Sebuah Rasa

Sebuah Rasa
Ingin terus melindungi.


__ADS_3

Seminggu berlalu.


Semenjak obrolanya dengan bunda yati leon terus merasa tidak tega setiap kali menatap wajah cantik alesia. Wajah cantik yang sekilas mirip dengan wajah ibu le saat mengenakan seragam SMP.


Ingatan leon tiba tiba tertuju pada paket berisi 2 setel baju bayi yang mengatasnamakan alesia.


Apa itu dari ayahnya alesia?


Leon tampak berpikir sesaat namun kemudian menampik dugaanya itu. Siapapun pria itu pasti tidak akan mudah mengenali alesia karna ibu le sudah tidak ada.


Tenang leon.. Kamu harus tenang. Selama kamu ada dan terus melindungi alesia, alesia pasti akan aman..


Leon kemudian menghela napas. Tentang siapa ayah alesia leon sangat ingin tau. Tapi leon merasa semuanya tidak akan mudah. Kejadian itu sudah bertahun tahun lamanya. Ayah alesia masih hidup pun sangat kecil kemungkinanya.


Alesia masuk ke dalam ruang kerja suaminya dengan membawakan secangkir teh hangat. Alesia tersenyum menatap leon yang tampak sedang memikirkan sesuatu. Leon duduk diam di kursi kebesaranya dengan tatapan terus lurus ke arah laptop yang ada di depanya.


“Pusing banget ya kak?”


Leon tidak bergeming. Pria tampan itu itu juga sepertinya tidak mendengar pertanyaan yang di lontarkan alesia. Mungkin juga tidak menyadari kehadiran alesia yang sudah berdiri di depan meja kerjanya.


“Kakak..”


Alesia kembali memanggil leon untuk menarik perhatianya. Tapi leon tetap diam dan fokus menatap laptop di depanya. Meskipun memang sebenarnya pikiran leon tidak sama sekali tertuju pada apa yang ada di depanya. Tetapi pada masa lalu kedua orang tua istrinya. Yaitu ibu le dan pria yang menghilang setelah menodainya.


Hhh.. Ya tuhan kakak.. Kalo udah kerja lupa segalanya..


Alesia menggelengkan kepalanya. Dengan pelan di letakanya secangkir teh hangat yang di bawanya di atas meja. Alesia kemudian berjalan mengendap endap mendekati leon. Alesia terkikik geli membayangkan suaminya yang pasti akan terkejut jika alesia mengedornya.


Namun saat alesia sudah berada tepat di belakang leon juga sudah mengangkat kedua tanganya tiba tiba deringan hp dalam saku dress selutut berwarna coklat susunya membuat leon tersadar.


Leon langsung menolehkan kepalanya dan mengeryit mendapati alesia yang mengangkat tinggi kedua tanganya seolah akan menerkamnya.


“Kamu sejak kapan ada disini? Terus itu tanganya kenapa?” Tanya leon bingung.


Alesia meringis. Niatnya untuk mengejutkan leon gagal karna bunyi hp di saku dressnya.


“Ah, enggak. Nggak papa..”


Leon menyipitkan kedua matanya. Entah sejak kapan alesia masuk dan tiba tiba sudah berada di belakangnya leon benar benar tidak tau.


Sedangkan alesia segera menurunkan kedua tanganya. Alesia kemudian merogoh saku dressnya dan meraih hp nya yang terus saja berdering dengan begitu nyaring.


Harusnya tadi aku silent dulu nih hp


Alesia tidak langsung menerima telpon tersebut. Santi menelponya. Dan alesia sudah bisa menebak jika wanita itu pasti akan marah marah padanya karna siang tadi tidak mengirimkan alamat panti asuhan.


“Siapa yang nelpon? Kok nggak di angkat?” Tanya leon dengan wajah penasaran.


“Tante..”


Jawaban alesia membuat leon mengangkat sebelah alisnya bingung. Santi pernah menelponya tapi tidak leon angkat karna saat itu leon sedang metting. Dan santi menelponya saat itu karna sangat khawatir pada alesia. Tapi sekarang santi menelpon alesia bukan leon.

__ADS_1


“Emangnya tante sering nelpon kamu?”


“Eemm.. Lumayan sih. Tadi pagi juga nelpon pas aku lagi jalan ke panti.”


Leon menganggukan kepalanya mengerti.


“Boleh aku yang angkat?”


Alesia langsung menyodorkan hp nya pada leon. Alesia juga sebenarnya enggan mengangkat telpon dari santi karna pasti santi akan marah marah padanya.


Leon menerima hp alesia dan langsung mengangkat telpon dari santi.


“Kamu budeg tau tuli hah?!”


Leon langsung menjauhkan hp alesia dari telinganya. Pria tampan itu meringis sambil mengusap usap telinganya yang langsung terasa berdenging karna teriakan galak santi dari seberang telpon.


Ya tuhan.. Telingaku..


