
Leon memasuki ruanganya dengan senyuman yang terukir di bibirnya. Rapatnya berjalan dengan lancar. Ketika leon memutar tubuhnya setelah menutup pintu ruanganya senyum di bibirnya memudar melihat bramono yang sudah duduk dengan tenang di sofa seberang meja kerjanya. Kedua tangan leon mengepal erat. Entah untuk apa lagi bramono datang ke perusahaanya bahkan sudah duduk anteng di sofanya.
Dia lagi
Bramono tersenyum manis melihat leon yang berdiri di depan pintu ruanganya. Bramono pernah bersalah pada leon. Bramono mencelakai leon dengan menyuruh beberapa preman untuk menghadang dan memberi leon pelajaran. Dan semua yang bramono lakukan tentu saja berakibat sangat fatal. Leon harus kehilangan sebagian dari ingatanya sampai beberapa saat.
“Kamu terlihat sangat senang leon.”
Leon melengos. Ucapan bramono terdengar sangat membosankan menurutnya.
Dengan langkah cepat leon menuju meja kerjanya kemudian duduk dengan tenang di kursi kebesaranya.
“Ada apa lagi anda datang kesini?” Tanyanya enggan berbasa basi.
Bramono tersenyum. Leon memang tidak menyukainya. Tapi bramono merasa wajar karna bramono pernah membuat kesalahan fatal. Yaitu menyakiti santi dan mencelakai leon.
“Aku datang untuk memperjelas semuanya.”
Leon tertawa sinis. Leon tidak memerlukan penjelasan apapun dari bramono.
“Ini tentang alesia le.. Ibu mertua kamu. Ibu kandung alesia.”
Leon menelan ludahnya. Jika boleh meminta leon ingin meminta pada tuhan untuk merubah saja semua masa lalu ibu mertuanya. Leon ingin bramono terhapus dari masa lalu ibu le.
“Saya tidak perlu penjelasan apapun dari anda tuan.”
“Jangan munafik leon. Kamu pasti takut santi tau semuanya bukan?”
Leon berusaha untuk meredam amarahnya. Leon tau tidak ada gunanya marah pada bramono. Itu hanya akan menguras tenaga dan pikiranya saja.
“Leon, bukan aku yang melakukan itu pada le.. Tapi aku mencintainya. Aku siap menerima semuanya.”
Leon tertawa merasa lucu dengan apa yang di katakan oleh bramono.
“Anda benar benar pria yang tidak punya rasa malu tuan. Anda lupa kemarin kemarin anda masih berharap tante saya kembali? Anda bahkan sampai menanyakan tentang hubungan tante saya dan kekasihnya langsung pada saya.”
Bramono menghela napas. Niatnya masih tetap sama yaitu ingin santi kembali padanya. Tapi untuk sekarang bramono masih ingin memperjelas semuanya.
__ADS_1
“Aku memang masih ingin santi kembali leon. Aku ingin menebus semua kesalahanku di masa lalu.”
Leon menghela napas kemudian menggelengkan kepalanya.
“Tapi tentang alesia. Jujur leon, aku juga takut tante kamu semakin membenci alesia jika tau alesia adalah anak dari kekasih masa laluku. Santi mungkin juga akan mengira aku adalah ayah dari alesia.”
“Anda pikir anda pantas?” Sela leon cepat.
Bramono menelan ludahnya. Kebencian leon terlalu besar padanya.
“Jangan bercanda tuan.” Lanjut leon.
“Leon aku...”
“Saya tidak akan membiarkan anda menyakiti orang orang yang saya sayangi. Apa lagi sampai menyakiti istri saya.” Leon kembali menyela dengan kata kata tajamnya.
Bramono terdiam sesaat.
“Kamu tidak mau orang lain menyakiti istri kamu. Lalu apa kamu pikir kebohongan kamu tidak menyakiti alesia? Leon, jangan menganggap diri kamu paling benar.”
“Anda tidak berhak menghakimi saya.” Tekan leon tajam.
“Kenapa memangnya? Karna kamu orang yang sangat di sayangi santi? Karna kamu orang yang di anggap malaikat oleh alesia? Pikir leon, bagaimana kalau alesia tau tentang kebohongan kamu. Apa dia masih mau menganggap kamu sebagai malaikat penjaganya?”
