
Sejak melihat santi dan rico bersama leon tidak pernah bisa tidak memikirkanya. Leon takut apa yang di katakan alesia saat itu benar benar terjadi. Leon takut santi dan rico sedang bersekongkol untuk memisahkanya dan alesia.
Leon menutup laptopnya. Leon tidak mau berprasangka buruk pada santi. Tapi ketidak sukaan santi pada istrinya terkadang membuat santi melakukan hal yang tidak sepatutnya. Seperti menghadirkan pingkan di antara leon dan alesia contohnya.
Apa ucapan alesia benar? Apa tante sedang berusaha memisahkan aku dan alesia?
Pikiran pikiran buruk tentang santi mulai menguasai otak dan hati leon. Leon tidak bisa memungkiri bahwa tantenya memang terkadang keterlaluan dalam bersikap pada alesia.
Tok tok tok
Leon menoleh ke arah pintu saat mendengar ketukan. Pria itu berdecak kemudian berseru menyuruh siapapun yang berada di balik pintu tersebut untuk masuk.
Laona masuk dengan langkah cepat. Wanita cantik yang tidak lain adalah sekertaris leon itu terlihat panik juga khawatir.
“Ada apa?” Tanya leon yang langsung bisa membaca ke khawatiran di wajah laona.
“Maaf pak, di bawah ada pria bernama bramono.yang ngotot ingin bertemu dengan pak leon. Kami sudah mengatakan apa yang pak leon minta tapi pria itu tidak percaya. Bahkan pria itu juga mengancam akan menghancurkan mobil pak leon jika pak leon tidak mau menemuinya.”
Leon berdecak. Entah apa lagi yang di inginkan oleh mantan suami tantenya itu.
“Baiklah. Bawa dia ke hadapan saya sekarang.” Kata leon memerintah.
“Baik pak.”
Laona segera berlalu dari ruangan leon. Tidak lupa wanita itu kembali menutup pintu ruangan bos besarnya.
Sebuah notifikasi pertanda sebuah pesan masuk ke hp leon membuat pria itu menoleh. Leon meraih benda pipih itu dan tersenyum tipis mendapat pesan singkat dari alesia yang mengatakan akan keluar berbelanja bersama mbak sari juga supirnya.
Ceklek
Leon menoleh cepat saat pintu ruanganya kembali terbuka. Leon melayangkan tatapan datarnya melihat bramono berdiri dengan santainya disana. Leon kemudian kembali meletakan hp nya di samping laptop yang berada di atas meja kerja di depanya.
“Silahkan masuk.”
Bramono menganggukan kepalanya. Pria berambut cepak itu melangkah pelan menghampiri leon yang tetap duduk tenang di kursi kebesaranya.
“Boleh saya duduk?” Tanya bramono menaikan dua alisnya menatap leon.
__ADS_1
“Tentu. Silahkan.” Angguk leon menjawab.
Bramono mendudukan dirinya di kursi tepat di seberang leon. Pria itu mengedarkan pandanganya ke seluruh sudut ruang kerja leon kemudian mengangguk pelan.
“CEO muda, tampan, juga berprestasi. Kamu membuat saya cukup bangga karna pernah menjadi bagian dari keluarga sanjaya.” Kata bramono tersenyum simpul.
Leon tetap tenang. Pria itu membalas tatapan bramono dengan tatapan datarnya.
“Maaf saya masih banyak pekerjaan. Bisa anda langsung katakan saja maksud kedatangan anda kesini?”
Bramono menyipitkan kedua matanya kemudian tertawa dan menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan leon.
“Leon kamu jangan pura pura. Saya tau kamu sudah tidak lagi lupa ingatan. Apa perlu saya mengganggu istri kamu dulu baru kamu mengaku?”
Rahang leon mengeras mendengarnya. Leon sudah baik dengan tidak mempermasalahkan apa yang bramono lakukan padanya.
“Atau santi juga belum tau kalau kamu sudah mengingatnya lagi?”
Kedua tangan leon mengepal erat sampai buku buku jarinya terlihat memutih. Entah apa lagi yang di inginkan bramono sehingga datang dan mengancamnya.
Bramono menghela nafas. Pria itu bersedekap dan menatap santai pada leon yang berusaha keras menahan tanganya agar tidak melayang ke wajah memuakan bramono.
