
“Kamu ngapain nyusul saya ke rumah alesia sama leon?”
Sepanjang perjalanan dari rumah leon dan alesia santi terus saja marah marah pada rico. Entah apa sebabnya. Padahal santi sendiri yang memberi pesan pada rico lewat bi inah bahwa dirinya sedang berada di rumah alesia. Dan sepemahaman rico pesan tersebut menyiratkan agar rico menyusulnya bukan menunggunya di rumah.
“Bi inah bilang tante ada disitu.” Kata rico malas.
“Kan kamu bisa telpon atau mengirim pesan sama saya. Memangnya kamu nggak punya pulsa? Atau hp kamu rusak?”
Rico menghela nafas merasa jengah. Jelas jelas santi yang membutuhkanya. Santi yang menyuruhnya untuk datang. Tapi santi juga yang terus memarahinya. Seharusnya rico yang marah karna rico terpaksa harus membatalkan pertemuanya dengan salah satu client nya. Tapi rico tau santi tidak mau di salahkan. Santi selalu ingin benar sendiri.
“Lowbet.” Jawab rico asal.
Santi berdecak sebal. Rico sama seperti alesia. Sama sama membuatnya selalu terpancing emosi.
“Kamu memang cocok sama alesia. Sama sama membuat orang muak.”
Rico memejamkan kedua matanya. Meladeni santi hanya akan membuatnya kesal sendiri.
Sabar rico.. Sabar.. Anggap saja apa yang di ucapkanya adalah angin lalu. Abaikan saja.
Sekitar 20 menit mobil santi sampai di depan sebuah caffe yang tidak pernah rico kunjungi sebelumnya.
“Kamu tunggu disini aja. Saya mau ada urusan sebentar.” Kata santi kemudian turun dari mobilnya meninggalkan rico di dalam mobil.
Rico menghela nafas. Entah apa yang di inginkan santi sebenarnya. Rico sendiri benar benar bingung. Rico ingin tidak perduli tapi tidak bisa. Rico juga ingin menolak tapi rasanya berat.
Ingat rico, demi alesia. Bukan yang lain.
Rico menunggu dan terus menunggu sampai setengah jam kemudian santi baru kembali dan rico tertidur di kursi belakang mobil santi.
“Loh, dia kemana?”
Santi terkejut ketika mendapati rico tidak ada di tempatnya semula. Padahal santi sudah menyuruhnya untuk menunggu. Tapi begitu santi kembali rico sudah tidak lagi di tempatnya.
“Dasar bocah sialan.” Dumel santi.
“Saya disini tante. Ngantuk tau nggak nungguin tante lama banget.”
Dengan wajah kesal rico kembali berpindah ke kursi depan di samping kursi kemudi yang di duduki santi. Rico menguap dan menutup mulutnya menggunakan punggung tangan kananya.
__ADS_1
“Kita mau kemana sih sebenarnya?” Tanya rico malas.
Santi melirik rico. Wanita itu memutar jengah kedua bola matanya. Santi memang sengaja mengajak rico saat keluar. Santi takut jika tiba tiba bramono datang dan mengganggunya lagi.
Sesaat santi terdiam. Rasanya memang aneh. Rico datang dengan membawa motor lalu kemudian ikut pergi denganya menggunakan mobil santi. Rico bahkan selalu duduk anteng di kursi samping kemudi sedang santi mengemudikan mobil layaknya seorang supir.
“Rico.” Panggil santi judes.
“Hmm..”
Rico malas sekali sebenarnya. Tapi rico sudah terlanjur setuju dengan rencana santi.
“Kamu kenapa kemana mana bawa motor?”
Pertanyaan santi membuat rico menoleh. Rico merasa aneh dengan pertanyaan wanita yang jauh lebih tua darinya itu. Meskipun memang rico tidak menampik bahwa santi memang cantik dan awet muda.
“Memangnya kenapa? Ada yang salah kalau saya kemana mana bawa motor?” Tanya balik rico.
Santi berdecak. Santi paling tidak suka jika bertanya tidak di jawab namun malah yang di tanya balik bertanya padanya.
“Dengar ya. Bramono itu orang kaya. Dia pengusaha yang memiliki segalanya.”
“Terus apa hubunganya sama saya?” Tanya rico lagi.
