Sebuah Rasa

Sebuah Rasa
Seperti menunggu bom yang akan meledak


__ADS_3

Alesia menatap Leon yang sedang melahap makan malamnya. Alesia masih penasaran apakah memang Leon tidak mengingat siapa bramono atau memang tau tapi tidak mau memberitahu.


“Kamu kenapa sih natap aku gituh banget? Ada yang salah sama aku? Atau kamu mau ngomong sesuatu?”


Alesia menghela napas. Entah kenapa alesia selalu merasa Leon tidak sepenuhnya jujur padanya.


“Sayang...”


Leon melepaskan garpu dan sendok yang di pegangnya kemudian meraih tangan alesia dan menggenggamnya lembut.


Alesia terdiam sesaat. Semuanya benar benar membuatnya bingung.


“Kak.. Kamu benar benar nggak ingat apapun tentang Tante?”


Genggaman tangan Leon langsung mengendur. Pertanyaan alesia pasti akan membuat Leon kembali berbohong jika tidak jujur menjawab tentang bramono dan Santi.


“Eemm.. Memangnya kenapa?” Tanya Leon kikuk.


“Ya aku cuma merasa sedikit khawatir aja.”


“Khawatir? Tentang Tante?”


“Nggak hanya tentang tante. Tapi tentang aku juga tuan bramono.”


Leon di buat bingung oleh jawaban yang di lontarkan oleh alesia.


“Seminggu yang lalu tepat hari dimana kamu demam tuan bramono datang kesini. Aku dan mbak sari menemuinya. Dan kamu tau kak apa yang dia katakan sama aku?”


Jantung leon langsung berdetak dengan sangat cepat. Leon sangat takut bramono mengatakan sesuatu pada alesia.


“Apa?”


“Tuan bramono bilang dia pernah menikah dengan tante. Dia juga menyuruh agar aku memanggilnya dengan sebutan om.”


Leon meraih segelas air putih yang ada di samping piring berisi separuh makananya kemudian menenggaknya sampai tinggal separuh.


“Kak.. coba kamu ingat ingat semuanya.” Pinta Alesia.

__ADS_1


Leon bingung harus mengatakan apa saat ini. Kekhawatiran alesia sama seperti ke khawatirannya. Hanya saja pikiran alesia tidak sampai pada santi yang akan semakin membencinya jika tau bramono pernah memiliki hubungan dengan ibunya.


“Aku akan berusaha mengingat semuanya Ale..”


Hanya itu yang bisa Leon katakan. Leon tidak mau menambah lagi kebohonganya pada alesia.


Alesia diam. Entahlah, alesia merasa Leon tidak mengatakan yang sebenarnya.


“Sudah.. Tidak usah terlalu di pikirkan. Kamu makan yang banyak yah biar Dede bayinya sehat.” Senyum Leon berusaha tenang.


Bramono, apa tujuanmu mengatakan itu pada istriku.


“Tapi kak.. Aku penasaran kenapa tuan bramono dan tante sampai berpisah. Apa tuan bramono menyakiti tante? Atau sebaliknya? Tante yang menyakiti tuan bramono.”


Leon tidak bisa menjawab satupun pertanyaan


yang di lontarkan oleh alesia. Semuanya terlalu sulit untuk di jelaskan meskipun Leon sudah mempunyai jawaban.


“Tapi tante terlihat sangat tidak menyukai tuan bramono. Tante bahkan sampai meminta tolong pada Rico agar Rico mau berpura pura menjadi pasangannya di depan bramono. Apa itu artinya tuan bramono yang menyakiti tante?”


Leon menggelengkan pelan kepalanya. Pikiran istrinya terlalu jauh dan panjang dalam menyikapi sesuatu. Leon benar benar tidak tau harus bagaimana dan mengatakan apa sekarang.


“Bisa jadi..” Jawab Leon lirih.


Alesia menghela napas. Kalau memang benar bramono yang menyakiti santi besar kemungkinan Santi akan membencinya jika tau bahwa bramono adalah bagian dari masa lalu ibunya.


Nggak, tante nggak boleh tau apapun tentang ibu.. Tante nggak boleh tau..


Leon menghela napas. Tangannya kembali menggenggam tangan alesia yang diam dengan berbagai pemikiran tentang santi dan bramono.


“Sudah yah.. Nggak usah mikirin sesuatu yang tidak penting. Kesehatan kamu yang paling utama sayang.” kata Leon lembut.