Alesia yang melihatnya ikut meringis. Sudah bisa di pastikan santi pasti berteriak marah dan menganggap alesia yang mengangkat telpon darinya.


Untung bukan aku yang angkat..


Leon tersenyum tipis pada alesia. Leon baru tau jika santi bahkan selalu berteriak pada alesia lewat telpon.


“Kakak nggak papa?” Tanya alesia menatap leon dengan ringisan seakan ikut merasakan telinganya berdenging.


“Nggak sayang. Aku nggak papa..” Geleng leon menjawab.


“Oh.. Oke..” Angguk alesia yang tau leon sedang berbohong.


“Sebentar yah..”


Leon menghela napas sebelum menempelkan kembali hp milik alesia ke telinganya.


“Alesia !!”


Leon refleks melempar hp alesia hingga terlempar dan membentur pintu ruang kerjanya. Dan lemparan itu cukup jauh sampai membuat hp alesia hancur di bagian layarnya.


“Ya tuhan..”


Leon memegangi telinganya. Teriakan santi benar benar sangat kencang dan membuatnya kaget. Leon bahkan tanpa sadar sampai melempar hp alesia.


“Yah.. Hp aku..”


Leon menoleh pada alesia yang menatap sendu hp nya yang sudah hancur.


“Ale.. Maaf.. Aku nggak sengaja..”


Alesia mengarahkan pandanganya pada leon. Mungkin di seberang telpon santi kembali berteriak sehingga membuat leon terkejut dan refleks melempat hp milik alesia.


“Tante marah marah ya kak?” Tanya alesia sendu.

__ADS_1


Leon menelan ludahnya. Selama ini alesia tidak pernah mengadukan apapun tentang santi padanya. Tapi akhir akhir ini berlahan leon tau sendiri. Dan leon merasa harus kembali berbicara pada santi. Berteriak terlaku kencang lewat telpon juga bisa mengakibatkan telinga berdenging bahkan sampai terasa sakit seperti yang saat ini leon rasakan.


“Sini..”


Leon menepuk pelan pahanya menyuruh agar alesia duduk di pangkuanya. Dan alesia langsung menurutinya.


“Maafin semua yang pernah tante lakukan sama kamu yah.. Maaf juga karna selama ini aku kurang peka..” Kata leon.


Alesia tersenyum mendengarnya. Apapun yang pernah santi lakukan padanya alesia tidak pernah merasa benci. Kesal mungkin iya. Tapi membenci, itu hanya akan membuat hati alesia berpenyakit.


Alesia menganggukan kepalanya.


“Aku bisa maklum kak..”


Leon ikut tersenyum. Hati alesia memang begitu baik.


“Aku janji akan terus melindungi kamu. Dari siapapun dan dari apapun.”


“Iyaa.. Aku percaya kak.” Balas alesia kemudian memeluk kedua bahu tegap leon erat.


Leon membalas pelukan erat alesia. Leon benar benar merasa berdosa pada alesia. Selama ini leon tidak pernah bisa membela alesia di depan santi. Leon hanya bisa menyuruh alesia sabar dan mengerti.


Apapun caranya ale.. Aku akan terus melindungi kamu. Aku akan terus berada di samping kamu.


_____


“Nggak usah teriak teriak dong tante. Kasihan alesia pengang denger suara teriakan tante.”


“Diam kamu.” Kesal santi menyela ucapan rico.


Santi berdecak kemudian segera memasukan kembali hp nya ke dalam tas kecilnya. Santi merasa kesal karna alesia langsung menutup telponya tanpa mengatakan apapun. Dan santi lebih merasa kesal lagi karna rico bahkan membela alesia.


“Saya kan cuma ngingetin tante. Suara tante itu jelek. Jadi nggak usah teriak teriak.” Kata rico lagi.


Santi menoleh dan mendelik pada rico yang terus menatap lurus ke depan.


“Kamu menghina saya?”


Rico mengeryit kemudian menoleh membalas tatapan kesal santi.


“Ya bukan, bukan begitu maksud saya tante. Tapi apa yang tante lakukan itu salah. Tante teriak teriak di telpon nanti kalau tiba tiba alesia jantungan terus kaget dan langsung mati gimana? Tante mau di laporin ke polisi? Tante mau di penjara?”


Dada santi kembang kempis semakin merasa kesal karna ucapan berlebihan rico. Alesia tidak mungkin mati hanya karna santi berteriak padanya.


“Kamu nyebelin !” Teriak santi kesal.


Santi kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan cepat meninggalkan rico sendiri di taman.


“Yah yah.. Aku di tinggalin. Gimana pulangnya nih.”


Rico menatap ngenes punggung santi yang menjauh darinya. Rico memang tidak membawa motornya dan menitipkanya pada satpam di depan gedung perusahaan santi. Dan semua itu karna santi yang meminta untuk rico mengemudikan mobilnya.

__ADS_1


“Hhh.. Dasar nenek nenek. Bisanya marah marah nggak jelas. Di ingetin juga.”


__ADS_2