“Begini, saya hanya ingin bertanya apa benar pria poni itu adalah calon suami santi?”
Leon mengeryit. Entah pria mana yang di maksud oleh bramono.
“Namanya rico.” Lanjut bramono.
Bayangan santi yang berdiri sejajar dengan rico di tangga eskalator kembali berputar di ingatan leon. Leon sudah berusaha menelpon santi untuk bertanya namun santi sama sekali tidak mengangkat telpon darinya.
“Memangnya kenapa? Itu bukan urusan anda lagi kan?”
Bramono berdecak.
“Tentu saja itu menjadi urusan saya. Saya mau santi kembali pada saya.”
Leon tersenyum sinis mendengarnya. Bramono dengan tidak berperasaanya dulu menyakiti santi. Bramono bahkan juga menyebabkan santi sampai masuk rumah sakit dan keguguran. Dan juga saat santi meminta cerai bramono dengan senang hati langsung menyetujuinya. Tapi sekarang bramono mengatakan ingin santi kembali padanya. Benar benar sebuah lelucon siang yang menggelikan menurut leon.
__ADS_1
“Apa kepala anda terbentur sesuatu? Atau mungkin anda sedang bercanda?" Tanya leon dengan senyuman sinisnya.
“Saya serius leon. Saya akui dulu saya memang berdosa pada santi.” Jawab bramono pelan.
“Lalu bagaimana dengan maksud anda mencelakai saya? Apa anda ingin membunuh saya?” Tanya leon lagi.
“Untuk itu saya juga mengakui saya salah leon. Maafkan saya. Saya melakukan itu karna santi yang sangat keras kepala dan tidak mau mendengarkan saya.”
Leon menggelengkan kepalanya. Bagaimana mungkin bramono bisa berbuat demikian jika hanya karna santi tidak mau mendengarkanya.
“Anda benar benar manusia egois bramono.”
Alesia menatap mbak sari dan pak supir yang sedang memasukan semua belanjaanya ke dalam bagasi mobil. Ini adalah kali pertama alesia keluar sendiri untuk belanja kebutuhan bulanan. Karna selama tinggal di kediaman sanjaya alesia sama sekali tidak pernah punya waktu. Dan lagi, semuanya di atur oleh santi sehingga alesia juga merasa malas untuk ikut campur.
“Mbak sari, pak No, Kalian lapar nggak?” Tanya alesia setelah mbak sari dan supirnya selesai memasukan semua barang belanjaanya.
“Ya nyonya.” Jawab mbak sari mengangguk.
“Kalau begitu sebelum pulang kita makan dulu yah. Saya lupa lapar banget.” Ajak alesia.
Mbak sari dan supir yang akrab di sapa pak no itu menganggukan kepala setuju. Mereka kemudian masuk ke dalam mobil bermaksud untuk mencari tempat makan yang menurut alesia pas.
Pak no menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah restourant sesuai permintaan alesia. Mereka bertiga kemudian turun dan segera masuk ke dalam restourant tersebut.
“Kalian mau pesan apa?” Tanya alesia membuka buku menu.
Mbak sari dan pak no saling menatap sesaat. Sesungguhnya mereka sangat tidak enak hati pada alesia. Mereka berdua merasa tidak pantas duduk semeja dengan alesia yang adalah nyonya nya.
“Kalian pesan aja apa yang kalian mau. Nggak papa kok. Siang ini saya traktir kalian.” Senyum alesia menatap mbak sari dan pak no bergantian.
“Saya ikut nyonya saja.” Kata mbak sari pelan.
“Saya juga nyonya.” Timpal pak no.
Alesia menghela nafas dan menggelengkan kepala dengan senyuman tipis di bibirnya. Dulu alesia juga pernah merasakan apa yang saat ini mereka rasakan. Alesia pernah di ajak makan siang bersama seorang yang kaya raya sewaktu masih SMP. Saat itu orang kaya raya tersebut sedang berkunjung dan memberikan bantuan di panti asuhan tempat alesia tinggal. Dan orang itu mengajak bunda yati dan alesia untuk makan siang bersama di sebuah restourant yang cukup mahal. Namun sayang sampai sekarang alesia tidak tau siapa nama orang kaya berhati baik itu.
“Baiklah kalau begitu.”
__ADS_1