yang sedang menunggu jawaban atas pertanyaanya.
“Kenapa tidak?” Senyumnya kemudian bangkit dan mendekat pada Pramono.
Pramono langsung memeluk putrinya untuk yang pertama kalinya. Putrinya yang tumbuh dari benih yang dengan sangat tidak berperasaan Pramono tanam di rahim Le. Putrinya yang tidak pernah sedikitpun mendapatkan perhatian dan kasih sayang darinya.
Leon tersenyum menatapnya. Mungkin tuhan memang sengaja menakdirkan Alesia menjadi istrinya agar Leon bisa menerima segalanya. Mungkin rasa benci itu masih ada. Tapi Leon yakin, perlahan benci itu akan terkikis hingga akhirnya benar benar menghilang dari hati juga pikiranya.
Dari balik tembok tanpa Leon, Alesia, juga Pramono sadari Santi dan Rico melihat semuanya. Mereka berdua tersenyum menatap Alesia yang bisa menerima semuanya dengan begitu lapang dada.
“Alesia dan suaminya sudah bisa menerima semuanya, saya merasa ikut bahagia..” Gumam Rico.
Santi mengangguk pelan. Meski sempat sangat marah mendengar apa yang Bramono katakan, tapi akhirnya santi bisa mengikhlaskan semuanya.
“Lalu tante bagaimana?” Tanya Rico.
“Saya juga sudah ikhlas. Mungkin ini cara tuhan mengajarkan tentang rasa ikhlas pada saya.”
“Bukan itu tante maksud saya.”
Santi mengeryit kemudian menoleh pada Rico.
“Apa?”
Rico tersenyum kemudian meraih tangan santi dan menggenggamnya lembut.
“Tentang perasaan saya pada tante. Apa tante bisa menerimanya? saya cinta sama tante.”
Santi diam sejenak. Rico selalu ada di sampingnya. Rico juga begitu kukuh menunggu jawaban darinya atas pengakuanya tentang rasa cintanya pada santi.
“Mungkin saya perlu mencobanya.” Jawab Santi.
__ADS_1
Rico tersenyum bahagia. Rico yakin santi memang jodoh yang di kirim tuhan untuknya. Dan rico akan menjaganya dengan baik.
-----END-----