“Ya kan bramono taunya kamu calon suami saya. Dan calon suami saya itu harus lebih segalanya dari bramono.”
“Lalu?”
Rico menatap santi.
Rico tau apa yang di maksud oleh wanita di sampingnya. Dan rico merasa sandiwaranya tidak harus membuatnya memaksakan keadaan. Jika memang bramono lebih segalanya dari dirinya rico tidak perduli. Rico juga tidak ingin menyaingi. Rico hanya ingin menjadi dirinya sendiri. Baik di depan santi, bramono, bahkan di depan semua pasang mata di dunia tempatnya berpijak.
“Ya kamu harus lebih segalanya dari dia. Kamu..”
“Tante.” Sela rico membuat santi berhenti berkata.
“Saya melakukan semua ini bukan karna saya perduli sama tante. Saya cuma tidak mau merusak kebahagiaan alesia. Dan asal tante tau ya, mau si bramono itu kaya raya atau bahkan dia sultan sekalipun saya tidak perduli. Saya hanya seorang photographer tante. Saya bukan orang kaya. Dan jujur saya tidak punya apa yang bramono punya. Jika tante memang mau menerima saya begini kita lanjutkan sandiwara ini. Tapi jika tante tidak bisa menerima saya dan menuntut saya untuk bisa lebih dari bramono, maaf. Saya dengan senang hati berhenti sampai disini.” Kata rico panjang lebar.
Santi terdiam. Apa yang di katakan rico benar benar masuk ke dalam relung hatinya. Dan santi merasa tidak enak hati pada rico yang sepertinya tersinggung dengan apa yang dia ucapkan.
__ADS_1
“Saya orang tidak punya tante. Saya punya ibu dan seorang adik yang perlu saya biayai. Dan saya juga tidak punya banyak waktu untuk hal hal yang nggak jelas seperti ini.” Lanjut rico.
Rico kemudian membuka pintu mobil santi dengan wajah kesalnya. Santi menuntut apa yang tidak seharusnya. Dan itu benar benar sudah melenceng dari perjanjian awal rico mau mengikuti kemauan santi.
“Kamu mau kemana?” Tanya santi melihat rico turun dari mobilnya.
“Pulang.” Jawab rico singkat.
BRAKK !!
Santi memejamkan kedua matanya mendengar bunyi keras pintu mobil yang di tutup dengan sangat keras oleh rico. Dan santi tau rico benar benar marah padanya kali ini.
Ya tuhan.. Apa yang aku lakukan?
Leon bangkit dari berbaringnya setelah alesia terlelap. Leon terpaksa harus mengundur janji temunya dengan seorang client karna alesia yang tidak mau di tinggal dan ingin terus di temani siang ini.
Pelan pelan leon turun dari ranjang. Pria tampan dengan kemeja putih tulang itu kemudian melangkah menuju balkon kamarnya. Sembari melangkah leon melipat lengan kemejanya sampai batas siku.
Sesampainya di balkon leon tersenyum saat merasakan semilir angin yang menerpa lembut wajah tampanya. Rasanya begitu sejuk dan membuat leon nyaman.
Leon melangkah pelan ke tepi balkon. Pria tampan itu berdiri dengan menumpukan kedua telapak tanganya di railing balkon yang terbuat dari besi dengan model simpel namun elegan.
Leon mengedarkan pandanganya keseluruh halaman luas rumahnya. Senyum di bibir tipisnya mengembang. Dari dulu seharusnya leon menempati rumah itu bersama alesia.
Saat sedang menikmati pemandangan di bawahnya tiba tiba sebuah motor gede berwarna merah menarik perhatian leon.
Itu motor siapa?
Leon menyipitkan kedua matanya. Tidak mungkin rasanya jika motor itu milik satpam yang bekerja di rumahnya. Penasaran rico pun langsung merogoh saku celana abu abunya dan menghubungi satpam yang bertugas memantau keamanan di sekitar rumahnya.
“Halo tuan..”
“Motor merah di depan pos kamu itu milik siapa?” Tanya leon enggan berbasa basi.
“Oh ini.. Ini motornya temanya nyonya tuan.”
Leon mengangkat sebelah alisnya. Alesia tidak mengatakan apapun padanya.
“Nyonya?”
__ADS_1
“Iya tuan. Nyonya santi.”