Sebuah Rasa

Sebuah Rasa
Tanda maaf dari santi


__ADS_3

Santi terus memikirkan apa yang di katakan oleh rico. Santi sadar apa yang di katakanya pada rico memang salah. Seharusnya santi tidak menuntut apapun pada rico. Karna dengan rico mau bersandiwara untuknya saja santi sudah tertolong.


“Pasti rico marah banget sama aku..” Gumam santi sambil menggigiti kuku jari tengah nya.


Santi benar benar tidak bisa melupakan wajah kesal rico kemarin. Apa lagi ucapan rico yang mengatakan bahwa rico masih harus membiayai ibu dan adiknya. Santi bukan orang bodoh. Dari situ santi bisa memahami bahwa rico adalah tulang punggung bagi keluarganya.


“Telpon.. Yah.. aku harus telpon dia sekarang.”


Santi langsung melangkah menuju nakas di samping tempat tidurnya. Santi benar benar tidak bisa tenang sebelum mendengar suara rico pagi ini. Apa lagi setelah ini santi harus bertemu dengan rekan bisnisnya. Santi tidak mau semuanya kacau karna dirinya yang tidak bisa berkonsentrasi karna terus memikirkan rico.


Santi menempelkan hpnya ke telinga kananya mendengarkan sambungan telponya yang tidak langsung di angkat oleh rico. 1 sampai 3 kali santi menelpon namun rico tetap tidak mengangkatnya.


Ya tuhan.. Apa yang aku katakan kemarin siang sangat menyakitinya? Apa aku tanpa sadar sudah menghinanya?


Santi menghela nafas. Wajahnya tampak sangat tidak bersemangat pagi ini. Dan semua itu karna satu orang. Yaitu rico.


“Apa yang harus aku lakukan sekarang? Bagaimana kalau tiba tiba rico menjauhiku? Bagaimana kalau rico tidak mau lagi menjadi pasangan pura puraku di depan bramono?”


Santi terus memikirkan rico. Bahkan bayangan wajah tampan pria berponi itu selalu terbayang di kedua mata santi. Rico benar benar berhasil mengacaukan pikiran santi pagi ini.


Santi mendudukan dirinya di atas ranjang. Wanita itu mencoba memutar otak agar rico tidak marah lagi padanya.


“Apa aku harus meminta maaf?” Gumamnya bertanya pada dirinya sendiri.


“Tapi kan aku nggak buat salah.. Aku hanya..”


Ucapan santi menggantung. Santi tidak bisa menampik bahwa dirinya memang sudah membuat rico tersinggung. Santi menuntut rico untuk bisa lebih segalanya dari mantan suaminya.


“Hhh.. Sudahlah. Nanti saja aku temui dia..”


Santi kemudian meraih tas jinjingnya. Kebetulan hari ini santi akan kembali menjalankan bisnisnya yang selama ini santi percayakan pada tangan kananya. Tapi sekarang santi merasa harus kembali menangani semuanya sendiri.


Semangat santi. Hari ini kamu harus kembali melakukan semuanya sendiri.


Santi berjalan keluar dari kamarnya. Wanita dengan setelan jas pink itu melangkah dengan begitu elegan. Santi menuruni satu persatu anak tangga menuju lantai 1 untuk lebih dulu sarapan pagi sebelum memulai semua aktivitasnya hari ini.


“Pagi nyonya..” Sapa bi inah yang baru saja selesai menata makanan di atas meja.


”Ya inah. Pagi.” Balas santi tersenyum.

__ADS_1


Santi menatap sarapan paginya. Melakukan semuanya seorang diri memang tidak mudah. Santi merasa kesepian juga jenuh. Tapi sekarang semuanya sudah berubah. Leon sudah memiliki kehidupan dan rumah sendiri bersama alesia. Leon juga sudah tidak bisa lagi santi atur seenaknya. Leon sudah dewasa dan menjadi seorang kepala keluarga.


“Kenapa nyonya? Sarapanya mau di ganti?” Tanya bi inah ragu.


Santi mengalihkan pandanganya pada bi inah yang ada di seberangnya. Sesaat santi terdiam.


“Nggak perlu.” Jawabnya.


Bi inah mengangguk.


“Kalau begitu saya permisi ke belakang nyonya.”


“Ya..”


Santi mendudukan dirinya di kursi paling ujung. Kursi yang biasanya di duduki oleh leon. Santi menghela nafas lagi.


Kamu bisa santi. Kamu bisa melakukan semuanya sendiri.


