Sebuah Rasa

Sebuah Rasa
Memulai misi


__ADS_3

“Cari tau siapa saja yang pernah dekat dengan ibu le.. Setelah itu segera kasih tau saya.”


“Saya tunggu sampai besok.” Kata leon lagi.


Leon menutup sambungan telponya setelah itu. Pria itu menghela napas dan meletakan hp nya di samping laptop nya yang terus menyala.


Leon tidak bisa diam saja. Mimpinya tentang ibu le membuat hatinya tergerak untuk mencari tahu siapa sebenarnya ayah kandung alesia. Mungkin bunda yati akan protes atau bahkan marah. Tapi alesia adalah istrinya. Alesia pasti akan sangat bahagia jika mengetahui siapa ayah kandungnya.


“Pria yang pernah aku temui jauh sebelum aku mengenal alesia.. Siapa?”


Leon mencoba mengingat ingat. Banyak pria yang leon kenal dari kecil. Dan satupun tidak ada yang leon yakini adalah ayah alesia.


“Le bilang nama alesia yang akan mempertemukan alesia dengan ayah kandungnya.”


Leon teringat dengan ucapan bunda yati. Itu artinya ayah alesia akan langsung bisa mengenali alesia hanya dengan namanya saja. Tapi leon merasa ragu. Nama alesia pasti banyak di miliki oleh wanita di luar sana.


“Tapi ibu le hanya milik alesia.. Yah.. Hanya alesia yang memiliki ibu le..” Gumam leon mengangguk anggukan kepalanya.


 -----


Alesia berdecak. Rasa jenuh kembali merayapi hatinya. Alesia bingung mau melakukan apa. Bersih bersih rumah sudah ada mbak sari yang melakukan. Dan semua pekerjaan rumah sudah selesai siang ini.


“Hhh.. Enaknya ngapain yah..?”


Alesia melirik hp nya. Sebentar lagi waktu makan siang tiba. Itu artinya leon akan pulang sebentar lagi. Ketika alesia hendak meraih benda pipih itu suara klakson mobil berhasil mengalihkan perhatian alesia. Alesia mengeryit.


“Kaya suara klakson mobil tante..” Gumamnya lirih.


Penasaran alesiapun bangkit dari duduknya di sofa ruang keluarga. Alesia membiarkan TV nya menyala kemudian berlalu dari ruang keluarga meninggal hp nya yang tergeletak di atas meja di ruangan luas itu.


“Pak tolong turunin semuanya yah..”


Santi memerintah pak no untuk menurunkan semua barang bawaanya seperti baby stoler dan berbagai bingkisan lainya. Santi juga tidak lupa membelikan beberapa dus susu hamil dan cemilan sehat untuk alesia.


“Ini mau di taruh dimana nyonya?” Tanya pak no.


“Eemm.. Langsung bawa masuk saja. Suruh mbak sari membereskanya ya pak.” Jawab santi.


“Baik nyonya.” Angguk pak no.


Pak no mulai membawa barang barang bawaan santi dan membawanya masuk ke dalam rumah. Saat sampai di ruang tamu pak no berpapasan dengan alesia yang hendak mengecek apakah benar santi yang datang atau bukan.

__ADS_1


“Loh ini apa?”


Alesia menatap semua barang yang di bawa pak no bingung. Alesia tidak merasa membeli apapun.


“Oh ini barang bawaan nyonya santi nyonya. Nyonya santi menyuruh saya untuk membawanya masuk untuk di bereskan sama mbak sari.”


Alesia semakin bingung. Paperbag yang di tenteng pakno tidaklah sedikit. Disamping itu di depan pintu utama juga masih terlihat banyak paperbag yang tergeletak disana.


“Saya permisi nyonya.”


“Ah iya..” Angguk alesia memberi jalan pada pak no.


Pak no kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur dimana mbak sari sedang mengerjakan pekerjaanya. Sedang alesia melanjutkan langkahnya menuju teras untuk menemui santi.


Ketika sampai di ambang pintu alesia melihat santi yang sedang membuka dus berukuran sedang dengan logo makanan di sampingan dusnya.


“Tante..”


Mendengar suara alesia santi menoleh. Wanita dengan kemeja putih dan rok span hitam itu berdecak. Santi memang sengaja datang dan membelikan semua yang di butuhkan alesia.