Rahang leon mengeras. Leon tidak suka dengan apa yang di katakan oleh bramono.
“Diam !” Bentak leon marah.
Bramono tertawa pelan kemudian menggelengkan kepalanya.
“Baiklah. Aku kesini hanya ingin meminta pendapat kamu. Saat ini hanya kamu orang yang tau segalanya. Kamu juga adalah menantu dari le.. Wanita yang sangat aku cintai.”
“Jangan bicara tentang cinta di depan saya. Anda tidak tau apa apa tentang cinta.” Sela leon cepat.
Bramono berdecak pelan.
“Baiklah. Maaf.”
__ADS_1
Bramono memilih untuk mengalah. Leon memang sangat membencinya. Tapi saat ini orang yang ingin mereka lindungi sama yaitu alesia.
“Aku tau kamu masih pura pura lupa ingatan di depan alesia leon. Aku tidak akan mengatakan apapun tentang hal ini pada alesia. Tapi tentang siapa aku, apa alesia tau?”
“Ya. Alesia tau. Makanya alesia tidak mau dekat dengan anda. Alesia tidak mau anda menghancurkan segalanya.”
Bramono memejamkan sejenak kedua matanya. Semuanya sangat menyulitkanya.
“Lalu bagaimana seharusnya aku bersikap? Karna berlahan semuanya pasti akan jelas. Santi akan tau semuanya.”
“Itu tidak akan terjadi jika anda tidak mengacau. Menurut saya lebih baik anda pergi dan jangan dekati keluarga saya lagi. Baik itu istri saya maupun tante saya. Biarkan kami bahagia tanpa harus mengungkit tentang masa lalu menyakitkan yang anda ciptakan.”
Bramono terdiam. Bramono bukan pria bodoh yang melakukan segala sesuatu tanpa memikirkan akibatnya. Termasuk saat menyakiti santi dulu.
“Aku punya alasan leon. Sama seperti yang saat ini kamu lakukan pada alesia dengan membohonginya.”
Jeda sejenak. Bramono sadar dirinya egois. Bramono melakukan semuanya karna alasanya sendiri tanpa memikirkan perasaan orang yang di sakitinya.
“Kamu tau? Tidak semua yang kita lakukan itu bisa di terima oleh orang yang kita cintai. Apapun itu alasanya.” Lanjut bramono.
“Tapi leon.. Aku yakin kamu melakukanya untuk yang terbaik. Aku tau kamu sangat menyayangi alesia juga santi tante kamu.” Senyum bramono.
Leon melengos. Apa yang di katakan bramono memang benar. Leon punya alasan kuat membohongi istri juga tantenya.
“Kalau memang yang terbaik adalah aku pergi aku tidak keberatan. Dan kalau memang dengan aku pergi semuanya akan baik baik saja aku juga tidak keberatan. Aku yakin kamu bisa menjaga santi dan alesia dengan baik. Kamu bisa adil pada mereka berdua.”
Leon memutar jengah kedua bola matanya. Malas sekali sebenarnya mendengar ocehan bramono.
“Kalau begitu aku pergi leon. Tolong jaga alesia dengan baik. Dan kalau misalnya kamu butuh bantuanku aku selalu siap. Kamu bisa menghubungiku. Nomorku selalu aktif.”
Bramono bangkit dari duduknya. Sesaat bramono terdiam dan menatap leon yang enggan membalas menatapnya. Bramono tau dirinya sudah menorehkan luka di hati santi dan mungkin juga leon.
“Aku pergi.” Katanya.
Bramono melangkah dengan pelan menuju pintu ruangan leon. Lagi, bramono berhenti melangkah kemudian menoleh pada leon yang masih membuang muka enggan untuk menatapnya.
Kalau memang dengan aku pergi semuanya akan baik baik saja itu tidak masalah bagiku. Aku mungkin tidak akan muncul lagi di depan kalian. Tapi aku akan selalu berada di dekat kalian. Mengawasi kalian dan memastikan bahwa semuanya memang akan baik baik saja.
__ADS_1