 -----


Dalam perjalanan menuju perusahaan leon terus memikirkan paket misterius yang mengatas namakan alesia tadi. Yang membuat terkejut adalah isinya. Alesia memang tidak mungkin membeli baju bayi saat ini. Usia kandunganya masih 4 bulan. Jenis kelaminya pun belum leon dan alesia ketahui. Dan jika memang alesia yang membeli, alesia pasti akan meminta pendapatnya. Atau bahkan mungkin alesia akan merengek manja pada leon meminta di belikan.


“Tapi.. Rasanya tidak mungkin. Tante tidak mungkin mengirimkan sesuatu dengan nama alesia.” Lanjut leon lagi.


Leon berdecak. Isi paket itu memang tidak ada yang aneh atau mencurigakan. Tapi paket atas nama istrinya itu sangat membuat leon penasaran. Kalau memang si pengirim berniat jahat pasti ada pesan atau ancaman di dalamnya. Tapi dalam paket itu tidak ada apapun selain 2 setel baju bayi lengkap dengan sepatunya. Itu yang membuat leon merasa sangat janggal.


”Bramono.. Tapi apa mungkin..”


Leon menghentikan mobilnya saat lampu merah menyala. Pria itu menghela nafas. Leon tidak menyangka jika semuanya menjadi berbuntut panjang. Di tambah sekarang dirinya sudah tidak tinggal seatap dengan santi sehingga membuat leon merasa sandiwaranya mulai sia sia. Tapi jujur pun tidak menjamin alesia tidak kecewa.


 ----


Cekrek cekrek


Rico terus memotret modelnya dengan sangat fokus. Pria itu sesekali menurunkan kameranya dan mengarahkan pada si model untuk berganti gaya.


“Oke bagus.” Angguknya pada model cantik berbaju sexy di seberangnya.


“Istirahat dulu yah..” Kata rico.

__ADS_1


Wanita cantik berambut kriting dengan penampilan super minimnya itu tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.


“Oke.” Balasnya setuju.


Rico menghela nafas. Pria tampan berponi itu tiba tiba teringat pada sosok cantik yang sudah sangat lama di kaguminya. Yaitu alesia. Rico sangat menyesal karna semalam tidak lebih dulu menemui alesia saat mengambil motornya di pos satpam.


“Harusnya aku mampir dulu semalem.” Gumamnya tersenyum miris.


Rico memejamkan kedua matanya sesaat. Seharusnya rico tidak memiliki rasa itu untuk alesia. Alesia sudah bersuami. Alesia sudah menjadi milik pengusaha kaya raya.


“Bang ada yang nyariin tuh.”


Tepukan di pundak kiri rico membuat rico tersentak. Pikiranya tentang alesia langsung buyar seketika. Rico membuka kedua matanya kemudian menoleh ke samping kirinya.


“Siapa?”


Pandangan rico langsung bertemu dengan santi yang sudah berdiri dengan jarak satu meter darinya. Rico menatap dari atas sampai bawah penampilan tidak biasa santi. Wanita itu mengenakan celana panjang berwarna pink lengkap dengan jasnya. Sedang untuk dalemanya santi mengenakan kemeja berwarna putih bersih. Sangat pas untuk di pandang menurut rico.


“Saya..” Katanya.


Rico langsung melengos. Rico mengingat kembali ucapan santi padanya kemarin siang. Dan rico merasa sangat tersinggung bahkan merasa terhina.


“Ngapain tante kesini? Saya lagi kerja.”


Kedua mata santi membulat mendengarnya. Ketika hendak mengeluarkan kata kata pedasnya santi teringat akan niatnya datang menemui rico.


“Eemm.. Saya kesini bawa ini buat kamu..”


Rico melirik santi. Wanita itu tersenyum dan menyodorkan sebuah paperbag berukuran sedang padanya.


“Maaf tante. Saya bukan pengemis. Saya bisa cari uang sendiri. Dan saya nggak butuh apapun dari tante.” Kata rico datar.


Senyum di bibir santi seketika pudar mendengar apa yang di katakan rico. Niatnya kali ini baik. Yaitu untuk meminta maaf. Dan apa yang santi sodorkan pada rico adalah tanda maafnya bukan hinaan.


Bocah ini..


Santi menghirup dalam dalam oksigen di sekitarnya. Wanita cantik itu berusaha untuk menahan emosinya. Rico sedang merajuk padanya.


“Saya kesini mau minta maaf. Saya minta maaf untuk ucapan saya kemarin. Dan ini saya letakan di meja ya.”

__ADS_1


Santi melangkah menuju meja dimana tas rico berada. Santi meletakan paperbag berukuran sedang tersebut di samping tas rico kemudian pergi dari tempat pemotretan rico tanpa menoleh lagi ke belakang.


__ADS_2