“Mana leon?”


Santi menyodorkan dus berukuran sedang itu pada alesia. Awalnya alesia bingung namun akhirnya menerima dus yang di sodorkan santi.


Santi mengangguk. Wanita itu kemudian menatap penampilan sederhana alesia dari atas sampai bawah. Santi tersenyum simpul ketika menatap perut alesia yang mulai sedikit membuncit.


“Itu saya bawakan puding buat kamu. Biasakan nyemil yang sehat dan bernutrisi.”


Alesia menunduk menatap dus yang bertuliskan puding mami. Senyumnya mengembang. Alesia membuka dus tersebut dan kembali tersenyum menatap 12 cup puding dengan rasa yang berbeda beda. Santi pasti sengaja datang untuknya.


“Makasih tante.”


Santi memutar jengah kedua bola matanya.


“Jangan besar kepala dulu kamu. Saya kesini juga karna ada yang mau saya tanya sama kamu.”


Alesia menghela napas dan menganggukan kepalanya. Santi memang tidak pernah mau kebaikanya di anggap oleh alesia. Sangat aneh memang. Padahal pada umumnya orang melakukan hal baik agar di pandang tapi santi tidak. Santi melakukan sesuatu yang baik dengan kedok judes dan angkuhnya.


“Ya udah kita bicarakan di dalam saja ya tante. Kebetulan aku juga pengen banget nyobain pudingnya. Kayanya enak banget.” Senyum alesia.


Santi hanya mengangguk kemudian mengikuti langkah alesia masuk ke dalam rumah. Sebelumnya santi memberikan semua catatan barang yang di bawanya pada pak no. Santi menyuruh pak no untuk mengecek semuanya dan memberitahunya jika ada barang yang kurang.

__ADS_1


Santi dan alesia duduk di meja makan dengan saling berhadapan. Alesia yang sedang menyantap puding rasa macanya sedang santi yang hanya di suguhkan segelas air putih dan cemilan ringan di depanya.


“Tentang rico. Apa dia sudah punya pacar?”


Pertanyaan santi membuat alesia terdiam. Alesia sudah tau sebenarnya tapi alesia pura pura tidak tau.


“Memangnya kenapa tante?”


Alesia bertanya balik dengan tatapan penuh tanda tanya pada santi.


Santi memejamkan kedua matanya sesaat kemudian menghela napas.


“Oke, jadi begini. Saya dan rico sedang terlibat sebuah rencana. Dan itu untuk menghindari seseorang yang sangat tidak saya suka. Rico sedang saya suruh untuk menjadi pasangan pura pura saya.”


“Lalu?”


Santi menahan napas. Entah apa tujuanya mencari tau tentang rico sudah memiliki pasangan atau belum.


“Ya saya tanya sama kamu dia sudah punya pacar apa belum? Saya nggak mau saja nanti ada yang salah mengartikan rencana saya.”


Alesia menyipitkan kedua matanya. Santi mengatakanya dengan gagap. Bahkan bola matanya bergerak gerak tidak tentu arah seperti orang yang sedang gugup.


“Begitu ya? Setau aku sih belum ya tante..”


Senyum santi mengembang. Dadanya terasa lega mendengar jawaban alesia.


“Tapi..”


“Tapi apa?” Sela santi cepat.


Alesia tersenyum penuh makna. Santi tampak sangat tidak sabar ingin mendengar lanjutan dari kata yang memang sengaja alesia gantung.


“Tapi yang naksir rico itu banyak loh tante. Model model juga banyak yang berusaha menarik perhatian dia.” Lanjut alesia.


Santi berdecak. Wanita itu menyambar segelas air putih yang ada di depanya kemudian menenggaknya sampai habis. Kesal santi rasakan saat ini. Padahal santi sudah merasa lega saat alesia mengatakan rico belum punya pacar alias jomblo.


Santi bangkit dari duduknya kemudian berlalu begitu saja meninggalkan alesia yang kembali menyantap pudingnya.


“Loh loh.. Tante. Tante mau kemana?!” Seru alesia.


“Pulang !!” Jawab santi galak.

__ADS_1


Alesia mengerjapkan beberapa kali kedua matanya kemudian tersenyum geli. Santi seperti wanita yang sedang cemburu.


Maaf ya tante.. Aku kerjain dikit. Hehe...


__ADS_2