“Nggak penting kakak bilang? ini itu penting banget buat aku kak.. Tante akan membenciku kalau tau aku adalah anak dari wanita yang pernah dekat dengan tuan bramono. Bahkan mungkin tante akan beranggapan tuan bramono adalah ayahku. Dan bukan tidak mungkin juga tante akan menganggap ibuku wanita yang tidak benar. Seperti dia menilaiku karna profesiku dulu.”


“Alesia.. Tapi itu semua sudah berlalu. Perpisahan tante dan bramono tidak ada hubungannya dengan ibu.. Dan tante nggak punya alasan untuk menyeret kamu dalam masalah itu.”


“Kak kamu nggak ngerti.. Aku tu pengin banget bisa dekat sama tante. Aku pengin tante bisa sayang sama aku seperti tante menyayangi kamu.. Aku pengin banget kompak kaya tante dan pingkan dulu.”

__ADS_1


Ya tuhan.. Keinginanya sama dengan keinginanku..


“Aku tau Ale.. Tapi semua itu ada prosesnya..”


“Sampai kapan? Dari dulu tante nggak pernah mau nerima aku kak. Dia selalu memusuhi aku. Dan sekarang setelah tante mulai baik tuan bramono muncul dengan dua status yaitu mantan suami tante dan orang yang pernah dekat dengan ibuku.. Ini akan sangat tidak baik kak untuk aku dan tante.”


Leon menghela napas. Apa yang di takutkan alesia adalah apa yang Leon takutkan juga. Santi memang mungkin akan membenci alesia lagi jika tau kedekatan bramono dan ibu le dulu.


“Alesia, semuanya akan baik baik saja. Tante tidak akan membenci kamu lagi. Tante sayang sama kamu. Dan tante juga perduli sama kamu.”


“Nggak kak.. Kali ini aku nggak bisa percaya sama kamu. Semuanya sudah jelas. Tante pasti akan semakin membenci aku kalau tau semuanya.”


Kedua mata alesia berkaca kaca saat menatap Leon. Alesia benar benar tidak akan bisa tenang.


“Kalau begitu jangan biarkan tante tau.. Dengan begitu semuanya akan baik baik saja.”


Air mata alesia menetes namun alesia dengan cepat mengusapnya.


“Itu sama saja kita menyembunyikan bangkai kak yang sewaktu-waktu pasti akan tercium juga oleh tante.”


Leon menelan ludahnya. Entah kenapa sekarang Leon sangat pandai berbohong. Leon bahkan menyuruh agar Alesia tidak memberitahu tantenya tentang semua kebenaran itu.


“Lalu apa yang harus kita lakukan?” Tanya Leon yang sudah tidak bisa lagi berpikir panjang.


“Aku juga tidak tau kak. Rasanya seperti aku sedang menunggu detik detik bom yang akan meledak dan menghancurkan semuanya.”


Leon merasakan sesak di dadanya. Apa yang alesia katakan seperti sebuah sindiran untuknya. Leon juga seolah sedang menanti detik detik meledaknya bom yang akan menghancurkan semuanya juga memporak porandakan hatinya dan cintanya.


Kenapa rasanya sesak sekali? Apa mungkin alesia juga akan membenciku jika tau semuanya? Apa alesia akan menjauh meninggalkan aku jika tau aku membohonginya selama ini?


Alesia menarik napasnya dalam dalam kemudian menghembuskanya pelan. Alesia tidak akan bisa menghindar jika semuanya terbuka. Santi sudah pasti akan kembali membencinya bahkan mungkin akan semakin dalam membencinya.


“Kak.. Apa kamu juga sangat membenci tuan bramono dulu?”


Leon menggelengkan kepalanya tanpa berkata apa apa. Leon enggan menjawab karna enggan terus terusan menambahkan kekuatan besar pada bom yang pasti akan meledak suatu waktu nanti. Entah kapan itu Leon tidak bisa memprediksinya. Tapi Leon tau bom itu pasti akan menghancurkan semuanya.


Leon meraih satu lagi tangan alesia sehingga kedua tangan alesia kini berada di genggaman lembut tangan besarnya.

__ADS_1


“Apapun yang terjadi nanti. Dan apapun yang akan kamu tau nanti kamu harus percaya satu hal Ale.. Aku sangat mencintai kamu, Aku sangat menyayangi kamu.”


__ADS_2